<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Roadtoruins's Blog</title>
	<atom:link href="http://roadtoruins.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://roadtoruins.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Mar 2009 01:50:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='roadtoruins.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Roadtoruins's Blog</title>
		<link>http://roadtoruins.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://roadtoruins.wordpress.com/osd.xml" title="Roadtoruins&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://roadtoruins.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pak Nana dan Pak Udjo</title>
		<link>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/23/pak-nana-dan-pak-udjo/</link>
		<comments>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/23/pak-nana-dan-pak-udjo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 01:49:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>roadtoruins</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Literature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roadtoruins.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah sedikit cerita yang saya alami ketika main ke rumah teman saya. Nama teman saya Reza Adikhara Rozanie. Saya biasa panggil dia Eja supaya tidak kepanjangan saya memanggilnya. Sebelumnya saya boncengan naik motor ke rumah Eja. Sebelumnya saya ada di kampus. Kuliah tentu saja. Mata kuliahnya kalo tidak salah Matematika Pensiun. Dosen yang tadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=54&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah sedikit cerita yang saya alami ketika main ke rumah teman saya. Nama teman saya Reza Adikhara Rozanie. Saya biasa panggil dia Eja supaya tidak kepanjangan saya memanggilnya. Sebelumnya saya boncengan naik motor ke rumah Eja.</p>
<p>Sebelumnya saya ada di kampus. Kuliah tentu saja. Mata kuliahnya kalo tidak salah Matematika Pensiun. Dosen yang tadi mengajar pun sepeertinya sudah mau pensiun. Namanya Pak Edi Johari. Seharusnya yang mengajar namanya Pak Endang. Tapi Pak Endang berhalangan, jadi untuk sementara Pak Edi menggantikannya.</p>
<p>Begitulah sekilas tentang kegiatan saya di kampus hari itu. Tidak perlu saya jelaskan secara mendetail kalau Pak Edi itu yang mukanya mirip onta, eh salah maksud saya mirip orang arab. </p>
<p>Tidak perlu jelaskan Pak Endang itu mirip Charlie Chaplin. Tidak akan saya bahas pula bagaimana pemahaman saya terhadap kuliah hari itu. Sebab kalo terlalu jauh saya takut tersesat. Saya malu kalau tersesat, saya malu untuk bertanya. Saya tahu kalau malu bertanya sesat di jalan kata guru Bahasa Indonesia saya waktu SMP.</p>
<p>Pastinya saya sudah berada di rumah Eja sekarang. Bukan sekarang tapi waktu itu. Rumah Eja yang berada di belakang Saung Udjo. Saung Udjo yang berada di Padasuka. Padasuka yang berada di dekat terminal Cicaheum. Terminal Cicaheum yang berada di Bandung, bukan yang di Etiopia. Bandung yang oleh-olehnya peuyeum bandung, bukan Etiopia yang oleh-olehnya Bakpia.</p>
<p>“Lihat itu ada perempuan cantik!”</p>
<p>Itu hati saya yang ngomong. Hati saya tidak pernah bohong. Hati saya baik hati tidak pernah membohongi majikannya. Perempuan cantik itu rambutnya sebahu. Warna rambutnya hitam sama seperti kamera yang sedang dibawanya. Kameranya bagus, sama bagusnya dengan rupa perempuan itu.</p>
<p>Pertanyaan hari itu. Siapa yang bahunya hitam?<br />
a.	Blangkon<br />
b.	Kamera<br />
c.	Kamera pake blangkon</p>
<p>Perempuan itu berlalu dari depan muka saya. Sesaat dia curi-curi pandang ke arah saya. Saya sudah sejak tadi curi-curi pandang ke arah dia. Dia curi hati saya. Saya balas curi hatinya. Kami sama-sama pencuri. Kami cocok saya rasa.</p>
<p>Eja sudah masuk ke dalam rumah. Saya ikut masuk. Di dalam rumah hati saya gundah gulana. Saya harus menangkap pencuri itu agar Si Gundah dan Si Gulana mau pergi.</p>
<p>“Ja, urang meuli roko heula ka hareup.”</p>
<p>Saya bilang saya mau beli rokok dulu ke depan. Padahal saya mau menangkap pencuri. Mau beli rokok juga. Saya orang baik. Saya tidak mau berbohong. Saya tidak mau teman saya cemas lantas ikut-ikutan tangkap pencuri.<br />
Saya simpan tas saya di atas sofa. Tas punya Si Gema tepatnya. Saya berlari keci, takut pencurinya keburu kabur. Takut merasa bersalah karena gagal menangkap pencuri. Takut dianggap warga tidak bertanggung jawab. Takut Eja dicuri. Takut nanti Astri pacar Eja marah sama saya.</p>
<p>Wah, itu pencurinya masih terlihat. Rambutnya masih sebahu, masih bawa kamera. Pencurinya sedang jepret-sana-sini. Saya berjalan mendekat, lewat di belakangnya, beli rokok di warung yang sedang ia belakangi.<br />
Saya beli rokok. Rokoknya sebungkus. Sebungkus ada 12 batang. Setiap satu batang mengandung 1,8 mili gram nikotin dan 32 mili gram TAR.</p>
<p>Pertanyaan nomor dua.<br />
Rokok apa yang saya beli?<br />
a.	Malioboro<br />
b.	Kentucky Fried Chicken<br />
c.	Suntik Mati</p>
<p>Saya nyalakan rokok sebatang. Grogi saya sedikit hilang. Asal kamu tahu waktu itu saya sedikit grogi. Saya belum terbiasa berurusan dengan pencuri. Tapi setelah merokok grogi saya hilang. Saya sudah siap.</p>
<p>“Suka fotografi?”</p>
<p>Saya bertanya sambil merokok, sambil tersenyum, sambil deg degan. Sekali merengkuh dayung, rusak susu sebelanga. Begitu kata pepatah yang pernah saya dengar.</p>
<p>Pencuri itu mengangguk, tersenyum, tersipu, merah merona, tapi tetap diam. Diam adalah emas, emas adalah mahal. Begitu keadaan Si Pencuri jika saya analogikan. Singkatnya ia jual mahal.<br />
“Saya juga suka,kok.”</p>
<p>Saya terpaksa saya berbohong demi menangkap pencuri. Padahal saya sama sekali gak ngerti fotografi, gak ngerti demografi, apalagi pornografi. Si Pencuri tetap saja diam, tetap mengabadikan lingkungan di sekitarnya, di sekitar saya, di sekitar rumah Eja. Mengabadikannya ke dalam gambar yang nantinya akan dinamakan foto. </p>
<p> Entah kenapa lingkungan rumah Eja tampak menarik bagi Si Pencuri. Padahal menurut saya sih standar-standar aja. Tapi kenapa Si Pencuri tampak begitu asing. Mungkin merasa asing karena tiba-tiba ada orang asing yang sudah tidak asing lagi ketampanannya.</p>
<p>Pertanyaan nomor 3.<br />
Siapakah orang asing itu?<br />
a.	Saya<br />
b.	Saya sendiri<br />
c.	Saya yang sedang merokok<br />
d.	Semua jawaban benar</p>
<p>Wah , dia masih tetap diam. Tapi biar diam dia tetap seorang pencuri. Saya amati dia pelan-pelan dengan teliti. Saya terus siaga jangan-jangan di dalam kebisuannya, diam-diam dia baca mantra pelet. Untuk saya tentunya. Tapi saya tidak suka pelet, pelet itu untuk ikan. Saya lebih suka nasi pake ayam, pake telor juga, pake sayur saya juga suka, apalagi kalo ditambah sambel saya sangat suka.</p>
<p>“Tamu Udjo ya?!”<br />
Udjo itu maksudnya bukan anggota salah satu vokal grup, tapi Saung Udjo.</p>
<p>“Kok tahu?” Sejenak ia berhenti jepret sana sininya. Bargaining power saya ternyata cukup kuat dia jadi turun harga sedikit.<br />
Ah,akhirnya dia bicara. Suaranya terdengar enakeun.</p>
<p>“Ah, tahu aja. Itu, dari ID card di dada kamu.” Saya jawab sambil tersenyum, sambil mematikan rokok.</p>
<p>Biasanya saya tidak pernah pake istilah ‘kamu’ pada orang yang baru saya temui. Saya juga jarang pake istilah ‘dada’ pada perempuan, biasanya pake istilah apa ya? Oh iya pake istilah ‘itu’, kamu sendirin tahulah ‘itu’ itu apa.</p>
<p>“Oh&#8230;” mulut Si Pencuri membentuk huruf ‘O’ yang indah, tidak seperti huruf ‘O’ pada kata ‘TRIGONOMETRI’.</p>
<p>“Coba saya tahu kamu tamu Udjo, pasti saya jamu.”</p>
<p>“Wah, emang bisa?”</p>
<p>“Ya bisa atuh. Saya kan anak yang punya Saung Udjo.”</p>
<p>Aduh, saya bohong lagi. Tapi ini dalam rangka menjadi warga yang bertanggung jawab, ini dalam rangka menangkap pencuri. Si Pencuri tampak manggut-manggut, entah percaya atau tidak. Sampai sekarang saya tidak tahu.</p>
<p>Ada hape yang berbunyi. Hape itu singkatan dari handphone, asal kamu tahu itu. Lagu yang terdengar dari hape itu  saya tidak suka, tapi saya sering dengar. Pasti bukan punya saya, punya saya hanya bisa berbunyi “kukuruyuk’ atau paling bagus “kekereyek”.</p>
<p>Si Pencuri mengangkat hapenya. Ia berbicang dengan Si Mahluk Gaib yang tidak kelihatan ada di sana.</p>
<p>“Iya sayang&#8230; aku balik bentar lagi.”</p>
<p>Itu adalah perkataan penutup Si Pencuri pada Si Mahluk gaib. Bukan kepada saya. Kalau kepada saya bunyinya seperti ini.</p>
<p>“Udah dulu ya, A. Saya ditunggu di saana. Nanti saya bilangin deh ke Pak Udjo saya ketemu sama anaknya di sini.”</p>
<p> “I guess her name is Tina because before I ever seen her I was lost dont know what your name&#8230;”</p>
<p>Saya bergumam melantunkan sebuah sair lagu. Kemudian saya mencoba menulis sebuah puisi(kalau memang bisa dsisebut puisi). Yang sampai sekarang tidak pernah saya kasih judul.</p>
<p>Siapakah namamu wahai pencuri?<br />
Apakah benar namamu Tina?<br />
Apakah namamu Chelsea?<br />
Dian Sastro? Luna Maya? Monicca Belluci?<br />
Lala?  Lele?<br />
Mira? Maya?<br />
Atau  Bambang?<br />
Janganlah namamu Rina wahai pencuri<br />
Nanti saya bingung mau traktir Rina yang mana<br />
Janganlah kamu bilang-bilang juga sama orang-orang<br />
Kalau sama monyet-monyet dan bekantan-bekantan boleh lah<br />
Jangan kamu bilang saya ini anaknya Pak Udjo<br />
Karena ayah saya namanya Nana </p>
<p>Bandung, awal tahun 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roadtoruins.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roadtoruins.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roadtoruins.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roadtoruins.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roadtoruins.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roadtoruins.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roadtoruins.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roadtoruins.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roadtoruins.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roadtoruins.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roadtoruins.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roadtoruins.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roadtoruins.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roadtoruins.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=54&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/23/pak-nana-dan-pak-udjo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e967a1f9ce8c023c4683996f389f3802?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">roadtoruins</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/23/52/</link>
		<comments>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/23/52/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 01:35:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>roadtoruins</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Literature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roadtoruins.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini hari kamis, kalau saya tidak salah. Tidak, saya tidak salah. Hari ini adalah tanggal 19 Maret 2009. Coba kamu lihat di kalender pasti tanggal 19 Maret 2009 hari Kamis. Tadi pagi saya bangun jam setengah enam pagi, lalu tidur lagi. Bangun lagi jam setengah tujuh. Kalian pasti tanya, kapan saya shalatnya? Tidak perlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=52&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini hari kamis, kalau saya tidak salah. Tidak, saya tidak salah. Hari ini adalah tanggal 19 Maret 2009. Coba kamu lihat di kalender pasti tanggal 19 Maret 2009 hari Kamis.</p>
<p>Tadi pagi saya bangun jam setengah enam pagi, lalu tidur lagi. Bangun  lagi jam setengah tujuh. Kalian pasti tanya, kapan saya shalatnya? Tidak perlu saya jawab pertanyaan kalian itu, cukup saya dan Tuhan yang tahu.</p>
<p>Hari ini saya mandi dan gosok gigi. Biasanya saya cuman cuci muka dan buang air dan gosok gigi. Deodorant juga saya pakai hari ini. Maklum hari ini saya ada rencana naik Damri ke Jatinangor. Saya mau kuliah hari ini. Saya mau berangkat ke kampus naik Damri. Biasanya di dalam Damri berdesak-desakan. Jadi saya gak mau dicaci orang terus didoain masuk neraka cuman gara-gara bau badan.</p>
<p>Saya sudah masuk di dalam damri. Sebelum masuk damri saya beli pisang goreng. Saya ditraktir oleh Peri alias Blangkon, teman saya. Sebelum beli pisang goreng, saya boncengan naik motor masih sama Blangkon. Blangkon juga mau kuliah tapi di Dipati Ukur, saya di Jatinangor.</p>
<p>Sebelumnya saya mendengar lagu di kamar kost. Judulnya ‘Ole Black n Blue Eyes’ tang nyanyi The Fratellis bareng Pete Towsend. Pete Towsend itu dulunya vokalis The Who asal kalian tahu. Saya suka The Who, Rolling Stones, Ramones, The Libertines, The Doors, The Fratellis,King of Leon. Saya tidak suka Radja, Kangen Band, ST12, dan semacamnya. Asal kamu tahu. </p>
<p>Damri saya sudah maju. Terus maju, sempat berhenti sebentar pas di lampu merah. Damri sudah sampai di daerah BKR. Saya melongok dari jendela.Wah banyak sekali poster caleg terpampang di sepanjang jalan.Oh iya, saya baru ingat sebentar lagi ada pemilu.</p>
<p>Kalo saya tidak salah dengar tanggal 9 April 2009. Makanya para caleg alias calon legislatif alias calon legowo udah pada berlomba cari simpati dari saya, kamu, dan orang lain yang cukup umur dan dianggap waras untuk ikut dalam pemilu.</p>
<p>Sayang sekali, saya sama sekali tidak mau memberikan simpati saya dengan cuma-cuma. Seandainya para calon itu bertindak dulu baru minta dipilih, mungkin saya akan bersimpati. Tapi kalo yang ada malah sebaliknya, dipilih dulu baru bertindak. </p>
<p>Saya lebih simpati sama Syekh Puji yang katanya mau ditahan gara-gara nikah siri. Heran kok Dewi Persik gak ditahan? Padahal tadinya saya mau mengikuti jejak Syekh jika kelak nanti sukses.</p>
<p>Ah sudah jangan dibahas lagi tentang niatan saya mau mengikuti jejak Syekh Puji. Kita bahas mengenai para caleg yang posternya mengganggu pemandangan kota bandung ini saja. Siapa tahu bisa jadi renungan bagi kamu sebelum tibanya hari pemilihan. Kalo saya sih sudah cukup merenung jauh-jauh hari dan saya berkemungkinan besar golput.</p>
<p>Coba kita perhatikan spanduk di spanjang jalan itu. Ada saja cara para calon legislatif ini menarik perhatian para pemilih. Ada yang pake pasang pose sok bijaksana. Ada yang pasang janji kampanye mereka yang manis-manis. Bahkan ada yang pake gambar artis dangdut di posternya. Heran saya, ini mau pemilu apa mau goyang dangdut? Atau mau menggoyang demokrasi?</p>
<p>Tapi itu sih gak ada apa-apanya dibanding yang satu ini. Yang satu ini yang paling parah menurut kacamata saya. Bukan makna kiasan, karena saya beneran pake kaca mata hitam biar gak silau, biar gaya juga. Wah kok ngelantur lagi. Sampai mana tadi? Oh iya sampai yang ada apa-apa.</p>
<p>Yang ada apa-apa ini yang ada Obama-nya. Padahal kalo gak salah Obama kan gak ada hubungannya ama pemilu di Indonesia. Kok bisa ada calon yang pake pasang gambar Obama di poster kampanyenya?<br />
Siapa sih Obama? Cuma manusia biasa sama seperti saya, seperti kamu. Saya bahkan lebih ganteng dari dia. Cuma kebetulan aja kepilih jadi presiden Amerika Serikat. Kebetulan juga pernah jadi Anak Menteng. Menteng itu ada di Jakarta. Jakarta itu ibukota Indonesia. Apa coba hubungannya Obama sama pemilu di Indonesia?</p>
<p>Heran saya dengan orang-orang di negri ini. Orang asing kok disanjung sampe segitunya. Emang kita udah gak punya figur lain yang bisa dieladani sampe harus bawa-bawa Obama segala.</p>
<p>Coba saya tanya sama adik-adik mahasiswa, maaf saya ralat maksud saya rekan-rekan mahasiswa. Emang pernah Obama prihatin waktu nilai kuliah kamu banyak ‘E’nya? Pernah tidak Obama kasih kamu selamat waktu dapat nilai ‘A’ untuk pertama kalinya? Saya kira tidak pernah. Tapi saya yakin Obama pernah dapet niali ‘A’, pernah juga dapet nilai ‘E’. Bagaimanapun Obama itu hanya manusia biasa dan bukan WNI. Jadi sebaiknya jangan dibawa-bawa.</p>
<p>Ah saya akhirnya sampai juga di Unpad Jatinangor. Tadi dari Pangdam, Pangkalan Damri, asal kamu tahu, saya jalan kaki sampai pangkalan angkot gratis. Saya naik angkot gratis sampai ke gedung D13, gedung Jurusan Matenatika, kalu kamu mau tahu. Wah ternyata saya telat masuk kelas. Saya tidak kecewa.</p>
<p>Menunggu jadwal kuliah berikutnya, saya pergi ke Pakilun. Saya mau ngobrol dulu sama Si Babeh, tukang lontong kari, tukang somay, dan tukang-tukang lainnya. Di pakilun ternyata sedang hot-hotnya ngobrolin politik. Kesal saya.</p>
<p> Saya beli rokok di tempat Si Babeh, Si babeh yang dagangnya saya nkasih, tukang somay juga, tukang lontong kari juga, ayam punya Si Babeh juga.</p>
<p>Ayam kalau dibalik jadi Maya. Maya dibalik jadi ayam. Apakah Si Maya ayam kampus? Adakah ayam kampus bernama Maya? Silahkan cari tahu sendiri. Saya malas ngomongin politik dan ayam. Saya balik ke D13.</p>
<p>Di D13 ada Si Horas lagi ngobrol sama Si Om. Si Horas ini teman satu angkatan saya, Si Om Satpam di kampus saya. Mereka berdua ngobrolin masalah politik juga. Kesal saya.</p>
<p>Saya jadi ingin pergi ke wc di wc jarang ada yang ngobrolin politik. Saya masuk wc, lalu jongkok. Tidak perlu saya ceritakan apa yang saya lakukan di wc. Kamu juga pasti sudah tahu perbuatan standar yang dilakukan sambil merokok di wc.</p>
<p>Saya keluar dari wc. Bejalan ke tempat Horas dan si Om. Si Om minta rokok, saya kasih. Si Horas juga minta, saya kasih. Saya duduk di kursi yang tadi diduduki Si Om. Di meja depannya ada tulisan.</p>
<p>Pasti orang iseng yang nulis tulisan ini wajahnya jelek. Pasti dia sering menangis karena cinta. Hayoh ngaku siah nu nulis!!!!!!!!</p>
<p>Setelah duduk, merokok, ngobrol bola sedikit sama Si Horas. Saya ingat sesuatu. Saya mau ketemu sama Si Iwan. Iwan ini teman satu angkatan saya yang sedang nyusun skripsi. Sama juga sama Si Siska. Tadi saya juga ngobrol sedikit sama Si Siska. Si Siska itu pacarnya Si Barry. Si Barry itu baru kehilangan motor. Saya tahu dari Si Iwan.</p>
<p>Tapi bukan itu alasan saya mau ketemu sama Si Iwan. Alasan sayua mencari dia karena saya mau ngomongin kerjaan. Saya butuh uang. Saya sudah sebulan berhenti dari kerjaan sebagai editor magang. Saya sedang tidak punya penghasilan. </p>
<p>Kemarin kata  Si Iwan CV itu Curriculum Vitae. Katanya kalo saya mau masukin CV harus lewat Si Muthi. Tapi saya malu kalo lewat Si Muthi. Saya malu kalo CV saya sampe gak jadi bungkus cireng, dalam artian nantinya bakal dibaca bukan dijadikan bungkus cireng. Saya malu kalo sampai nanti ketahuan ternyata saya ini mahasiswa yang berprestasi.<br />
Saya takut nanti saya bakal jadi sombong. Saya harus bagaimana?</p>
<p>“ Gampang kamu palsuin aja cv kamu biar terlihat wajar.”<br />
Itu ada setan berbisik pada saya. Saya lumayan tertarik.</p>
<p>“Jangan! Emang kamu mau ngasih makan anak istri pake uang haram.”<br />
Itu malaikat yang berbicara. Saya jadi bingung.</p>
<p>	“Tapi kan saya gak korupsi jadi uangnya halal.”<br />
Itu hati saya yang ngomong.</p>
<p>”Bener itu halal,” kata setan.</p>
<p>“Biar uangnya halal tapi kan cv kamu nipu, emang kamu mau kasih tambahan apa sama cv kamu?” malaikat berkata.</p>
<p>“Cuman mau saya kasih ucapan terima kasih, gak boleh?” kata hati saya.</p>
<p>“Oh kirain mau apa? Kalo itu sih boleh,” kata malaikat.</p>
<p>“Emang dikiranya saya mau apa?” </p>
<p>“Dikirain mau kamu tambahin kalo kamu pernah jadi model majalah remaja,hehehe&#8230;”</p>
<p>Malaikat pun pergi mencari setan yang pergi mencari mangsa lain. Saya kasih malaikat lambaian tangan perpisahan. Dan acungan jarin tengah buat Si Setan.</p>
<p>Benar kata Si Malaikat saya harus main fair, gak boleh curang. Mau jadi apa anak istri kalo saya kasih makan dari uang haram.<br />
Ah sial, saya lupa. Saya kan belum punya istri, apalagi anak. Saya cuma punya hasrat yang terpendam untuk cepet nikah, selain wajah ganteng tentunya.</p>
<p>Kenapa saya sebut ganteng? Karena kata malaikat saya harus jujur. Saya takut dosa kalo bohong. Kamun juga gak perlu bohong bilang saya tidak ganteng. Kamu cukup setuju kalo saya ganteng. Kamu juga gak bakal dosa.</p>
<p>Si Iwan kayanya datangnya masih lama. Daripada bengong mending saya ke bank dulu. Saya mau ngambil uang. Jumlahnya kamu tidak perlu tahu, yang pasti uang tabungan saya cukup banyak.<br />
Kenapa saya tiba-tiba mau ambil uang? Karena saya tuyul&#8230; bukan, bukan itu alasannya. Tapi saya tiba-tiba ingat mau traktir orang yang lagi sibuk UTS di sana. Saya menunjuk ngasal entah ke arah mana. Saya tidak tahu. Saya pernah janji mau traktir kalau dia udah beres UTS apalagi kalau UTSnya bagus. Woi kamu yang lagi UTS, semangat!semangat!</p>
<p>Saya sudah ada di bank. Di bank ada meja,ada kasir, ada kursi, ada satpam, ada customer service,ada nasabah, ada Irwansyah di televisi, ada dua perempuan ribut ngomongin Irwansyah, ada saya yang duduk di depan dua perempuan itu yang ternyata mahasiswi.<br />
Saya dipanggil ke kasir. Saya ambil tabungan saya. Si mbak kasir tersenyum sama saya.</p>
<p>“Ada yang bisa saya bantu lagi, Mas?”</p>
<p>“Gak ada mbak, makasih.” Saya balas senyumannya. </p>
<p> Saya siap kalo tiba-tiba dia minta ditraktir, apalagi kalau dia berubah pikiran mentraktir saya.  Sekarang uang saya sudah cukup. Kamu gak perlu tahu berapa jumlah uang yang saya ambil. Kamu juga gak perlu tahu orang yang akan saya traktir. Nanti kalian malah mau ditraktir juga.</p>
<p>Dari bank saya gak kembali ke kampus dulu. Di kampus masih rame, saya kira demikian.Saya pergi saja ke warnet. Judul warnetnya Rezanik. Saya pilih tempat itu bukan karena tempatnya nyaman. Tapi karena di sana banyak yang hot, tanpa harus didownload. Tinggal ‘search’ terus copy-paste.Beres. Lagian saya sudah capek tadi pagi ngomongin politik. Saya butuh penyegaran. </p>
<p>Sudah dulu saja ya, saya mau ke warnet dulu. Malu kalian lihat apa yang saya lakukan di sini. Mending kalian lihat Obama yag ada di jalan BKR.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roadtoruins.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roadtoruins.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roadtoruins.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roadtoruins.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roadtoruins.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roadtoruins.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roadtoruins.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roadtoruins.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roadtoruins.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roadtoruins.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roadtoruins.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roadtoruins.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roadtoruins.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roadtoruins.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=52&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/23/52/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e967a1f9ce8c023c4683996f389f3802?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">roadtoruins</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Beatles di Hari Jumat</title>
		<link>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/23/the-beatles-di-hari-jumat/</link>
		<comments>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/23/the-beatles-di-hari-jumat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 01:28:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>roadtoruins</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Literature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roadtoruins.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang duduk di atas koran sambil membaca kursi. Saya berada di dalam kontrakan. Lima menit yang lalu saya baru bangun tidur. Satu menit yang lalu saya baru cuci muka di kamar mandi. The Beatles sedang menyanyikan obladi-oblada di kamar saya. Ini lagu bersejarah di keluarga saya. Dulu sekitar tahun 80an seorang mahasiswa gondrong bernama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=50&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sedang duduk di atas koran sambil membaca kursi. Saya berada di dalam kontrakan.  Lima menit yang lalu saya baru bangun tidur. Satu menit yang lalu saya baru cuci muka di kamar mandi. </p>
<p>	The Beatles sedang menyanyikan obladi-oblada di kamar saya. Ini lagu bersejarah di keluarga saya. Dulu sekitar tahun 80an seorang mahasiswa gondrong bernama Nana Kurniadi bertemu pertama kalinya dengan mahasiswi berambut sebahu namanya Bella Yuniarsih di kampus IKIP  yang sekarang namaya UPI backgroundnya lagu ini. Katanya waktu itu mereka bertemu hari Jumat. </p>
<p>	Setelah lama pacaran keduanya menikah. Punya anak pertama, kelaminnya laki-laki. Ternyata anak pertama pasangan ini dikaruniai wajah ganteng tapi otak pas-pasan. Begitulah konsekuensinya mungkin. Mereka kasih nama anak itu Rizky Anindyajati, tadinya Nana Kurniadi yang dulunya masih gondrong  mau memberi nama Biji Anindyajati, tapi Bella Yuniarsih yang dulu belum berjilbab gak tega kalo anaknya dikasih nama kaya nama bagian buah. Padahal anaknya belum tentu tidak mau, sayangnya waktu lahir anak ini tidak seperti Nabi Musa yabg bisa bicara di kala masih bayi. Anak ini cuman bisa nangis sama berak di popok doang, sama kencing di popok juga, sama minum ASI juga.</p>
<p>	Di hari yang sedang Jumat itu Si Anak yang 22 tahun lalu hanya bisa nangis dan berak di popok ini sudah gak pake popok lagi, sudah bisa pake celana jins, sudah bisa lupa pake celana dalam, dan sudah bisa stres. Anak itu adalah saya yang sedang baca koran di hari Jumat itu.</p>
<p>	Anak itu tahu hari ini hari Jumat, karena koran yang sedang dibacanya adalah koran hari Kami. Koran itu ia beli waktu pulang dari kampus naik Damri yang ada pengamennya, yang pengamennya dikasih uang seribu oleh anak itu. Anak itu anak yang baik lebih baik daripada monyet, lebih baik darpada kuda, lebih baik daripada kuntilanak, lebih baik daripada hantu.<br />
	Anak itu mencari tahu jam berapakah waktu itu, dia sepertinya takut kesiangan Jumatan. Di lihat ke arah jam dinding jam dindingnya mati. Dia baru ingat kalu dia punya hape, hape itu singkatan dari handphone. Di dalam hapenya ada penunjuk waktu. Waktunya lebih satu setengah jam dari waktu normal. Maksud anak itu adalah supaya ia bisa lebih modern setidaknya satu setengah jam dari orang lain. Benar-benar pikiran brilian untuk seorang anak yang otaknya pas-pasan.<br />
	Di kolong kasurlah tempat hape anak itu berada. Jamnya masih jam 11.30 artinya jam 10.00 waktu normal. Ada dua pesan masuk di hapenya.<br />
	 Dua-duanya dari perempuan. Sepertinya dua-duanya sayang pada anak itu. Anak itu juga sayang pada dua-duanya. Dia baca SMS yang pertama. SMS dari orang yang sudah dengan rela mengandungnya dulu selama 9 bulan.</p>
<p>        “Kang, kumaha kuliah lancar?”</p>
<p>       Anak itu berbohong. Dia bilang kuliahnya lancar. Padahal yang ada malah sebaliknya. Kemarin dia baru diusir dosen dari ruang kuliah gara-gara ketahuan jarang masuk dan sering diabsenin sama temannya.  </p>
<p>         Anak itu bebohong untuk pertama kalinya pada hari itu. Dia merasa bersalah.</p>
<p>         Setelah membalas SMS pertama ia baca SMS kedua.</p>
<p>         “Sori Ke&#8230;smsnya baru dibaca,,,emang kamu kunaon?”</p>
<p>        Anak itu (dia) ingat semalam dia kirim SMS, dia bermaksud curhat pada  perempuan itu (ia) tapi ia tidak membalas semalam. Ternyata ia masih peduli, ia bukannya acuih tapi baru sempet baca SMS mungkin ia sedang sibuk ujian. Dia kemudian menekan tombol ‘options’ lalu ‘reply’.</p>
<p>       Karena susunan tata bahasa anak itu di sms susah dimengerti orang normal saya terjemahkan saja kira-kira isinya seperti ini. </p>
<p>Anak itu bilang kalo dia baru bangun, baru sadar kalo dia semalam ngirim SMS, itu hanya basa-basi dari anak itu. Selanjutnya dia bilang kalo kemarin dia benar-benar kacau, di kampus diusir ama bapak dosen, terus warung tenda miliknya tergususur, terus pas mau futsal malah gak jadi. Dia juga tulis kalu tadinya dia mau curhat sama dua sahabatnya namanya Gema dan Blangkon. Tapi Si Gema sedang sibuk main game, Si Peri juga sibuk nonton Dragon Ball. Dia anak baik jadi dia gak mau ganggu temannya. Terus dia bilang malem sebelumnya dia tidur karena gak tahu mau curhat sama siapa. Pas awal-awal tidur dia bilang enak malah sampai ketemu sama Dian Sastro. Tapi Dian Sastronyan gak ngomong. Dia paksa Dian Sastronya biar ngomong, eh suara Dian Sastronya malah berubah jadi suara dosen yang siangnya ngusir dia. Tadinya dia mau pulang ke Tasikmalaya mau ke rumah ayah dan ibunya, tapi dia malu barusan dia berbohong sama ibunya, dia takut dikutuk jadi batu kaya Malin Kundang. Takut masuk pameran anak durhaka kayak malin Kundang.<br />
        Seperti itulah kira-kira informasi yang disampaikann anak itu dalam SMSnya. Beberapa saat kemudian hapenya bergetar. Dia pasang profil discreet jadi hanya bergetar tidak bersuara. Satu SMS lagi masuk. SMS dari ia. Ia menulis tiga buah sms yang berhubungan sepertinya hape ia berbeda dengan dia. Hape dia bisa nulis sms panjang sekali jalan hape ia tidak.<br />
      SMS dari ia tata bahasanya sama kacau dengan sms dari dia. Saya terpaksa permudah lagi supaya kamu enak membacanya. Begini isinya.</p>
<p>Perempuan itu alias ia menulis kalau cobaan itu ada supaya kita bisa jadi lebih kuat. Ia juga tulis kalau dia harus semangat. Ayo SEMANGAT!!!  Mungkin ia sengaja kasih tanda seru tiga kali agar dia semangatnya berlipat ganda. Dia juga tulis kalau alasan bapak dosen mengkick dia dari kelas karena punya ketampanan melebihi  bapak dosen. Ia juga menulis kalau dia itu sebenarnya pintar. Tak lupa ia juga minta timbal balik agar dia berdoa supaya ia dan dia sama-sama lancar kuliahnya, lancar rejekinya. Sepetinya ia belum lupa kalo dia mau traktir dia kalo ia udah selesai UTS.  Ia juga tak lupa menyuruh dia untuk pergi jumatan.<br />
					Obladi-Oblada<br />
Desmond has barrow in the market place<br />
Molly is a singer in the band<br />
Desmond says to Molly Girl  I Like your face<br />
And Mooly says as if she takes him by the hand<br />
Obladi&#8230;oblada&#8230;life goes on bra&#8230;.<br />
Lalalala life goes on&#8230;..<br />
Desmond takes a trolly to the jewelry stores<br />
Buys a twenty carrats golden ring<br />
Takes it back to Molly waiting at the door<br />
And when he gives ito her she’s begin to sing<br />
Obladi&#8230;oblada&#8230;life goes on bra&#8230;.<br />
Lalalala life goes on&#8230;..<br />
In the couple of year they have build<br />
A home sweet home<br />
With the couple of kids running in the yard<br />
Of Desmond and Molly Jones<br />
Obladi&#8230;oblada&#8230;life goes on bra&#8230;.<br />
Lalalala life goes on&#8230;..<br />
Happy ever after in the market place<br />
Desmond let the children land the hand<br />
Molly stays at home and does her pretty face<br />
And in the evening she still singing inthe band<br />
Obladi&#8230;oblada&#8230;life goes on bra&#8230;.<br />
Lalalala life goes on&#8230;..</p>
<p>       The Beatles kembali menyanyikan  Obladi Oblada, sebelumnya bernyanyi yellow Submarine sejenak. Dia tambah semangat dia masuk kamar mandi tidak hanya cuci muka kali ini dia mandi. Dia mau pergi ke masjid. Shalat Jumat lalu berdoa untuknya dan Ia.<br />
Untuk ibu anak itu semoga ibu mau memaafkannya. Sekarang dia sedang berusaha berubah. Saya saksinya.<br />
Untuk ia, dia jumat lalu berdoa supaya ujian kamu lancar. Dia juga mau tahu doanya manjur apa tidak.  Saya saksinya.<br />
Untuk kamu, tahukah kamu siapa dia?<br />
							Bandung, 21 Maret 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roadtoruins.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roadtoruins.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roadtoruins.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roadtoruins.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roadtoruins.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roadtoruins.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roadtoruins.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roadtoruins.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roadtoruins.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roadtoruins.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roadtoruins.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roadtoruins.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roadtoruins.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roadtoruins.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=50&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/23/the-beatles-di-hari-jumat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e967a1f9ce8c023c4683996f389f3802?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">roadtoruins</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Award Goes to Jogja</title>
		<link>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/17/the-award-goes-to-jogja/</link>
		<comments>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/17/the-award-goes-to-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 06:49:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>roadtoruins</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Literature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/17/the-award-goes-to-jogja/</guid>
		<description><![CDATA[Bandung, 7 Maret 2009 Hari itu, hari sedang dinamakan Sabtu oleh orang-orang pribumi dan kalo orang Inggris memberi nama Saturday buat hari itu. Kalo diliat dari dekat dan dengan pandangan yang mantap, air muka saya ketika memasuki kamar kontrakan, tampak air muka saya yang menunjukkan kelelahan yang luar biasa. Hari itu saya pulang dengan badan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=49&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>	Bandung, 7  Maret  2009<br />
	Hari itu, hari sedang dinamakan Sabtu oleh orang-orang pribumi dan kalo orang Inggris memberi nama Saturday buat hari itu. Kalo diliat dari dekat dan dengan pandangan yang mantap, air muka saya ketika memasuki kamar kontrakan, tampak air muka saya yang menunjukkan kelelahan yang luar biasa. Hari itu saya pulang dengan badan penuh peluh setelah melakukan serangkaian rapat akbar sebuah acara pembukaan yang nyaris fenomenal dari sebuah waruing makan yang bejudul WARUNG TJEMPOR yang hampir dipastikan akan menjadi sebuah fenomena dalam percaturan dunia perbendaharaan makanan di Kota Kembang.<br />
	Kala itu matahari sedang panas-panasnya, jam pada hape saya menunjukkan pukul 13 lewat 30 menit, tapi saya gak yakin karena waktu itu tepat dengan bunyi adzan lohor, masa iya jam segitu baru adzan. Tidak mau ambil pusing dengan jam saya yang ngaco saya pun berlalu menuju kamar dan membuka pintunya.<br />
	Itu adalah kamar saya atau lebih tepatnya kamar teman saya yang secara de facto dan de jure saya jadikan kamar saya juga. Sebagai lelaki yang banyak dipanggil lelaki nyaris keren, keadaan kamar yang biasa saya tempati pun sama dengan penghuninya alias nyaris keren.<br />
	Kita bahas saja sedikit keadaan kamar saya yang berada di kawasan Sekeloa ini sedikit demi sedikit. Pertama kali masuk kamar pasti semua orang harus merasakan bahwa ketika pintu dibuka, pintu langsung mentok, karena tepat di belakang pinru terdapat sebuah kompor gas buat mandi, lalu di samping atau di depan ya??? Di dekat saja biar gampang, terdapat sebuah ruangan yang berisi satu buah lemari kayu ,satu lemari baju, meja komputer yang di atasnya ada monitor sama teminal listrik dan tv tunner, lalu diatas monitor ada sebuah printer yang selebor  alias buta warna gara-gara salah masukkin tinta, di dalam kamar ada juga dua buah kasur, eh salah tiga buah tepatnya, semua kasurnya udah rada bulukan.<br />
Lalu masih di dalam ruangan tersebut ada sebuah ruangan berukuran 1&#215;1,5 meter yang sering terlupakan namun selalu dengan senagn hati menerima kita dikala susah kami beri nama wc untuk ruangan yang sangat baik hati ini. Dan wc kami pun memiliki dua orang??? Eh bukan dua orang, tepatnya dua hewan penghuni tetap yang diberi nama Si Kumbang dan Si Malin.<br />
Si  Kumbang adalah seekor ikan cupang berwarna biru milik Peri teman saya, sedangkan Si Malin adalah seekor belut putih milik Si Gema. Walaupun dari jenis yang berbeda keduanya selalu akrab dan sering saling curhat mengenai kebaikan majikan mereka berdua yang sering memperhatikan mereka sambil mandi, ee, dan gosok gigi. Si Kumbang dan Si Malin emang patut dicontoh, meskipun hewan keduanya bisa hidup tentram gak pernah rebutan kursi, gak kaya kita yang berjenis manusia yang sering rebutan kursi belakang waktu ujian, kursi angkot yang disampingnya ada cewek cakep, juga kursi DPR yang katanya empuk.  Begitulah kira-kira keadaan kamar yang biasa saya dan kedua teman saya tempati.<br />
“Ti mana, Ke?” tanya Gema ketika aku pertama kali masuk ke dalam kamar itu.<br />
“Biasa,” jawabku lemas sambil membuka jaket yang sedari tadi terpasang pada tubuh yang nyaris keren ini.<br />
“Ke, ke Jogja yu!” ajak Gema sambil tetap asik  mencoba menjadi seorang pesepakbola profesional dengan nickname Anak Maung.<br />
“Jogjakarta?!” saya kurang yakin dengan keseriusan teman saya yang satu ini.<br />
“Heueuh, entar malem balik kamu beberes warung.”<br />
“Siapa aja?”<br />
“Three Musketeers, Arthos, Phorthos, Aramis,” ujarnya meyakinkan.<br />
“Hayu,” jawabku,”Si Blangkon ke mana?”<br />
“Katanya mah lagi ke UIN.”<br />
“Ngapain?”<br />
“LSM tea geningan.”<br />
“Serius Si Blangkon mau jadi aktivis LSM?!”<br />
Gema hanya terkekeh dengan pertnyaan saya, begitu pula saya. Tidak habis pikir rasanya, teman kami Peri alias Blangkon yang sehari-harinya punya kelakuan kaya ee mau-maunya jadi aktivis wanita dan lingkungan hidup. Saya yakin pasti ada keong di balik batu, ada niat lain di balik niat Peri yang kurang kerjaan jadi aktivis ini.<br />
Ah daripada mikirin Si Peri mendingan saya mandi aja badan saya sudah sangat bau akibat 3 hari ke kamar mandi cuman mampir buat ee ama gosok gigi doang, pikir saya. Tapi nanti dulu, saya belum kuat ngangkat gayung, mending saya ngerokok dulu aja biar kuat.<br />
Sebatang rokok sudah habis, Anak Maung pun sudah selesai bertanding dua kali, namun rasanya tubuh ini masih berat untuk melangkah ke kamar mandi. Tapi bagaimanapun saya harus mandi, karena semakin cepat saya mandi, semakin cepat saya berangkat ke RRI buat ngelaunching WARTJEM. Mungkin di sana teman-teman saya sesama owner WARTJEM sudah menunggu kehadiran saya. Saya kembali menyalakan sebatang rokok yang saya minta dari Gema kemudian masuk ke kamr mandi lalu menjepit pintu kamar mandi dengan kertas, karena pintunya udah dol, gak bisa ditutup. Soalnya kalo kamar mandi terbuka ntar kalian para lelaki minder liat ‘naga’ saya, dan para wanita jadi merem melek. (Naon maksud coba kalimat terakhir????)<br />
Singkat cerita saya telah selesai mandi dan ganti baju dengan baju yang baunya rada mendingan.  Ini adalah saya yang sudah siap berangkat ke RRI, sebelum berangkat tidak lupa saya menitipkan 10 buah kupon yang bertuliskan “BUY 1 SORABI FREE 1 BANDREK ABAH” pada Gema untuk dibagikan oleh Gema pada teman-teman yang saya undang pula ke acara KBU sekaligus Launching WARUNG TJEMPOR.<br />
Dengan motor pinjaman dari Iwan saya berangkat dengan semangat menuju RRI, hampir tidak ada halangan yang berarti yang menghadang perjalanan saya menuju RRI, kecuali&#8230;. kecuali AGB-AGB yang masih ABG-ABG yang lumayan manis sempat mengalihkan pandangan saya dari jalanan ke trotoar.<br />
Ya Allah sebanyak ini gadis cantik di Bandung, kenapa saya yang nyaris keren ini masih juga jomblo?!<br />
Ternyata hambatan yang hanya secuil itu mampu membuat saya kacau, saya kehujanan gara-gara sempat memperlambat laju motor buat lirik sana sini, ataukah ini anugerah dari Allah gara-gara tadi saya mandinya kurang tuntas jadi langsung dikasih berkah dengan dimandiin ama air hujan.<br />
Terima kasih Ya Allah hujannya seger  pisan.<br />
*****<br />
	Hari itu hari berjalan melelahkan, tapi saya tetap senang karena meskipun begitu WARUNG TJEMPOR akhirnya dagang juga, ditambah lagi dengan antusiasme dari para pengunjung yang menganggap menu makanan kami layak untuk dikonsumsi, dan juga para pemilikm yang masih merangkap pegawai warungnya lumayan enak dipandang dari jauh,hehe&#8230;.<br />
	Macam-macam pengunjung yang saya lihat datang ke tempat kami dari mahasiswa, sampai seorang penyiar RRI yang bahkan menawarkan untuk mencarikan tempat bagi warung kami, bahkan teman-teman saya sengajan tidak malam mingguan bukan karena gak punya pacar, tapi karena emang pengen liat saya bahagia mereka menyempatkan datang, ada Peri, Gema, Oci,Rudi, Anisa, Enur, Rina yang sempet nelpon kasih semangat dan minta dibungkusin, pokoknya Warung Tjempor mengawali debutnya dengan nyaris fenomenal hari itu.<br />
	Rangkaian acara hari itu pun beres sudah, akhirnya saya bersama Iwan, Eja, Babon, Badak, Rangga, kami berenam akhirnya membereskan segala barang-barang dan roda tempat kami jualan untuk diangkut ke tempat peristirahatannya di rumah Eja.<br />
Walaupun acara launching warung sudah berakhir, kami masih harus mendorong roda ke rumah Eja yang jaraknya lumayan lah buat olahraga. Karena badan cukup lelah hari itu banyak opsi ditawarkan oleh teman-teman saya, mulai dari nyewa kolbak, ditarik pake motor dengan posisi orang yang menarik duduk di pentil motor, sampai ada yang kurang kerjaan mau masukkin roda dalem bagasi motor. Akhirnya solusi pun ditemukan, kami berenam mendorong roda bergantian sampai selamat ke tujuan. Berakhir lah hari sabtu itu dengan diakhiri dorongan roda dari RRI ke Padasuka. Lumayan bikin gempor, apa ganti nama warung aja  jadi WARUNG GEMPOR??????????<br />
Saya pun siap menyongsong hari  berikutnya bersama dua orang teman saya yang melengkapi formasi 3 orang musketeer sebagai Three Musketeers.<br />
JOGJA&#8230;JOGJA&#8230;JOGJA&#8230;.<br />
					*****<br />
Bandung-Yogyakarta,  8 Maret 2009<br />
Orang yang bawa ransel hitam itu adalah saya, lalu di samping orang itu ada yang bawa ransel ijo sambil pake kolor ijo namanya Gema, dan yang bawa keresek hitam itu adalah Peri. Waktu itu kira-kira dini hari di Jalan Supratman yang sedang kami susuri ini.<br />
Sebenernya niat awal kami bertiga cuman jalan kaki sampai ke Gasibu,Tangkuban Perahu, Taman Lalu Lintas (lagu saha cing eta??????). Penuh kesabaran ketiga orang Musketeer ini terus saja menyusuri jalanan yang lebih panjang dari anunya si anu. Sesekali kami bertiga menoleh ke belakang, jangan-jangan ada sopir angkot yang pikirannya masih warasasih narik angkot, karena biarpun masih narik kalo sopirnya gila yang ada bukannya ke stasiun, kami malah di bawa ke stadion.<br />
Entah sudah berapa kali kami menoleh ke belakang, namun belum juga ada sang supir normal dan baik yang lewat. Tapi kemudian secercah ide muncul di kepala saya, yang bermahkotakan rambut yang nyaris seminggu gak pernah akrab-akraban ama shampo.<br />
“Pake itu aja yu, cuy!” Saya menunjuk ke arah mobi berwarna coklat yang ada tulisan kuning yang bunyinya “POLISI”.<br />
Saya lupa gimana roman muka kedua teman saya ketika ide brilian dari saya. Entah terharu, sedih, mata berkaca-kaca, atau apapun itu, yang jelas saya yakin mereka bangga punya teman seperti saya yang selalu punya polisi walau harus melibatkan solusi.<br />
“Heueuh setuju!”  Si Peri yang kayaknya udah kepayahan jalan dari tadi langsung setuju. “Tapi gimana caranya?”<br />
“Bilang aja kalo dapet laporan kalo di stasiun Kircon terjadi tindakan kriminal.”<br />
Saya kurang yakin apakah saya atau Si Gema yang mengajukan ide brilian tersebut. Urang atawa maneh euy nu ngomong kitu teh, Gem???<br />
“Heueuh bener udah aja kayak gitu, masa polisi gak mau nganterin kita.”<br />
“Masalahnya kalo nanti sampai sana gak ada apa-apa mesti gimana coba?”<br />
“Ya udah bilang aja, kalo kriminalitasnya udah tidur ngantuk, kelamaan nunggu Bapak, hehe&#8230;”<br />
Kami bertiga cekikikan kayak kunti abis beranak dalam karung. Dan di tengah cekikikan kami yang menghangatkan gelapnya dunia waktu itu, datanglah sebuah mobil berwarna coklat yang tak lain adalah sebuah angkutan kota jurusan Cicaheum-Ciwastra seharusnya, tapi oleh keadaan Indonesia yang kacau balau berubah trayek jadi Gasibu-Ciwastra.<br />
Kami mengacungkan tangan tanda hendak menyetop angkot tersebut. Sang Supir yang ternyata bermata masih bagus dan hati nuraninya lumayan bagus juga berhenti, kami pun masuk ke dalam angkot kemudian menghela napas.<br />
Akhirnya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
                 				*****<br />
Pukul 03.30 dini hari menurut jam yang ada di handphone saya, dan bisa dipastikan itu bukanlah waktu sebenarnya. Karena harga handphone saya yang murah makanya jamnya juga suka ngaco, jadi jangan salahkan saya kalo saya sering telat atau kecepetan salahin handphone saya aja yang ngaco terus ngasih tau waktu.<br />
Ah daripada ngeributin Si Hape Ngaco, mendingan liat saya ama kedua teman saya aja yang baru turun dari angkot. Setelah membayar Rp.7500 untuk tiga orang, kami berjalan meninggalkan angkot menuju ke Stasiun Kiara Condong.<br />
Hampir tidak ada halangan yang berarti dalam perjalanan saya dari pinggir jalan ke pintu masuk stasiun kecuali angin malam yang dingin yang bikin merinding, nyesel saya pake celana pendek waktu itu, soalnya menurut teori Fisika atau Biologi, tepatnya saya lupa. Bahwa angin itu udara yang bergerak, jadi angin dingin ini tidak hanya menyerang kaki dan tubuh saya, tapi juga melewati lorong-lorong yang ada pada celana dan baju saya, kemudian menyerang bagian tubuh saya yang ditutupi pakaian sekalipun. Bahkan Emar  ikut-ikutan meringkuk, menciut saking dinginnya, maafkan majikanmu ini Emar. Kalo penasaran siapa sebenernya Emar, saya kasih tau aja, kalo Emar itu nama burung saya, kalo punya Si Peri ama Si Gema saya juga gak tau dikasih nama apa, entah Si Cacing, Si Naga, atau mungkin Brad Pitt.<br />
Kami bertiga sekarang sudah berada di dalam Stasiun Kiara Condong sambil mencoba membuka pintu tralis yang ternyata telah dikunci, namun tidak berhasil, akhirnya kami berdamai dengan pintu tralis itu lalumasuk lewat jalan samping. Heran pintu utama kok ditutup tapi pintu sampingnya enggak, jangan-jangan lebih banyak orang yang lewat pintu samping daripada pintu utama. Itulah Indonesia kawan!<br />
Sekalian aja saya ceritain kalo masih ada  yang penasaran dengan jam berapa kami tiba di stasiun, karena jam saya tidak bisa diharapkan, kita liat aja jam dinding yang menggantung di stasiun yang menunjukkan pukul 02.10 dini hari.<br />
Kami berjalan menuju tempat jadwal keberangkatan kereta, ternyata kereta menuju Yogyakarta baru berangkat jam 06.15 pagi, kayanya keretanya udah tua jadi gak kuat jalam malam, makanya nunggu pagi biar anget. Dengan kata lain kami pun harus mencari tempat yang hangat selama menunggu kereta berangkat, bukan karena kami sudah tua seperti umur kereta yang akan kami naiki, tapi justru karena kami masih muda dan butuh kehangatan.<br />
Setelah mondar-mandir mencari tempat yang pas, kami pun nge-camp di depan sebuah toko kelontong yang kebetulan sudah tutup. Dengan berselimutkan sarung saya mencoba untuk menghangatkan diri.<br />
“HATSYI&#8230;..!!!!!!!!!!!!!”<br />
Saking dinginnya Peri bersin sekeras-kerasnya sehingga membuat suasana hening di stasiun berubah menjadi sedikit mencekam. Bagaimana tidak, tidak lama setelah suara bersin teman saya, tiba-tiba sebuah suara menyapa kami dengan mesra.<br />
“EUH&#8230;.TONG GANDENG EUY PEUTING!!!”<br />
Kami memalingkan wajah cemas kami ke arah suara tersebut berasal, setelah kami teliti, kami yakin itu suara preman yang sedang menyantap indomie. Sebait syair lagu Panas Dalam yang berbunyi “jangan takut preman&#8230;preman juga makan nasi&#8230;” terngiang di telinga saya, entah lagu apa yang terngiang di telinga Peri dan Gema untuk dijadikan soundtrack peristiwa tersebut (lagu naon euy cuy maraneh?). Saya meyakinkan diri untuk tidak takut, tapi kalo diperhatikan lagi, preman yang satu ini makannya bukan nasi, tapi indomie. Jadi wajarlah kalo nyali saya dan kedua teman saya menciut. Tapi rasa kantuk dan capek mengalahkan ketakutan kami bertiga, bodo amat nantinya preman itu mau nyerang kami dalam mimpi asal jangan di alam nyata aja. Kami pun tidur dalam keadaan terpejam.<br />
“Bismika Allohumma ahya wa Bismika amut”<br />
					*****<br />
“A,punten,  A&#8230;”<br />
Sebuah suara yang cukup ramah diiringi tepukan pelan ke arah bahu saya membuat saya terjaga. Dengan malas saya menggeliatkan tubuh saya yang masih pegal dan dingin kemudian membuka mata sedikit demi sedikit.<br />
“Maap, A mau buka warung dulu,” ujar pemilik suara tadi yang kemungkinan besar pemilik toko yang empernya kami pakai tempat tidur tersebut.<br />
Kesadaran saya sudah mulai terkumpul, kemudian melirik ke arah Gema yang ternyata juga sudah terjaga. Kemudian kami berdua membereskan barang bawaan kami. Sambil membereskan barang bawaan kami, saya celingukan mencari teman saya Peri yang tidak ada di tempat. Jangan-jangan digondol preman yang tadi makan indomie. Saya bertanya pada Gema, ternyata Gema pun tidak tahu kemana raibnya mahluk yang satu ini. Kami pun berpamitan dan mngucapkan terima kasih pada pemilik toko yang emperannya kami salah gunakan menjadi hotel itu.<br />
Kami berjalan ke arah loket tiket siapa tau aja Peri ada di sana. Namun tiba-tiba Peri memanggil kami berdua, dan menuduh kami berdua ingin menjahilinya dengan meninggalkan Peri sendirian. Selidik punya selidik, Peri tadi pergi ke kamr mandi buat buang air kecil.<br />
Loket stasiun belum dibuka, kami panik karena sebenarnya kami bertiga belum memiliki tiket buat pergi ke Jogja. Sebenernya saya merasa bersalah karena gak bilang dulu ama kedua teman saya agar pesen tiket, tapi saya tidak boleh terlihat merasa bersalah nanti yang ada malah dimanfaatkan kedua teman saya yang kalo kumat sulit ditahan.<br />
Untuk mengobati perasaan bersalah saya dan supaya sosok saya terlihat lebih gagah, saya pun berinisiatif untuk mencari informasi dari petugas setasiun yang berkumis dan memakai topi yang berdiri kira-kira tiga meter di depan saya. Saya menghela napas lega, karena ternyata loket dibuka jam 5 pagi, jadi kami masih sempat mendapatkan tiket.<br />
Jam stasiun menunjukkan pukul 04.30, para calon penumpang tampak sudah mengantri di depan loket, nampaknya mereka takut kehabisan tiket.  Dan salah satu dari kami pun harus mengantri supaya tidak kehabisan tiket. Akhirnya Gema lah yang mewakili kami bertiga untuk membeli tiga buah tiket kereta kelas tiga alias ekonomi. Ia pun segera mengambil tempat untuk mengantri di depan loket. Saya yakin Gema melakukannya dengan tulus, karena seperti halnya saya, Gema adalah orang yang baik.<br />
Sementara Gema mengantri di loket, saya dan Peri duduk di bangku tunggu. Saya merokok, Peri menyantap coklat superman. Sambil merokok, saya terus mengamati orang-orang di sekeliling saya yang sebagian besar calon penumpang kereta Pasundan, Parahyangan, atau apalah namanya saya lupa. Biar aman sebut aja kereta Padjadjaran biar sama dengan nama kampus tempat saya kuliah yang sangat cinta pada saya sehingga terus menahan saya di dalamnya.<br />
Ada berbagai macam orang yang saya lihat di dalam stasiun ini, dari mulai anak Punk, sampai yang bergaya boyband ada di sana. Selain itu ada juga para lelaki dari spesies CALO yang menghiasi meriahnya stasiun di pagi hari yang buta itu.<br />
Mahluk-mahluk dari spesies CALO inilah yang rupanya membuat suasana antri mengantri jadi rada rusuh. Dengan tidak tahu malu, para lelaki ini menyele (nyele EYDna naon euy?) diantara para pengantri. Apesnya salah satu dari mereka akhirnya mendapat sesuatu yang sepatutnya mereka dapatkan. Sebuah dorongan membuat Si Calo Berkumis tipis terjerembab mencium lantai.<br />
Itulah stasiun, kawan!<br />
					*****<br />
“Lor asin..lor asin&#8230;lor&#8230;”<br />
“Yang lapar makan&#8230;”<br />
“Ayam&#8230;panas&#8230;lapar&#8230;.”<br />
“Kacang godog kacang&#8230;.”<br />
Seperti itulah kira-kira cara para pedagang yang lalu lalang di sepanjang gerbong kereta api kelas ekonomi. Tentu saja pemandangan seperti itu tidak akan anda dapatkan jika anda naik di kelas bisnis atau eksekutif.<br />
Mungkin suara-suara yang ditimbulkan oleh para pedagang itulah yang akhirnya membuat saya terbangun. Dengan malas saya melongok keluar, matahari udah gak malu-malau lagi ngasih kehangatan pada dunia,walaupun siang itu matahari keterlaluan juga ngasih kehangatan yang membuat saya kepanasan.<br />
 Saya masih duduk di bangku kereta api. Kereta api masih melaju kencang dan mulai memasuki wilayah Propinsi Jawa Tengah, tepatnya saya tidak tahu di mana, mungkin kereta api yang lebih tahu tepatnya dimana. Silahkan tanya sama kereta api.<br />
Saya mencoba membenahi posisi duduk saya, tapi kok rasanya makin sempit saja. Saya menengok ke samping, ternyata tempat duduk saya yang seharusnya hanya siduduki oleh dua pantat kini malah disiksa oleh 3 buah pantat. Meskipun ketiganya sama-sama pantat namun bebet dan bobotnya berbeda. Yang pertama pantat saya yang meskipun bobotnya paling ringan tapi kualitasnya tidak diragukan, kedua pantat gendut punya ibu-ibu gendut yang entah disengaja atau tida bersenggolan dengan pantat saya, lalu satu lagi pantat tua dari seorang bapak yang sama tuanya dengan pantatnya.<br />
Di hadapan saya, nampaknya Peri dan Gema mengalami hal serupa. Pantat Gema yang duduk di pojok bersenggolan dengan pantat Peri. Sementara pantat tepos punya Peri dihimpit dua buah pantat punya Gema dan seorang teteh-teteh yang tidak sempat saya identifikasi namanya, karena saya sendiri sibuk mengurusi pantat saya.<br />
Mungkin rebutan kursi memang sudah jadi makanan sehari-hari bangsa yang punya lambang Burung Garuda ini. Mulai dari rebutan krsi belakang waktu ujian akhir semester, rebutan kursi angkot yang ada cewek cantik di sampingnya, sampai rebutan kursi legislatif yang entah terbuat dari apa sehingga butuh dana besar untuk mendapatkannya.<br />
Selain ada orang yang rebutan kursi, ada juga orang yang rebutan kamar mandi. Bukan untuk mandi tentunya, tapi untuk dijadikan tempat berdesakan, karena di gerbong sudah tidak ada lagi tempat untuk berdesakan. Terkesan jorok memang, tapi mesti gimana lagi, bahkan ketika ada seorang teteh-teteh yang saya yakin sedang mengalami gejala pengen buang hajat, para penghuni kamar mandi itu dengan tidak ikhlas meridokan kamar mandi tersebut untuk menjalankan fungsi yang sebenarnya.<br />
Fungsi standar kamar mandi yang biasa dijadikan tempat mandi dan buang air telah tergagahi dengan kelakuan para bapak-bapak yang menjadikannya sebagai tempat duduk dan ngopi. Untung ada teteh-teteh pembela HAKM (Hak Asasi Kamar Mandi), yang mengusir para bapak tersebut dari kamar mandi meskipun hanya untuk sementara. Akhirnya para bapak yang tadi sempat ngopi di kamar mandi hanya bisa menutup  hidung. Sementara si teteh saya lakin tampak lega karena berhasil menunaikan tugasnya.<br />
Laju kereta api tut..tut&#8230; Ke Bandung Surabaya&#8230;Siapa hendak turun&#8230;.<br />
					*****<br />
Peri sudah tidak tampak di tempat duduknya, entah karena memang hatinya mulia sehingga memberikan tempatnya pada seorang wanita tua atau disingkat nenek-nenek atau lebih singkat cukup dipanggil nenek. Yang jelas di mata Si nenek, Peri adalah pemuda berkelakuan baik.<br />
Tapi jangan salah bukan cuma Peri yang baik. Saya juga baik, buktinya si nenek yang seharusnya duduk di tempat yang sebelumnya ditempati Peri. Saya biarkan di samping saya. Selain saya dan Peri, Gema juga baik,buktinya Si Ibu Gendut yang tadinya berhimpitan dengan saya, Gema biarkan berhimpitan dengan pantatnya.<br />
Padahal sebenarnya kalo boleh saya berharap. Saya lebih mengharapkan cewek cantik kaya Dian Sastro atau Luna Maya yang duduk berdempetan dengan saya. Saya yakin Gema juga berpikir demikian, dan Peri saya tidak tahu sekarang dia sedang berada di mana.<br />
Sekarang kamu percaya kana kalo saya dan kedua orang teman saya adalah orang baik?!<br />
Rasanya satu jam sudah cukup untuk membuat saya berdempetan dengan bokong nenek yang saya yakin lebih keriput dari pantat saya. Karena seberapa keras pun saya berimajinasi, Dian Sastro tetaplah Dian Sastro dan nenek-nenek tetaplah nenek-nenek.<br />
Jujur saja saya merasa kecewa dengan kejadian yang menimpa saya ini, karena sebenernya saya lebih mengharapkan ada cewek molek macem Dian Sastro atau paling tidaknya Luna Maya yang duduk di samping saya. Mustahil memang mendapati cewek secantik Dian Sastro naik kereta kelas ekonomi. Daripada mengeluh saya nikmati saja perjalanan kali ini di samping nenek ‘usus toep’.<br />
Semoga si nenek punya cucu yang secantik Dian Sastro dan masih ingat sama saya yang baik hati, yang tidak mengeluh duduk di sampingnya, yang tidak mengeluh waktu disenggol-senggol.<br />
Gimana rasanya pantat gendut euy, Gem?<br />
						*****<br />
Matahari udah mulai adem, kami sudah sampai ke tempat tujuan, Jogja. Jam di stasiun Lempuyangan menunjukkan pukul 16.45 menit. Kami tiba tepat waktu. Dan tempat pertama di stasiun yang kami cari adalah kamar mandi, kami hendak wudhu dan bersih-bersih. Karena kami belum shalat sebelumnya, maka kami menjama shalat lohor dan ashar. Untuk bagian sholat ini saya skip saja, karena takut disangka ria padahal saya kan Keke, begitu juga shalat-shalat lainnya, Si Peri ama Si Gema takut disangka ria juga kalo diceritain.<br />
Nah sebagai gantinya kita ganti aja pake cerita Si Aa Bacot, kita panggil saja namanya demikian. Si Aa Bacot ini adalah tipe orang yang mudah kita temui di dalam kereta kelas ekonomi. Saya yakin di setiap gerbong pasti ada orang kaya gini.<br />
	Selain banyak omong dan sering melontarkan gurauan-gurauan yang garing, Si Aa Bacot juga punya senyuman khas, kalo menurut Gema senyuman seprti yang dimiliki Aa Bacot ini adalah senyuman dari orang yang kurang ganteng. Lain dengan senyuman saya yang berkharisma.<br />
	Kalo ditambah dengan sikap gak tau malu dan egoisnya, ditambah gemar godain cewek yang menurut kaca mata saya, kebetulan saat itu saya pake kaca mata hitam, sama sesekali bukan cewek cantik. Heran ada orang kaya gini. Lucunya lagi Si Aa Bacot menganggap Dian Sastro gak ada apa-apanya dibandik Mpok Nori.<br />
	Coba bayangin sewaras apakah sebenarnya Si Aa Bacot ini????<br />
	Saya rasa cukup cerita pengganti cerita bagaimana kami shalat. Kami bertiga berjalan meninggalkan Stasiun Lempuyangan.<br />
Kemana tujuan kami selanjutnya?<br />
Kami juga sebenernya tidak tahu, mau ke The Aunty (nanti ada bab tersendiri), atau ke mana dulu, kami masih juga belum tahu. Tapi yang jelas saat itu kami tengah menunggu jemputan darin teman kami Githa, yang nama panggilannya kami rahasiakan saja ah, takut orang yang bersangkutan tersipu malu, hehe… (bener teu,Git?)<br />
Kami berjalan kira-kira 20 meter dari stasiun, dan mampir ke sebuah kedai baso yang ada di sebrang. Sebenarnya kami tidak terlalu lapar, tapi karena batere hape kami habis, makanya kita mampir di kedai itu. Maksudnya sih mau ikut nyolok listrik sambil beli baso. Ditambah lagi yang jaga kedainya cewek, meskipun tidak cantik tapi lumayan buat ganjel perut, basonya maksud saya.<br />
Cukup lama kami menganggu pemandangan si mbak tukang baso dengan kelakuan bodoh kami. Mulai dari minta difotoin pake laptop yang ada webcamnya, sampe nanya-nanya gak jelas seperti pertanyaan-pertanyaan berikut: “Mbak di Jogja kan yang khas nya Bakpia, kalo di Ethiopia apa ya?”, “Mbak nama penemu Bakpia siapa ya? Sama gak ama penemu Ethiopia?”, “Mbak Ethiopia ama Jogja deket ya?”<br />
Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang memberondong mbak-mbak tukang baso, yang listriknya kami pinta buat ngisi batere hape. Kami bertiga mulai bosan dengan jawaban si mbak yang standar dan gak seru. Tapi penjemput kami belum juga dating. Kamana heula atuh Gita teh? Padahal mau ketemu kami bertiga mah sebenernya gak usah dandan dulu. Atau jangan-jangan????<br />
Nah sekarang kami bertiga terlihat berjalan menjauhi kedai baso, karena kami rasa batere kami sudah cukup. Tentu saja kami tidak lupa membayar dan memberikan tips alakadarnya berupa ucapan terima kasih.<br />
Hanya sekitar 30 meter dari sana, tepatnya di perbatasan rel kereta api, saya melihat orang pake helm, pake kerudung, naik motor metik. Nah itu dia yang namanya Githa yang dengan senag hati menluangkan waktunya menjemput tiga lelaki keren yang sehari-harinya menghiasi Kota Bandung.<br />
Ada perasaan senang juga kecewa karena akhirnya orang yang akan menjemput kami dating. Senang karena kita gak usah ngeluarin ongkos buat naik angkutan umum dan gak usah nyasar-nyasar dulu. Kecewa karena dua mahluk yang dibawa Githa tidak sesuai harapan. Setelah membayangkan Githa akan membawa teman-teman ceweknya untuk menjemput kami, ternyata yang dibawa adalah teman kami juga yang biasa kami panggil Takur atau Pak Cik (Father Chicken), dan seorang lagi yang kami juga gak kenal dan setelah berkenalan ternyata namanya saya lupa.<br />
Ternyata jangan-jangan yang sempat saya dan kedua teman saya pikirkan tidak terjadi. Janganp-jangan yang saya maksud adalah jangan-jangan yang menyebabkan Githa agak lama menjemput kami, jangan-jangan Githa ngajak temen ceweknya terus temen cewek Githa ini jadi bingung mau boncengan ama yang mana, karena kami bertiga nyaris sama ganteng. Jadi mereka agak lama untuk mengamati foto-foto kami yang mungkin tersimpan dalam salah satu file foto di komputer punya Githa. Ternyata semua itu cuman jangan-jangan.<br />
Karena gak mau dikira pasangan homo, kami bertiga pun mengadakan rapat intern untuk menentukan siapa yang bakal boncengan dengan Githa (jangan geer Git bukan maksud apa-apa cuma gak mau disangka homo aja, kok, hehe…). Akhirnya tidak ditemukan kesepakatan. Dan diputuskan bahwa siapa boncengan dengan siapa tergantung siapa yang ngajak. Deal tercapai.<br />
Mungkin gara-gara kebaikan saya pada si nenek di dalam kereta akhirnya yang berboncengan dengan Githa adalah saya, dari sini terbukti bahwa saya berada sedikit di atas kedua teman saya dalam level kegantengan kami yang beda-beda tipis. Peri bareng Pak Cik, dan Gema bareng lelaki yang saya lupa namanya.<br />
Kami pun berlalu menuju jalan Kaliurang atau biasa disebut Jakal oleh orang Jogja. Entah perjalanan seperti apa yang dialami kedua teman saya, yang jelas saya boncengan sama Githa paling belakang dan jauh tertinggal. Sengaja saya membawa motor dengan santai biar bias menikmati panorama kota Jogja di sore hari.<br />
Obrolan-obrolan standar dua orang teman semasa SMA mewarnai perjalanan saya yang mengendalikan motor dan Githa yang saya bonceng. Mulai dari: gimana kuliah?, kapan lulus?, skripsi udah sampe mana?, si ini gimana?, si itu gimana?. Sebuah obrolan dua orang yang pernah satu kelas, satu SMA, dan sama-sama mahasiswa semester 8. Bedanya Githa lagi nulis skripsi, saya lagi bingung nulis surat permohonan maaf buat ibu saya yang pengen liat anaknya segera di wisuda.<br />
Ambu doain Kakang supaya pulang dari Jogja kakang tambah pinter.<br />
*****<br />
	Waktu menunjukkan ba’da magrib dan kobla isya, tepatnya silahkan tanyakan pada ulama setempat. Kami sedang berada di sebuah komplek kamar kos. Kesan pertama yang saya dapat dari tempat tersebut cuman satu, tempatnya keren pisan, urban-urban kumaha???<br />
	Saya berdiri sambil merokok tepat di depan pintu kamar Pak Cik. Peri dan Pak Cik sedang menonton tv yang menayangkan tayangan Syekh Fuji yang katanya bakal ditahan. Syekh Fuji memang fenomenal, pikir saya. Sedang Gema sedang membereskan ransel-ransel bawaan kami, dan menyiapkan barang-barang keperluan kami hari ini.<br />
	45 menit setelahnya kami sudah berada di Monumen Tugu. Saya, Gema, Peri, dan Pak Cik. Sebenernya Pakcik sempat ragu untuk ikut, namun berhubung kami butuh pothograper untuk mengabadikan momen di mana kami menggagahi Jogja, maka Pak Cik kami ajak ikut.<br />
	Tiga orang yang sedang berpose di bawah Monumen Tugu itu adalah saya, Gema, dan Peri. Sedangkan yang sedang menjadi pothograper gadungan itu adalah Pak Cik. Sebenarnya Pak Cik sempat mencegah kami untuk ngambil gambar di situ pada jam segini.<br />
	Menurutnya orang-orang biasanya foto-foto di sana saat menjelang tengah malam, saat lalu lintasnya agak sepi. Tapi kami bertiga bukanlah orang biasa, dan lalu lintas saat itu juga tampak biasa-biasa saja. Masa kalah ama lalu lintas yang biasa-biasa saja.<br />
	Selesai foto-foto kami teruskan perjalanan kami, masih dengan berjalan kaki sambil terus berbincang-bincang dengan bahasa daerah kami, bahasa sunda. Rasanya enak pakai bahasa sunda di sana, enak bisa ngomong jorok tapi orang lain pada gak ngerti.<br />
	Akhirnya kami sampai di Malioboro.  Setelah sebelumnya melewati banyak warung lesehan di pinggir jalan ada Ayam Penyet 1, Ayam Penyet 2, Ayam Penyet 3, Ayam Penyet 4, juga ada warumg tenda yang menjual menu daging babi yang tidak bisa saya temui di Bandung.<br />
	Kami berhenti sejenak di warung yang menjual kopi jos dan angkringan. Menurut Pak Cik kalo kita nongkrong di warung kopi jos bisa berjam-jam karena enak buat dijadikan tempat ngobrol. Dan saya juga merasa demikian.<br />
	Ada satu kejadian menarik saya alami ketika sedang duduk di sana. Seorang pengamen cilik datang menghampiri kami menyanyikan lagu yang saya juga gak tahu apa judulnya., yang jelas lagu tersebut lagi hits-hits nya di radio. Namun bukanlah lagunya yang menarik untuk diceritakan. Tapi kelakuan si pengamen cilik yang kebetulan tidak kami beri uang receh karena sebelumnya uang receh kami habis untuk diberikan pada pengamen yang dulunya juga pengamen cilik yang menyanyikan lagu Slank.<br />
	Coba perhatikan bagaimana sorot matanya melihat sebuah kotak yang tergeletak di depan saya. Sorot mata yang sama dengan saya ketika melihat kotak tersebut. Sebuah kotak berisi delapan batang rokok. Ternyata si pengamen cilik meminta ganti uang receh dengan sebatang rokok.<br />
	“Pake itu aja, Mas,” pengamen cilik tersebut tersipu sambil menunjuk bungkus rokok yang dari tadi dia perhatikan.<br />
	“Ini?” tanya saya tidak yakin. Masa sih anak sekecil itu udah suka merokok.<br />
Anak itu menjawab dengan sebuah anggukan sambil tersenyum.<br />
“Emang suka?” Gema ikut ngomong.<br />
“Ya iyalah, maknyussss,” ujar bocah tersebut norak.<br />
“Ntar dimarahin  loh”<br />
“Ama siapaa?”<br />
“Orang tua kamu, emang siapa lagi?”<br />
“Emang saya punya orang tua?” ujar bocah tersebut sambil tak melepaskan pandangannya dari kotak rokok di hadapan saya.<br />
Saya maupun Gema tidak bisa mengabulkan permintaan bocah tersebut. Meskipun kami berdua tahu bahwa merokok itu enak, tapi kami juga tahu bahwa rokok itu hanya dijual pada orang berusia 18 tahun ke atas. Kalo ngasih? Sama saja pikir saya kemudian. Kami coba menawarkan angkringan yang sedang kami nikmati pada bocah tersebut. Namun tampaknya dia tetap ingin rokok. Dan kami tetap tidak mau meracuni paru-paru bocah tersebut, cukuplah kami saja.<br />
Karena permintaannya tidak kunjung kami kabulkan, bocah tersebut pergi meninggalkan kami sambil tak lupa memberikan oleh-oleh berupa makian dalam bahasa yang saya tidak paham artinya.<br />
Kemudian saya tanyakan Pak Cik apa arti dari kalimat yang terlontar dari bocah tersebut. Dan saya kaget ketika tahu bahwa arti dari kalimat tersebut adalah.<br />
“DI KARUNGAN SIAH KU AING!!!!”<br />
					*****<br />
Sekarang Pak Cik sudah pulang sementara saya, Peri, dan Gema sedang menawar batik di Malioboro. Sementara banyak bule lalu lalang di depan kami sambil merokok Marlboro. Samar-samar saya paham kenapa tempat tersebut dinamakan Malioboro. Bagaimana dengan kamu?<br />
Setelah tahu kenapa tempat tersebut bernama Malioboro, saya melanjutkan transaksi saya yang tertunda. Menurut teori yang beredar di kalangan pembeli, sebagai pembeli kita harus bijak. Jangan mau tertipu oleh harga yang ditawarkan oleh pra pedagang. Ada baiknya kita menawar dahulu sebelum membeli suatu barang.<br />
Cara menawar pun harus bijak, jangan sampai barang yang harganya 60 ribu kita tawar satu juta atau kita tawar barang yang harganya satu juta jadi seribu rupiah. Tapi kalo memang kamu ingin mencoba hal di atas saya tidak akan melarang. Karena kebijakan ada di tangan kamu.<br />
Satu jam kemudian kami selesai berbelanja di Malioboro, ada beberapa baju batik, tas laptop, dan sebuah rok motif batik. Beli rok buat siapa ya? Kalo mau tahu, Peri lebih tahu jawabannya.<br />
Kami melanjutkan misi menggagahi Jogja. Saat itu saya sedang menghisap rokok, Gema sedang menyalakan rokok, Peri sedang memperhatikan tukang tato yang tatoan sedang mentato tubuh seorang bule. Gema ikutan nengok tapi saya tidak ada bedanya dengan mereka berdua, saya ikutan nengok tanpa berkedip. Karena kalo sekali berkedip selanjutnya dosa, kalo gak berkedip itu namanya nikmat.<br />
Kami pun akhirnya berkedip nyaris bersamaan, kami pun melanjutkan perjalanan kami yang tertunda beberapa saat di depan tukang tato. Kami berjalan ke arah Malioboro Mall, yang di depannya ada peta kota Jogja. Gema dan Peri sempat berfoto di depan sana, tapi hasilnya kurang bagus karena saya gak ikutan difoto.<br />
Kami memutuskan bahwa tujuan selanjutnya adalah ke tempat bapia kemudian ke alun-alun selatan tempat ditanamnya pohon beringin kembar. Dan menurut peta yang ada di depan kami jaraknya lumayan jauh. Kami putuskan untuk naik becak.<br />
Sekarang kami sudah duduk di atas becak dengan posisi yang diperintahkan tukang becak, saya merokok, Gema merokok, Peri batuk-batuk. Nama tukang becaknya Pak Agus, asalnya dari Gunung Kidul.<br />
Selama perjalanan kami banyak mendapat informasi dari Pak Agus mengenai adat istiadat yang beerlaku di Jogja. Mengenai kepercayaan masyarakatnya pada tkhayul, mengenai acara Gunungan, Sekaten, dan misteri beringin kembar. Ternyata selain jadi tukang becak Pak Agus juga cocok jadi guide.<br />
Andai saja Pak Agus penah kuliah.<br />
					*****<br />
Alun-alun selatan kota Jogjakarta tampak ramai malam itu. Cahaya bulan Purnama menambah indah suasana malam di Kota Gudeg tersebut. Konon di tempat itu terdapat dua buah pohon beringin yang biasa disebut beringin kembar yang apabiola kita berhasil lewat di antaranya maka nasib baik menanti kita di masa yang akan datang.<br />
Coba lihat lelaki yang berjalan dengan langkah mirip tentara lagi marching. Itu adalah Peri yaang sejak dari tadi ingin sekali membuktikan mitos mengenai keajaiban beringin kemb. Dengan tutup mata mata yang disewa seharga Rp.3000,- Peri memulai petualangannya membuktikan mitos beringin kembar.<br />
Di belakangnya mengikuti dua orang lelaki. Yang satu pake kaca mata hitam, satunya lagi memakai kaca mata putih. Yang memakai kaca mata hitam adalah saya, dan yang satunya lagi adalah Gema. Tugas kami berdua di sini adalah untuk memandu Peri melewati beringin kembar tersebut. Bukan untuk memberi tahu arah, tapi untuk memperingatkan orang bahwa ada genderuwo mau coba peruntungannya di sana. Menurut mitos yang beredar, bahwa barang siapa yang bisa lewat diantara kedua pohon tersebut, maka nasibnya akan mujur dan gampang dapat jodoh. Mari kita sama-sama membuktikannya.<br />
	Pada sepuluh langkah Peri berjalan pada trek yang benar alias lurus. Saya rasa Peri pun dapat merasakannya, buktinya dia cengngesan dan tampak sangat percaya diri bisa lewat diantara kedua pohon tersebut pada kali pertama mencobanya.<br />
 “Permisi Mas, Mbak , mau lewat.”<br />
Begitu kira-kira cara saya melapangkan jalan bagi Peri supaya gak ada puteri keraton yang kena sial ditabrak Hanoman.<br />
Pada langkah-langkah berikutnya, Peri mulai kehilangan ritme ia mulai berjala tidak tentu tujuan. Ia mulai berjalan ke arah yang salah. Saya dan Gema hanya terpingkal-pingkal melihat ulahnya. Setelah kami rasa cukup jauh Peri melenceng kami mnyuruhnya membuka tutup mata yang terpasang menutupi matanya.<br />
“Anyis, kok jauh banget nyasarnya.”<br />
Begitu kira-kira ucapan Peri ketika melihat posisinyPeri ketika melihat posisinya berdiri sekarang. Padahal menurutnya ia berjalan lurus dan yakin bisa menaklukan beringin kembar sekali jalan.<br />
Berikutnya kami melakukan hal yang sama bergiliran. Saya, Gema, dan Peri saling bahu membahu mencoba adu nasib di tempat itu karena kalaulah mitos itu benar pastinya esok kami akan lebih bersenan-senang di Jogja.<br />
“Menurut kamu gimana biar berhasil?” tanya Peri yang sejak tadi paling serius ingin berhasil melewati sela-sela beringin kembar tersebut.<br />
“Menurut saya biar berhasil mendingan kita gak usah pake tutup mata,” jawab saya polos.<br />
“Atuh itu mah pelanggaran,” timpal Gema.<br />
“Kalo menurut saya kita harus begini&#8230;..begitu&#8230;&#8230;..begini&#8230;.dan seterusnya&#8230;&#8230;”<br />
Peri menjelaskan teori-teorinya mengenai cara agar bisa lewat diantara kedua pohon tersebut. Mulai dari dihitung sudut elevasinya, berjalan mundur, loncat kodok, sampe jalan pake tangan. Beberapa kali dicoba pun hasilnya tetep ngawur. Bahkan beberapa kali bertabrakan dengan orang lain yang juga mencoba teorinya yang sama-sama ngawur. Dan sempat juga menabrak mbak mbak SPG. Lumayanlah gagal di beringin kembar berhasil di gunung kembar.<br />
Kaki kami mulai lelah , kami duduk bersila di atas tanah lapang sambil sesekali memandangi para SPG salah satu produk rokok yang bepakaian layaknya SPG kebanyakan. Tapi harus saya akui walaupun kota Jogja lebih teratur daripada Bandung, SPG kota Bandung tetaplah lebih sedap dipandang.<br />
  Seiring dengan bertambahnya SPG yang berkeliaran di skeliling kami, bertambah pula rasa penasaran saya untuk bisa berhasil lewat diantara kedua pohon aneh tersebut. Saya mengambil tutup mata dari tangan Peri, kemudian memasangnya supaya mata saya tertutup. Setelah sebelumnya meminta Peri untuk mengosongkan jalan, karena ada Arjuna mau lewat.<br />
Saya memulai langkah dengan ringan. Entah bagaimana saya melangkah, entah berputar-putar di tempat kayak beberapa orang sebelumnya, atau malah saya tanpa sadar junmpalitan. Yang jelas pada saat Peri menyuruh saya membuka tutup mata saya, saya telah berhasil lewat diantara beringin kembar dengan mulus dan sangat lurus.<br />
Sekarang saya paham kenapa banyak orang yang gagal dan malah berbelok ketika semakin mendekati pohon tersebut. Saya rasa intinya kita tidak boleh meminta apapun pada mahluk selain Allah apalagi sama pohon beringin. Bahkan untuk minta bisa jalan lurus saja menurut saya tidak boleh. Kalo saya tidak salah dengar,  minta sesuatu pada selain Allah itu musyrik. Buktinya dengan tidak minta apa-apa pada pohon beringin itu, saya bisa lewat dengan mudah.<br />
Tapi meski demikian tetap saja saya bangga bisa melakukan hal tersebut.<br />
					*****<br />
Kami bertiga berjalan meninggalkan alun-alun selatan kota Jogja. Kami sudah bosan main-main di sana. Sambil terus mengobrol dan menyalakan berbatang-batang rokok kami terus berjalan kaki.<br />
Kami sampai sebuah pertigaan. Tampak sebuah motor di depan kami berjalan pelan, sementara dari arah belakang kami sebuah motor dijalankan agak ngebut, maklum waktu itu tengah malam dan jalanan kebetulan tengah sepi. Jadi waktu itu adalah waktu tengah maklam yang tengah sepi.<br />
Kedua motor yang tadi sempat kami lihat tampak terkapar setelah saling tabrak tidak lama setelah melewati kami. Kami yang berada hanya 10 meter dari tempat kejadian segera mempercepat langkah menghampiri.<br />
Ternyata yang menaiki motor masing-masing motor ada dua orang. Jadi jumlahnya  2+2. Dua orang pengendara motor yang agak ngebut adalah dua orang pemuda yang saya kira sedikit lebih muda dari saya, sedangkan motor yang satunya lagi yang jalannya agak pelan dikendarai oleh seorang bapak dan seorang kakek yang sudah sangat tua.<br />
Ketika kami hampiri, si kakek tampak terduduk dengan wajah pucat. Sementara dua orang yang membawa motor agak kencang juga duduk di trotoar dengan panik. Mungkin mereka meerasa bersalah.<br />
“Gimana, Pak? Gak apa-apa?” tanya saya pada si bapak yang membonceng si kakek. Sementara Peri mencoba menolong si kakek, dan gema menghampiri dua orang pemuda yang tampak panik.<br />
“Gak apa-apa, motornya gimana?” res[pon si bapak dengan napas tersegal.<br />
Kemudian saya memeriksa keadaan motor si bapak. Sementara itu orang-orang yang kebetulan menyaksikan kejadian tersebut mulai memenuhi TKP.<br />
“Gak apa-apa mas cuman lecet dikit.”<br />
“Kalo motormu bagaimana?” tanyanya agak galak.<br />
Motor saya? Perasaan saya dari tadi jalan kaki kok ditanya motor saya bgaimana. Oh mungkin dia bertanya tentang Si Brengbreng motor vespa saya yang saat ini terparkir di halaman depan rumah kedua orang tua saya di Tasikmalaya.<br />
“Oh motor saya gak apa-apa cuman kadang suka mogok.”<br />
“Mogok gimana? Orang tadi jalannya keras banget.” Nada bicara bapak itu meninggi.<br />
“Emang bapak lihat motor saya di mana? Jangan-jangan motor saya ada yang nyuri sampai ke sini.” Saya ikutan panik. Meskipun sering mogok dan nyusahin tapi Si brengbreng tataplah motor vespa yang sangat saya cintai.<br />
	“Nah yang itu, yang tadi nabrak saya. Bukannya itu motor si mas.”<br />
	Karena waktu itu gelap, dan lagi tengah malam. Dan sepertinya si bapak pun matanya minus, si bapak menyangka kalo yang tadi menabraknya adalah saya.<br />
	“Oh kalo motor iru bukan punya saya, kalo itu bapak tanya sama yang punyanya saja. Itu tuh!” saya menunjuk ke arah dua pemuda yang merupakan tersangka sebenarnya. Dua tersangka yang sempat membuat saya sesaat jadi tertuduh.<br />
	Setelah merasa cukup membantu di sana dan tidak ingin berurusan lebih lanjut dengan polisi. Saya sudah meras cukup dituduh penabrak oleh bapak-bapak yang saya tolong, Peri telah cukup baik membantu si kakaek yang dibonceng si bapak, Gema juga sudah cukup berbaik hati sama orang yang membuat temannya dituduh menabark bapak-bapak dabn kakek-kakek juga motornya. Kami juga takut ditanya macam-macam kalo ada polisi yang memeriksa TKP dan jadwal rekreasi kami terganggu. Saya, Gema, dan Peri meninggalkan tempat tersebut.<br />
	Bapak-bapak, emas-emas, lain kali hati-hati ya.<br />
						******</p>
<p>Yogyakarta, 9 Maret 2009<br />
Sekarang kami sedang berada di dalam toko waralaba yang mereknya Circle K. Sebelum sampai ke tempat ini, kami sempat singgah di depan keraton yang saat itu sedang ada upacara memandikan gamelan yang pagi harinya akan dipakai dalam rangkaian acara Maulid Nabi. Sempat juga kami lewat di alun-alun utara yang katanya di sana sedang ada sekaten. Dari alun-alun utara kami juga sempat duduk-duduk sambil merokok di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret.<br />
Dan sekarang kami sudah berada di Tugu di emperan Circle K. Kami merasa cukup lelah berjalan dari sejak kemarin malam sampai dini hari. Dan kalo tidak salah liat waktu itu sudah pukul 2 dini hari. Artinya hari sudah bukan Minggu lagi, hari telah berganti nama jadi Senin.<br />
Daya tahan tubuh saya sudah mencapai batasnya, begitu juga Gema, dan Peri? Jangan ditanya lagi, Peri sudah terkapar sambil memejamkan mata. Rencananya kami hanya duduk-duduk sebentar sambil minum susu dan air mineral di sana. Tetapi karena Peri tampak sudah tidak mungkin diajak berjalan lagi, begitu juga saya dan Gema. Kamipun sepakat untuk bikin kamp dadakan di sana.<br />
   Saya menyalakan sebatang roko agar badan saya terasa sedikit lebih hangat. Gema juga sempat menyalakan sebatang rokok dan berbincang-bincang dengan saya sebelum akhirnya menyusul Peri untuk sama-sama memejamkan mata.<br />
Sementara kedua teman saya tertidur, saya masih terus merokok dan memperhatikan lalu lintas yang sangat sepi di depan mata saya. Saya melirik ke arah Monumen Tugu, tampak sekumpulan anak muda yang nampaknya mahasiswa yang lebih muda dari saya yang sudah semester 8 ini.  Mereka tampak sedang asik foto-foto di depan Monumen Tugu.<br />
Kemudian saya memalingkan arah pandangan ke arah Kali Code, tampak sebuah sepeda setinggi 3 meter melaju kencang ke arah Monumen Tugu. Bagaimana cara orang itu naik sepeda, pikir saya.<br />
Saya mulai ngantuk. Sebelum saya tidur saya mengirim sebuah pesan singkat pada seorang teman di Bandung agar membangunkan saya melalui telepon atau sms agar saya tidak bangun kesiangan. Sementara saya coba memejamkan mata, ada orang memakai topi dan baju seragam Circle K menghampiri saya. Mas-mas yang satu ini nampaknya kasir di tempat itu yang sebelumnya sempat melayani transaksi saya dan kedua teman saya.<br />
“Abis jalan-jalan, Mas?” tanyanya ramah.<br />
“Iya, Mas.” Jawab saya sambil tersenyum membalas ramah tamah mas itu.<br />
“Dari mana, Mas?”<br />
“Dari alun-alun selatan mas jalan kaki.”<br />
“Asal mas dari mana?”<br />
“Oh, saya dari Bandung, Mas.”<br />
“Dari Bandung toh, Saritem nya mantap tuh.”<br />
Saya tertawa kecil merespon si mas. Obrolan kami pun terus berlanjut dan akhirnya saya tahu kalo orang itu bernama Heru. Dengan baik hati Mas Heru menawarkan sebotol britis atau bir tiis alias bir dingin yang diambil dari toko itu untuk saya. Agak ragu saya menerimanya, karena sudah sejak lama saya berhenti minum yang beginian.  Tapi udara cukup dingin menusuk tubuh saya. Lagipula saya gak enak sama Mas Heru yang telah berbaik hati menemani saya mengobrol menghabiskan waktu sebelum pagi menjelang nanti.<br />
Saya pun menerimanya dengan senang hati. Rasanya tubuh saya sedikit lebih hangat setelah menerima minuman gratis dari Mas Heru. Dan obrolan kami pun tambah hangat. Kami berdua tidak tampak canggung seperti layaknya orang yang baru pertama kali bertemu. Kami berdua tampak seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu.<br />
Bir yang saya dan Mas Heru minum sudah hampir habis. Sementara obrolan kami masih panjang, enak memang punya teman penduduk lokal. Kita jadi banyak tahu kebudayaan di tempat itu.<br />
Sebuah motor parkir tepat di depan kami. Pengendaranya menghampiri kami. Ini adalah Mas Agung teman satu kampung dengan Mas Heru. Saya tahu namanya Agung karena di bilang begitu. Bertambah satu teman saya di Jogja. Sama dengan mas Heru, mas Agung juga orangnya ramah meskipun katanya dia adalah bos preman di pasar ikan. Buktinya sebotol Red Label dan sebotol Smirnoff dia keluarkan cuma-cuma. Suasana betambah hangat saja.<br />
Cukup lama kami bertiga mengobrol. Banyak topik yang kami bicarakan, sesekali saya bertanya tentang adat istiadat yang berlaku di Jogja, sesekali Mas Agung dan Mas Heru juga bertanya mengenai Bandung. Kami saling memuji daerah kami masing-masing. Menurut saya jogja itu kotanya lebih teratur terus penduduknya ramah-ramah. Sementara menurut kedua orang teman ngobrol saya, cewek Bandung cantik-cantik bikin mata gak belekan menurut mereka.<br />
Hari sudah menjelang pagi, Mas Agung nampaknya hendak pamitan katanya sih mau ke Sarkem dulu baru tidur, abis itu kerja. Sebelum pergi Mas Agung sempat mengajak saya ke Sarkem, katanya kalo sama dia saya bisa dapet gratis. Dengan halus saya menolak bagaimanapun nakalnya saya, saya belum terpikir untuk seperti itu. Kalo cuman liat sih tertarik juga.<br />
Akhirnya Mas Agung pergi dengan motornya kemudian berbelok ke kiri ke arah Sarkem. Mas Heru pun nampaknya harus kembali bekerja karena sudah mulai banyak pelanggan yang muncul. Sementara Gema dan Peri nampaknya sudah sadar dengan penuh. Sebelum masuk ke dalam toko, Mas Heru sempat menawarkan untuk kami bersih-bersih dulu di kamar mandi belakang toko.<br />
Kalo ada penghargaan kota mana yang premannya ramah-ramah maka saya akan bilang.<br />
“The award goes to Jogja”<br />
					*****<br />
‘The Aunty’ itu lah istilah yang kedua teman saya gumakan untuk memanggil pemilik Cakra Kusumah Hotel yang tidak lain adalah adik dari bapak Nana Kurniadi yang merupakan ayah dari Rizky Anindyajati yang tidak lain adalah saya sendiri.<br />
Sekarang saya ditemani kedua teman saya sedang berjalan masuk ke dalam komplek Cakra Kusumah. Sebelumnya kami diantar pake motor Pak Cik ke tempat ini. Kami berjalan melewati recepsionist, berjalan ke arah joglo. Joglo ini adalah tempat dimana para tamun hotel menyantap sarapan. Masakan yang disajikan di Joglo biasanya beragam, tergantung tamu dari mana saja yang kebetulan menginap di sana. Biasanya jika banyak tamu bule selalu ada m,asakan eropa yang dihidangkan, sedang jika ada tamu dari jepang masakan jepang yang disajikan.<br />
Kami berjalan terus melewati joglo menuju komplek belakang hotel tempat Atis beserta suami beserta kedua anaknya tinggal. Atis adalah sapaan saya untuk bibi saya yang nama aslinya Teti Budi Susilawati. Sejarah nama atis sendiri berasal dari kata “Artist” karena bibi saya ini dulunya seoarng seniman. Namun ketika kecil saya belum bisa melafalkan huruf “R” jadi ‘Artist’ saya lafalkan jadi ‘Atis’.<br />
Setelah mengucapkan salam saya dan dua teman saya dipersilahkan masuk ke dalam rumah punya Atis. Sambutan yang cukup hangat saya terima dari keluarga Atis terutama kedua anaknya Belva dan Azwa.<br />
Belva terlihat sangat cocok dengan rambut dikepang dua, dan Azwa gayanya biasa-biasa aja. Tapi menurut Atis sekarang Azwa sedang seneng-senengnya belajar gitar, bahkan kemana-mana gitar kecilnya selalu ia bawa.<br />
Saya dan Atis mengobrol sejenak sementara dua teman saya mendengarkan dengan manis sambil sesekali ikutan ngobrol sambil senyum-senyum. Beberapa nasihat dari seorang bibi pada keponakannya sempat diberikan Atis pada saya. Nasihat supaya saya cepat lulus kuliah, supaya saya cepet dapet jodoh buat dikenalkan sama keluarga besar, juga nasihat agar bisinis saya lancar.<br />
Kalo ada orang selain ibu saya yang paling saya dengarkan ucapannya, Atis adalah orangnya. Sama seperti ibu, Atis tidak pernah terlalu menggurui saya ketika memberi nasihat. Dua orang ini sangat terbuka pada pendapat saya yang kadang-kadang suka rada nyeleneh. Mungkin karena dulu juga Artis pernah ngoboy kaya saya jadi lebih mengerti saya daripada kebanyakan keluarga saya.<br />
Carta Atis mendidik kedua anaknya pun menurut saya sangatlah bijaksana. Belva yang sekarang lagi giat-giatnya jualan misalnya. Setiap hari anak ini tidak pernah dikasih uang jajan langsung dari tangan Atis tapi melalui tangan para pegawai hotel yang sebelumnya sempat diberi uang oleh Atis untuk membeli barang dagangan Belva setiap sore hari. Begitu juga Azwa yang kata Atis tiap sore jadi musisi cilik yang meramaikan kompleks Cakra Kusumah.<br />
Stelah sempat ikut sarapan di joglo, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan kami. Kali ini giliran Prambanan yang kami gagahi. Setelah bersalaman dan cium tangan sama Atis dan keluarganya kami melanjutkan perjalanan.<br />
“Tis nuhun pisan salam tempel sareng nasihatna”<br />
					******<br />
Jam sepuluh pagi waktu Jogjakarta.<br />
Kami bertiga sedang berada di halte Trans Jogja menunggu angkutan menuju Prambanan. Trans Jogja adalah jenis angkutan yang mirip Buss Way di Jakarta. Dengan bermodal tiga ribu rupiah kita bisa diantar keliling Jogja.<br />
Sekitar setengah jam waktu yang kami butuhkan dari Halte Kaliurang ke Halte Prambanan. Sekarang kami berada di halte Prambanan. Kompleks Prambanan sudah terlihat di depan mata kami. Kami berjalan menghampiri tukang andong di seberang halte.<br />
Kali ini kami gagal menawar harga. Menurut pak kusir, jarak ke pintu prambanan dari situ jauh, jadi gak bisa turun harga. Dengan harga diri kami sebagai turis lokal yang gak kalah dari turios asing, kamipun sepakat dengan harga yang ditawarkan. Besarnya kalo mtidak salah dua puluh ribu rupiah.<br />
Ternyata jauh yang dibilang Pak Kusir hanya berjarak tiga menit perjalanan. Kami kena tipu. Tapi bukan turis namanya kalo gak ketipu.<br />
	Sekarang saya dan Gema berada di depan pintu masuk prambanan. Peri mengantri membeli tiket. Ternyata harga tiketnya sudah naik dua kali lipat terhitung dari harga ketika empat bulan yang lalu saya pergin ke sana.<br />
   	Kami masuk ke komplek candi Prambanan yang dikenal juga dengan nama candi Loro Jongrang. Konon loro Jongrang itu dulunya manusia yang sangat cantik yang dikutuk menjadi batu tidak beda jauh nasibnya dengan Malin Kundang. Bedanya Malin dikutuk ibu, Loro dikutuk prabu.<br />
	Komplek utama dari komplek candi ini adalah komplek Candi Syiwa, Wisnu, dan Brahma yang dikenal dengan nama Trimurti. Dengan Brahma sebagai pencipta, Wisnu penjaga, dan Syiwa sebagai kepala geng.<br />
	Sama seperti empat bulan lalu, kompklek candi Prambanan pun belum selesai dipugar. Dan masih sama seperti dulu, pengunjung masih belum boleh masuk ke komplek utama dan hanya bisa melihat dari luar dengan dibatasi pagar besi.<br />
	Tampak tiga borang turis sedang berpose untuk mengabadikan gambarnya di candi Prambanan. Itu yang pake baju hippies adalah saya, lalu yang pake batik namanya Peri, dan yang pake baju hitam bermotif namanya Gema. Lalu bapak-bapak yang menenteng kamera itu adalah seorang fotografer keliling.<br />
	Setelah dua kali difoto, kami melanjutkan perjalanan menggagahi Prambanan. Tampak seorang pemandu wisata sedang menjelaskan sejarah pembangunan candi Prmbanan pada para bule dengan bahasa inggris. Ada juga sekumpulan anak kecil yang minta berfoto bareng bule. Heran kok gak ada yang minta difoto sama saya.<br />
	Sempat pula kami memasuki museum Prambanan, dan ruang audio visual yang memutarkan sejarah pembangunan Prambanan. Udara di dalam ruangan audio visual adalah kebalikan udara di luar. Di sana terasa sangat adem dan gak panas.<br />
Film mulai diputarkan. Menurut mas-mas yang di depan filmnya berdurasi 20 menit. Say duduk di kursi yang cukup empuk. Kok filmnya gelap pikir saya, kok gak ada apa-apa. Mana Loro Jongrang nya?<br />
“Mas-mas, bangun! Udah selesai.” Ujar mas-mas penjaga tiket sambil menepuk pundak saya.<br />
Ternyata selama pemutaran film bnerdurasi 20 menit itu, saya ketiduran saking lelahnya. Dan parahnya lagi saya ketiduran selama 40 menit artinya selama dua putaran film tersebut saya ngorok mengganggu pengunjung lain.<br />
					******<br />
Lempuyangan sore itu dipadati banyak calon penumpang. Berbeda dengan di Kiara Condong di stasiun ini tidak terlalau banyak calo yang berkeliaran. Diantara kerumunan calon penumpang itu ada kami yang juga sama-sama calon penumpang.<br />
Dengan posisi duduk bersila kami bertiga menunggu kedatangan kereta tujuan Bandung yang berangkat jam sembilan nanti. Sekarang waktu masih jam enam sore, masih tiga jam menjelang kedatangan kereta.<br />
Sebenarnya sepulang dari Prambanan kami berniat menaiki bus ke bandung agar kami masih sempat tiba di Bandung pada hari yang sama. Hari senin. Tapi karena bus jurusan Bandung yang tersisa hanya kelas eksekutif yang harganya lumayan, kami pun urung naik bus.<br />
Di stasiun kereta saya kembali mendapat kenalan baru, namanya Joko. Berdasarkan obrolan singkat kami dengan Joko. Saya bisa menarik kesimpulan bahwa Joko ini merupakan tipe orang yang menyerah pada kelamin.<br />
Joko datang ke Jogja hari Sabtu. Artinya lebih cepat satu hari dari kami bertiga. Joko datang hanay beerdua dengan pacarnya. Namun bukannya liburan yang menyenangkan yang diterima Joko, melainkan hiburan yang menyebalkan. Bagaimana tidak selama tiga hari di sana, Joko hanya sempat mengitari kawasan Malioboro saja. Alasannya apa lagi kalo bukan pacarnya yang lebih sibuk minta ditemani belanja macam-macam daripada keliling kota cari tempat wisata.<br />
Selain hobi belanja pacar Joko juga kelakuannya kayak anak kecil. Menurut Joko pacarnya inbi senang sekali banting-banting barang kalo lagi marah. Parahnya lagi barang yang dibantingnya ini bukanlah barang miliknya pribadi, tapi barang-barang Joko atau barang-barang yang ada di penginapan.Makanya mending kaya saya aja nginep di emperan aja mas Joko ujar saya dalam hati.<br />
Kereta Joko sudah tiba di stasiun. Joko tampak berlari takut kehabisan tempat di kereta. Tampak Joko memasuki gerbong yang terpisah dengan pacarnya. Akhirnya Joko jadi pria sejati juga, pikir saya.<br />
Tidak lama kemudian kereta kami pun sampai. Sama seperti Joko kami pun dengan segera menghampiri kereta itu takut gak kebagian tempat duduk. Ternyata secepat apapun saya dan kedua teman saya tetap saja kami tidak kebagian tempat duduk.<br />
Akhirnya kami memaksakan diri untuk nyaman duduk di perbatasan gerbong kereta di dekat kamar mandi. Rasa lelah dan kantuk yang amat sangat membuat kami merasa nyaman untuk memejamkan mata menunggu hari esok di kota Bandung.<br />
Mesin kereta mulai dinyalakan lalu melaju meninggalkan kota Jogja beserta kenangan yang kami buat selama dua hari kami di sana.<br />
Sayonara Jogja sampai kita berjumpa lagi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roadtoruins.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roadtoruins.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roadtoruins.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roadtoruins.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roadtoruins.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roadtoruins.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roadtoruins.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roadtoruins.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roadtoruins.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roadtoruins.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roadtoruins.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roadtoruins.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roadtoruins.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roadtoruins.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=49&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roadtoruins.wordpress.com/2009/03/17/the-award-goes-to-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e967a1f9ce8c023c4683996f389f3802?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">roadtoruins</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bab 3</title>
		<link>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/22/bab-3/</link>
		<comments>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/22/bab-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 14:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>roadtoruins</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ansori]]></category>
		<category><![CDATA[bapak ifah]]></category>
		<category><![CDATA[ifah]]></category>
		<category><![CDATA[mpok darmi]]></category>
		<category><![CDATA[tukang warung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roadtoruins.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Cinta datang secara tiba-tiba Dan tiba-tiba saya mendatanginya (Ansori Al Falseto) Putra dan ketiga temannya berhasil kabur meninggalkan Unsil dengan susah payah lebih sulit daripada aksi Dominic Purcell dan Welthworth Miller dalam film Prison Break. Dengan aliran darah yang masih tinggi dan adrenalin yang masih melaju kencang keempatnya memarkirkan motor mereka di depan sebuah warung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=44&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IT">Cinta datang secara tiba-tiba</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IT">Dan tiba-tiba saya mendatanginya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IT">(Ansori Al Falseto)<span style="color:red;"></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="IT"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="IT"><span> </span>Putra dan ketiga temannya berhasil kabur meninggalkan Unsil dengan susah payah lebih sulit daripada aksi Dominic Purcell dan Welthworth Miller dalam film Prison Break. Dengan aliran darah yang masih tinggi dan adrenalin yang masih melaju kencang keempatnya memarkirkan motor mereka di depan sebuah warung tenda. Perasaan lapar bercampur lelah membuat tenaga terkuras habis dan perut berteriak kencang, sementara mulut hanya bisa terdiam, ternganga saking lemasnya. Mereka mengambil tempat duduk di sebuah bangku panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="IT"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="IT">“Kamu sih, Pam?” ujar Arjuna akhirnya mulai bicara menyalahkan Pamri si biang kerok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="IT"><span> </span>“Loh,kok saya?” Sanggah Pamari tampak tak mau disalahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="IT"><span> </span>“<em>Nya heeuh</em> (Ya iyalah), siapa coba yang tadi mukanya gak kontrol pas di cafetaria?” Arjuna menyambit Pamri dengan tusuk gigi yang ada di atas meja, Pamri membalas. Putra yang secara tak kena sambit ikut meramaikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="IT"><span> </span>Kegiatan <em>chaos</em> tersebut, berlangsung sekitar lima menit, sebelum mereka sadar bahwa daritadi Ansori tidak terlihat bersuara (Ya iyalah gak keliatan suara kan didenger bukan dilihat). Ketiganya menoleh ke arah Ansori, mereka memperhatikannya tengah tertegun memandangi sesuatu. Diikuti arah pandangannya, ternyata tertuju tepat pada sosok cewek manis yang tengah membantu ayahnya melayani para pelanggan warung tenda tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="FI">“Woi, <em>kanyahoan siah</em> (ketauan ya)!” </span><span style="color:black;" lang="PT-BR">Putra menepuk pundak Ansori. Ansori mesem-mesem.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="PT-BR"><span> </span>“Tanya dong!” </span><span style="color:black;" lang="FI">Pamri menambahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Nanya apaan? Kenal aja enggak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Apaan,kek! Terserah kamu, misalnya nomor celana dalam atau ‘hari ini pake kutang gak?’, atau to the point’69 atau mandi kucing?’ “ ujar Pamri mesum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span></span><span style="color:black;" lang="SV">“Yang begituan mah gak usah ditanyain kali,Pam! Ntar yang ada kita dikejar-kejar security lagi,” Putra menimpali. Kini Putra mulai sadar alasan Pamri belum punya pacar hingga usianya yang nyaris dua puluh dua tahun ini, selain karena mukanya yang pas-pasan dan emang udah sulit dirubah, juga karena kecenderungannya berpikir tolol menjurus mesum yang sulit dihilangkan, mungkin akibat kebanyakan mengoleksi film bokep.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">Cewek tersebut datang mendekati mereka, hendak menanyakan siapa tahu keempat cowok tolol tersebut sudah siap memesan. Dan kini dia berdiri tepat di depan Ansori.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">”Punten, A…, mau pada pesen apa?” tanyanya sambil tersenyum menyerahkan daftar menu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">“Kamu&#8230;” jawab Ansori polos sambil terus memandangi cewek tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">“Di sini gak ada makanan ‘kamu’, A&#8230;. Adanya nasi goreng special, terus dada ayam spesial, cah kangkung, dan lain-lain, tapi gak ada ‘kamu spesial’,A.” Ujarnya sambi masih berusaha tersenyum manis. Ansori makin terpesona,.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="SV">“Kalo dada ‘kamu’ spesial ada kan?!” Ansori makin ngelantur<span style="color:black;">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">Wajah cewek itu memerah kayak saos tomat. Arjuna menyenggol lengan Ansori lalu merebut daftar pesanan dan daftar menu dari tangan Ansori.”Maaf, Teh temen saya emang rada <em>autis</em>, biar saya aja yang pesen.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">“Ya udah kalo udah siap buat pesen, panggil aja. Saya mau layanin yang lain dulu,” ujar cewek tersebut menuju pelanggan lain sambil tetap tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="FI">“WOI, SOR! Kamu mau pesen apa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="FI">“Terserah kamu aja,” ujarnya kalem sambil terus melanjutkan terapi matanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Sate aja ya, Sor?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Iyah!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Sate apaan,Sor?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Apa Ajah!” jawab Ansori sambil tidak melepaskan tatapannya pada cewek manis itu. </span><span style="color:black;" lang="SV">Masih dengan pandangan penuh kebusukan bau lendir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">Arjuna menuliskan daftar pesanan mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="FI">Ansori kembali ke dunia nyata. </span><span style="color:black;" lang="SV">Berbarengan dengan itu mereka selesai dengan apa yang akan mereka pesan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">“Udah pesen nya,Jun?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Udah, nih!” Arjuna memberikan daftar pesanannya pada Ansori.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Loh ini siapa yang pesen sate?” Dahi Ansori berkerut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Kan kamu tadi pesen sate.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Iya tapi bukan ‘sate bagong’,BAGONG!” Ansori ngamuk-ngamuk. Ketiga temannya terbahak-bahak sebahak-bahaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span></span><span style="color:black;" lang="FI">”Terus kalo yang pesen ini siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span></span><span style="color:black;" lang="SV">”Kamu juga kamu kan biasanya minum jus.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>”Iya tapi masa iya jus jengkol?!” ujarnya jengkel.</span></p>
<div style="border:medium medium 1.5pt none none solid 0 0 windowtext;padding:0 0 1pt;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Teman-temannya kembali terbahak-bahak sampai nyaris keluar dahak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Ansori tengah duduk, menikmati angin sore yang bertiup sepoy-sepoy membuat suasana terasa sejuk, di samping kios rokok tepat yang bersebrangan dengan warung tenda, tempat dia dan tiga orang komplotan jomblonya makan semalam. Dia membeli sebungkus Djarum Super dan teh botol. Lima belas menit sudah dia terduduk di sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">“<em>Nuju ngantosan naon </em>(Lagi nunggu apa), Cep?” tanya si pemilik kios.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“<em>Ieu,nuju ngantosan</em> (ini,lagi nunggu) warung itu buka.” Ansori menunjuk ke arah warung tenda di sebrangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Oh, warung Pak Asep Gumasep.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Jadi yang punya warung namanya Pak Asep Gumasep, Bu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“<em>Muhun </em>(iya),cep. Emang ada apah gitu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Ah, <em>henteu </em>(enggak).” Ansori terdiam sejenak,”Kalo perempuan yang suka bantu-bantu di sana siapa ya, Bu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Yang mana, yang tua apa yang muda?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Kalo yang tua namanya Mpok Darmi, kalo yang masih muda kira-kira seumuran dengan encep namanya Neng Ifah. Kalo dia mah anaknya Pak Asep, sekarang kuliah di Bandung.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span><strong><em>“Jadi namanya Ifah.”</em></strong> Ujar Ansori dalam hati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">“Kuliah di mana,Bu?” tanya Ansori pada sang pemilik kios.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Katanya sih di Bandung di UPI sekarang tingkat dua.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span><strong><em>“Jadi dia mahasiswi UPI toh.”</em></strong> Ujar Ansori lagi dalam hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">”<em>Tos gaduheun</em> <em>kabogoh teu acan nya </em>(udah punya pacar apa belum ya), Bu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Siapa Mpok Darmi? Mpok Darmi mah <em>putrana wae tos tilu atuh</em> (anaknya aja udah tiga),Cep. Mending ama Ibu aja atuh baru cerei,” goda si pemilik kios sambil mengedipkan mata dengan genit. Ansori bergidik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Bukan Mpok Darmi, Neng Ifah?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Oh, Neng Ifah mah kayaknya belum.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Ansori mengangguk, di seberangnya Pak Asep yang ditemani Ifah dan Mpok Darmi tengah bersiap-siap menyiapkan warung tenda tersebut. Ansori berpamitan dengan pemilik kios rokok. “<em>Mangga</em> (mari), Bu! Udah pada datang kayaknya mah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Iyah,cep! Kalo ditolak ama Neng Ifah warumg ibu tetep di sini kok.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">Pemilik kios tersenyum genit. Ansori nyaris muntah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">“Hai,Ifah!” Ansori mecolek bahu Ifah sambil tesenyum. Ifah menoleh,”Eh, Si Aa yang semalem pesen ’kamu’ ama ‘sate bagong’ ya? Maaf,A…! Kalo mau pesen makan kita masih siap-siap, terus kalo ‘kamu’ ama ’sate bagong’ kayaknya masih belom ada,” lLedek Ifah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span></span><span style="color:black;" lang="FI">Ansori manyun, kemudian tersenyum lebar. </span><span style="color:black;" lang="SV">Ifah balas tersenyum sambil membereskan tempat tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Fah,boleh bantu gak?” tanya Ansori. Ifah mengangguk sebagai tanda setuju.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Kini keduanya hanya terpisahkan oleh meja yang sedang mereka bereskan. Namun baik Ansori maupun Ifah tampak belum mau membuka mulut. </span><span style="color:black;" lang="FI">Keduanya sibuk memperhatikan satu sama lain, saling menunggu untuk bicara. Ifah memakai kemeja tangan pendek kotak-kotak gombrong yang ujungnya lengannya dilipat dan kaos garis-garis didalamnya, dipadukan gengan celana jeans yang warnanya agak belel. </span><span style="color:black;" lang="SV">Nampak sangat serasi dengan rambut pendek dan wajahnya yang tanpa make-up. Ifah memang terlihat sangat manis sore itu. Berbeda tiga ratus enam puluh derajat dengan Ansori yang hanya memakai celana kolor seragam tim sepakbola jurusannya dan baju panitia tujuh belasan tiga tahun lalu yang sudah rada belel, plus topi bertuliskan ‘JAGALAH KEBERSIHAN KOTA BANDUNG ‘. Ansori memang tiba-tiba saja ingin bertemu dengan cewek yang semaleman tadi terus mondar-mandir di pikirannya, sehingga ia yang biasanya rapi namun sporty jadi demikian. Hanya kolor sepakbolanya saja yang mencerminkan ke-spoty-annya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">“Fah, di UPI ngambil jurusan apa?” Ansori mulai bicara kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Kok kamu tau aku kuliah di UPI, pasti kamu sewa detektif Sherlock Holmes ya?”<span> </span>ujar Ifah. Ansori menggeleng. “Ah, aku tau, kamu pasti minta bantuan Ki Joko Bodo pake ‘REG WETON’ ,iya kan?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span><span> </span>Ifah terkakak begitu juga Ansori. Pak Asep menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. Diam-diam Pak Asep senang melihat tawa anaknya yang sangat jarang tertawa sejak istrinya meninggal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">“Fah, ternyata kamu cantik-cantik konslet juga ya?! Aku serius nih kamu ngambil jurusan apa?” tanya Ansori lagi masih dengan sisa-sisa tawanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Aku juga serius. Kamu tau nama aku ama kampus aku dari mana? Jangan-jangan kamu dukun.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">Ifah gak kalah serius. Ansori mengalah, lalu menunjuk ke arah kios rokok di sebrang jalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">“Oh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">Ifah ber’oh’ pelan.”Aku ngambil akuntansi. Kalo kamu kuliah juga kan?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Ansori mengangguk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">”Di Matematika Unpad sekarang mau masuk semester tujuh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Siapa?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span><span> </span>“Aku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Yang nanya.” Ifah terkikik. </span><span style="color:black;" lang="FI">Jebakannya tepat sasaran. Ansori keki tapi senang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Tuh benerkan kamu tuh cantik-cantik konslet.” ujar Ansori sambil tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>Ifah masih terkikik.”Eh,kalo nama kamu siapa? Masa kamu doang yang tau nama aku, aku gak tau nama kamu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Kamu”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Yang nanya.” Kali ini giliran Ifah yang manyun, bibirnya terlihat makin seksi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Serius,ihhhh!” Ifah mencubit perut Ansori.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Iya iya, nama aku Ansori Al-Falseto.” ujarnya sambil berusaha melepas cubitan Ifah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Kamu turunan Arab-Itali?” tanya Ifah penasaran</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Bukan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Pantes.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span>“Pantes kenapa?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="FI"><span> </span></span><span style="color:black;" lang="SV">“Pantes jelek , orang Itali kan cakep-cakep.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Kali ini Ansori manyun lagi. Ifah terkikik. Pak Asep dan Mpok Darmi yang tak sengaja ikut mendengar ikut-ikutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">“Bercanda,Sor. Gitu ajah manyun. Udah jelek<span> </span>tambah jelek loh” ledeknya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">“Tuh kan? Gitu lagi.” Ansori masih manyun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>“Maap deh maap, bercanda&#8230;” Ifah merajuk manja. Ansori luluh juga hatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Akhirnya warung tenda itu siap untuk beraksi. Ansori enggan meninggalkan tempat tersebut. “Fah, aku bantu-bantu disini aja yah? Gak usah dibayar pake uang kok, pake senyum kamu juga udah cukup.” Ujarnya gombal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="color:black;" lang="SV">Ifah tersipu malu bercampur senang. Ia melirik ke arah Pak Asep. Pak Asep mengaangguk. Ansori meloncat kegirangan sambil berjoget disko ala John Travolta. Ifah, Pak Asep, dan Mpok Darmi tertawa geli melihat tingkah Ansori yang norak itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
<div style="border:medium medium 1.5pt none none solid 0 0 windowtext;padding:0 0 1pt;">
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;padding:0;"><span style="color:black;" lang="SV"><span> </span>Ansori pun mengakhiri hari itu dengan menjadi pelayan warung tenda dadakan dengan hepi. Kemudian di tengah perjalanan pulang tidak lupa ia bersyukur dengan sungguh-sungguh, maksudnya sungguh-sungguh norak sambil sedikit berpuisi dalam hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="border:medium none;text-align:justify;text-indent:.5in;padding:0;"><strong><em><span style="color:black;" lang="SV">“Cinta itu datang tiba-tiba dan tiba-tiba saya datang mendatanginya.Thanks God! Akhirnya hambaMu yang tampan ini menemukan orang yang bisa menerima ketampanan hamba.”</span></em></strong><span style="color:black;" lang="SV"> </span></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roadtoruins.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roadtoruins.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roadtoruins.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roadtoruins.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roadtoruins.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roadtoruins.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roadtoruins.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roadtoruins.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roadtoruins.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roadtoruins.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roadtoruins.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roadtoruins.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roadtoruins.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roadtoruins.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=44&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/22/bab-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e967a1f9ce8c023c4683996f389f3802?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">roadtoruins</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mundurnya Sang Vokalis</title>
		<link>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/22/mundurnya-sang-vokalis/</link>
		<comments>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/22/mundurnya-sang-vokalis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 14:11:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>roadtoruins</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[The White Forrest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roadtoruins.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[“Break…Break!” seruku lantang kemudian memberikan isyarat untuk berhenti memainkan lagu yang sedang kami mainkan. Ketiga personel The White Forrest yang lain tampak heran dengan permintaanku, karena belum setengah jam kami berlatih lagu baru kami aku sudah minta berhenti, “Ada apaan sih lo,Pram? Belom apa-apa lo udah minta break.” Genta sang drummer sewot kemudian beranjak menghampiriku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=41&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">“Break<span>…Break!” seruku lantang kemudian memberikan isyarat untuk berhenti memainkan lagu yang sedang kami mainkan. Ketiga personel The White Forrest yang lain tampak heran dengan permintaanku, karena belum setengah jam kami berlatih lagu baru kami aku sudah minta berhenti,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Ada apaan sih lo,Pram? Belom apa-apa lo udah minta break.” Genta sang drummer sewot kemudian beranjak menghampiriku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Iya, Pram, belom juga setengah jam. Kenapa sih lo?” Rusli sang pemain bass ikut menimpali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Gak ada apa-apa sih, cuman kayanya mendingan kita udahan dulu deh latihannya,” kataku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Seluruh personel The White Forrest memandang heran ke arahku.<span> </span>Rusli menghela napas pelan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Ya udah deh gua cabut duluan ya?” ujarnya sambil menepuk bahuku kemudian menenteng bassnya beranjak meninggalkan studio.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Tungguin gua, Rus! Gua nebeng motor lu,” Genta tampak tergesa-gesa mengejar Rusli.”Cuy gua duluan,” ujarnya lagi tanpa berbalik ke arahku dan Alde yang masih berada di dalam studio.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Hati-hati,Ta,Rus!” aku setengah berteriak kepada keduanya yang tampak telah hilang dari balik pintu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Kini hanya tinggal aku dan Alde yang masih belum beranjak dari dalam studio.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Lo kenapa sih, De?” tanyaku pada Alde yang merupakan vokalis The White Forrest. Entah kenapa hari ini aku memandang ada yang salah dengan diri Alde. Mungkin kedua personel kami yang lain tidak menyadarinya, tapi aku tahu ada yang salah dengan Alde hari ini. Meskipun aku sendiri belum tahu pasti apa yang salah dengan Alde, karena sebenernya gak ada yang salah dengan vokal Alde, tapi entah kenapa Aku tidak bisa melihat Alde yang biasanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Kenapa apaan sih lo, Pram? Lo tuh yang kenapa, masa baru bentar udah minta udahan,” jawab Alde sambil menempatkan bokon teposnya di atas sound sistem.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Udah deh, De! Lo gak usah maen rahasia-rahasiaan ama gua. Lo pasti lagi lagi ada masalah iya kan?”kataku dengan penuh selidik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Sok tau lo,Pram.” .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“ Udah deh, De! Lo kayak gak tau gua aja Pramudya Sang Peramal,”candaku. ”Lagian kita ini udah sahabatan dari kecil, De, sampe masalah-masalah kya lo suka ama siapa, atau lo gak suka ama siapa gua tau semua, De.” tambahku lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Udah kaya Mama Lorenz aja lo, Pram, pake sok ngeramal-ngeramal segala,” ujarnya sambil menoyor kepalaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Eh ni anak gak bisa dibilangin,” ujarku sambil balas menoyor kepala Alde.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>”Lo jangan nyepelein indera keenam gua, De! Hal yang paling rahasia dari lo juga gua tau,” tambahku lagi, masih tidak terima indera keenamku disepelekan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Apaan coba?” pancing Alde.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Lo pernah suka ama Bu Intan kan guru bahasa inggris waktu smp dulu?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Sialan lo, Pram bukannya elo yang naksir ama Pak Gatot guru matematika,” ujar Alde sambil berlari cekikikan keluar dari studio.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Sialan lo, De! Ganteng-ganteng gini gua masih normal,”ujarku sambil mengejar Alde.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>Seminggu berlalu sejak kejadian hari itu, sekarang kami kembali janjian di studio yang sama buat nyelesein lagu kami yang kemarin belum beres. Kali ini Alde tidak tampak bersama kami. Dua jam sudah aku, Genta, dan Rusli menunggu Alde namun yang ditunggu belum tampak batang hidungnya, apa jangan-jangan hidungnya si Alde digadein buat nebus panci?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Pram, Si Alde kemana sih? Udah dua jam juga ditungguin,” ujar Genta yang dari tadi gak sabaran pengen ngegebukin drum. Dengan sebuah angkatan bahu aku menjawab pertanyaan Genta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Loh, bukannya biasanya dia dateng bareng lo,Pram,’ Rusli ikut menimpali. Kali ini aku tidak merespon ucapan rusli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Coba deh lo telpom!” Genta menyarankan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Udah gua telpon tapi gak nyambung mulu, yang ada malah Mbak Veronika yang ngangkat,” ujarku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Terus sekarang gimana?” Rusli makin gak sabaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Ya udah mendingan kita latihan aja duluan ntar Si Alde nyusul,” ujarku menawarkan solusi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Terus yang jadi vokalis siapa?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Si Genta aja, biar kayak Joey Ramone tempo dulu, dulunya doi dummer merangkap vokalis,” usulku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Apa gak salah denger gua?” Rusli tampak ragu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Emang kenapa, Rus?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Yah lo kayak gak tau suara Si Genta aja, bisa mati berdiri gua dengerin suara Si Genta yang mirip kuda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Alah kaya suara lo bagus aja, Rus,” Genta menyambit Rusli dengan puntung rokok, gak terima penghinaan Rusli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Udah mendingan lo aja deh, Pram, lagian nih lagu kan ciptaan lo, biarpun suara lo rada-rada dangdut tapi biarinlah untuk sementara gak usah rock n roll dulu, rock n dut juga boleh,” usul Genta tak lupa menyepetku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Sialan lo, Ta!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>Kali ini giliran Genta yag kena timpuk puntung rokok. Akhirnya kami bertiga berlatih tanpa vokalis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>Malam harinya sepulang dari studio aku kembali mencoba menghubungi Alde, namun lagi-lagi Veronika yang menjawab. Jangan-jangan Si Alde udah jadian ama veronika sampe ngelupain urusan band, padahal setauku Si Alde kan lagi ngecengin Si Hapsari. Akupun berhenti mencoba menghubungi Alde kemudian merebahkan tubuhku ke atas kasur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>Belum lima menit aku merasakan empuknya kasur kamarku, Ibu berteriak memanggilku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Pram!Pram!” panggil ibu lantang sambil mengetuk pintu kamarku. Mau tidak mau aku pun beranjak dari kasur kemudian membuka pintu dan menghampiri ibu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Ada apaan sih, Bu?” tanyaku malas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Ada Alde tuh di depan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Alde?” ujarku heran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Iya Alde, siapa lagi coba?” kata Ibu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Ya udah deh, Bu suruh nunggu bentar, aku cuci muka dulu biar gantengan dikit, kan malu kalo kalah ganteng di rumah sendiri, hehe…” aku tersenyum jail ke arah Ibu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Pram…Pram! Kamu ini bisa aja, jangan-jangan kamu naksir ama Alde lagi, sampe segitunya,” Ibu balas mencandaiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Emang ibu setuju?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Ya enggak lah, mending ibu jodoin kamu ama kambing betina daripada ama Alde.” Ibu mengacak-ngacak rambutku dengan gemas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Yeee, Si Ibu, kirain ama Dian Sastro.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Ya udah cepetan kasian ntar Alde kelamaan nunggu.” Ibu pun pergi meninggalkanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>Setelah membersihkan muka alakadarnya, dan hanya tertinggal tersisa belek kecil di mataku aku menghampiri Alde yang tengah duduk di teras rumah ditemani segelas kopi susu buatan Ibu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Hi, De! Kemana aja lo gua cariin juga.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Ada aja, Pram.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Tumben banget lo pake permisi ama nyokap, biasanya lo kan maen nyelonong masuk kayak jelangkung.” Candaku mencairkan suasana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Maksud lo, Pram?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Maksud gua lo kan biasanya dateng gak dijemput pulang tak diantar, hehe..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Bisa aja lo, Pram.” Alde tersenyum dipaksakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>Setelah berbiocara demikian Alde terdiam, tampak jelas ia tengah mencoba mencari cara untuk menjelaskan sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Jangan-jangan Alde lagi mikir gimana caranya buat nembak aku. Oh My God, sebegitu parahkah masalah Alde sehingga terpaksa menjadi homo, pikiranku ngelantur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“De, sebenernya lo kenapa?” tanyaku memecah keheningan yang sangat tidak nyaman ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Gak kenapa-kenapa kok,Pram,” jawabnya masih mencoba menyembunyikan sesuatu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Udah deh, De jangan boong ama gua! Lo kesini sebenernya ada apa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>Alde kembali terdiam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Kok malah diem? Apa perlu gue ambilin pulpen ama kertas?” tanyaku gak sabaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Buat apaan,Pram? Kopi susu juga udah cukup kok.” Kegokilan Alde terpancing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Lagian lo gak mau ngomong, ya udah kalo mulut lo gak mau gua jejelin kertas lo ngomog! Sebenernya lo lagi ada masalah kan, De?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>Alde mentapku lekat-lekat. Pikiran ngelanturku muncul lagi, jangan-jangan bener lagi Alde homo, aku musti jawab apa kalo tioba-tiba dia nembak. Untungnya malaikat di kananku segera menyadarkan aku, lagian gak mungkin cowok segarang dan semaskulin Alde homo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Sebenernya gua mau ngomong kalo gua gak bisa terus ada di band, Pram,” ujranya lirih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Maksud lo, lo mau keluar?!” tanyaku kaget dengan ucapan Alde. Alde menganggukan kepalanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Tapi kenapa, De? Emangnya lo punya band baru?” tanyaku lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Bukan gitu, Pram.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Terus kenapa?” Aku makin penasaran dengan niat Alde untuk keluar dari The White Forrest.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Gua diterima kerja, Pram,” jawab Alde.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Terus apa hubungannya? Kan lo masih tetep bisa ngeband, emang ada larangan karyawan dilarang ngeband?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Gak bisa,Pram, gua dapet kerjaan di luar negri,” Alde beralasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Dimana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Amerika,”jawabnya singkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Apa?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>Aku makin kaget, setahuku Alde paling benci dengan negri kapitalis yang satu ini, kalopun ada yang Alde suka dari negri ini palingan cuman musiknya, bahkan cewek-cewek bule yang menurutku menaikkan hormon kelaki-lakianku Alde gak suka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Gua serius, Pram, gua harus pergi kesana,” Alde meyakinkan.”Emang gua paling benci ama negri yang satu ini, tapi mau gimana lagi, semenjak almarhum bokap gak ada gua sebagai anak pertama musti tanggung jawab buat ngebiayain keluarga gua. Lo tau sendiri kan gajih nyokap yang cuman guru gak bakalan cukup buat biaya hidup gua ama ade-ade gua, makanya gua musti cari kerja yang pasti,” tambahnya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Emang ngeband gak pasti ya, De?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Gak gitu juga, Pram, tapi untuk saat ini gua harus ngidupin keluarga gua, lagian gua tau kok tanpa gua band kita masih tetep bisa jalan, bahkan mungkin lebih maju, daripada lo terus miara gua yang pikirannya gak fokus seratus persen ke band mending lo bertiga aja yang jalan biar lebih fokus,” jelas Alde.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Emang sih, De, band kita sekarang ini butuh fokus seratus persen semua personelnya biar bisa maju, tapi tetep aja kalo gak ada logak bakalan sama, tadi sore aja kita latihan gak pake vokalis. Gak ada di antara kita bertiga yang bisa gantiin lo jadi vokalis,De.” Aku masih coba menahan Alde untuk tetap jadi bagian dari band.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Tapi menurut gua kalian bertiga bakal lebih berkembang tanpa gua, lagian gua bener-bener gak bisa, Pram. Semuanya udah diurus gua musti berangkat.” Alde tampak teguh dengan pendiriannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Ya udah deh kalo gitu, lagian kalo gua di posisi lo gua juga bakalan ngelakuin hal yang sama, tapi ngomong-ngomong kenapa musti Amrik sih,De?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Gua juga gak ngerti, Pram, meskipun gua benci banget tapi yang jelas orang-orang di sana lebih ngehargain kemampuan gua, gak kaya di negara Pancasila ini yang lebih menghargai titel dan IPK seseorang, mana ada perusahaan di Indonesia mau nerima mahasiswa Drop Out kaya gue,”Alde tersenyum hambar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>Aku mulai paham dengan alasan Alde untuk merintis karir di negara yang ngakunya ‘Polisi Dunia’ ini, memang di sana orang-orang bisa lebih menghargai kemampuan seseorang, orang Bill Gates aja yang sama-sama DO kaya Alde bisa jadi orang terkaya di dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Jadi kapan lo berangkat, De?” tanyaku lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>“Besok,” jawabnya singkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span>Malam pun semakin larut, entah kenapa aku merasa tak ingin malam ini cepat berakhir, aku tak ingin sahabatku pergi. Mungkin aku tidak harus kehilangan seorang sahabat jika negara kita ini bisa lebih menghargai kemampuan seseorang tanpa memandang titel dan IPKnya.<span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roadtoruins.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roadtoruins.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roadtoruins.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roadtoruins.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roadtoruins.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roadtoruins.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roadtoruins.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roadtoruins.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roadtoruins.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roadtoruins.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roadtoruins.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roadtoruins.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roadtoruins.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roadtoruins.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=41&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/22/mundurnya-sang-vokalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e967a1f9ce8c023c4683996f389f3802?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">roadtoruins</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pudarnya Arti Kecantikan</title>
		<link>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/22/pudarnya-arti-kecantikan/</link>
		<comments>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/22/pudarnya-arti-kecantikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 14:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>roadtoruins</dc:creator>
				<category><![CDATA[waras cing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roadtoruins.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin pembaca sekalian bertanya-tanya dengan maksud dari judul di atas. Cantik sebuah kata yang berkonotasi positif yang menjadi simbol dari sesuatu yang bagus, sedap dipandang, dan banyak defenisi positif lainnya yang sangat luas kemungkinannya. Namun justru pada kenyataan di masyarakat sekarang ini, seiring dengan semakin meluasnya perkembangan zaman, justru defenisi cantik itu sendiri cenderung menyempit. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=36&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mungkin pembaca sekalian bertanya-tanya dengan maksud dari judul di atas. Cantik sebuah kata yang berkonotasi positif yang menjadi simbol dari sesuatu yang bagus, sedap dipandang, dan banyak defenisi positif lainnya yang sangat luas kemungkinannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Namun justru pada kenyataan di masyarakat sekarang ini, seiring dengan semakin meluasnya perkembangan zaman, justru defenisi cantik itu sendiri cenderung menyempit.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Di zaman sekarang pandangan cantik itu telah berubah makna sesuai apa yang dicitrakan banyak produk-roduk kecantikan di media cetak maupun elektronik. Berbagai macam produk kecantikan berlomba-lomba memaksakan konsep cantik yang kurang lebih seragam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Cantik, sesuai dengan perkembangan zaman kata ini tidak hanya menjadi sebuah kata sifat, tapi menjadi sebuah konsep sangat kompleks. Sebuah konsep yang menimbulkan masalah di kalangan masyarakat terutama kaum hawa yang merasa dirinya “tidak cantik” jika hidungnya tidak semancung Tamara, atau kulitnya tidak putih, badannya tidak langsing, dan sejumlah syarat-syarat lainnya untuk bisa disebut cantik. Bahkan cantik telah berubah menjadi sebuah produk.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Saat ini para wanita berlomba-lomba untuk punya badan langsing atau cenderung kurus mirip Luna Maya, punya rambut lurus kayak bintang iklan shampoo yang hampir semuanya berambut lurus tergerai, atau juga berkuklit putih nyaingin Putri Salju.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Berbagi produk kesehatan badan seperti sabun, pembersih muka, dan lain-lain telah berubah fungsi menjadi sebuah produk kecantikan. Masyarakat seolah lupa bahwa fungsi utama produk-produk di atas bukanlah sebagi alat kecantikan melainkan sebagai kesehatan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Tidak hanya itu pemaksaan konsep kecantikan itu pun semakin merambah ke hal-hal lain lagi, bahkan hal-hal yang sangat jau dari kecantikan seperti jogging. Setelah melalui sedikit riset dari beberapa responden yang sebagian mbesar perempuan didapat hasil bahwa tujuan mereka melakukan jogging dan hampir seluruhnya menjawab untuk melangsingkan tubuh supaya cantik, bukan untuk kesehatan tubuh yang seharusnya. Bahkan tidak sedikit pula perempuan yang beratnya sudah ideal, masih ingin menurunkan berat tubuh dengan alasan bahwa ia lebih cantik bila lebih kurus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><span> </span>Seiring makin luasnya dunia industri dan komunikasi, justru kecantikan itu telah berubah fungsi menjadi sebuah konsep dan produk kapitalis  untuk memaksakan konsep kecantikan yang mereka buat sendiri di<span> </span>masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jadi, tanpa bermaksud untuk menggurui, BERHENTILAH MENJADI CANTIK karena tidak selamanya cantik itu MENARIK. JADILAH MORANG YANG MENARIK KARENA SESUATU YANG MENARIK PASTI TERLIHAT CANTIK</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roadtoruins.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roadtoruins.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roadtoruins.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roadtoruins.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roadtoruins.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roadtoruins.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roadtoruins.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roadtoruins.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roadtoruins.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roadtoruins.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roadtoruins.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roadtoruins.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roadtoruins.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roadtoruins.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=36&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/22/pudarnya-arti-kecantikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e967a1f9ce8c023c4683996f389f3802?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">roadtoruins</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Orang Bodoh di Bulan November</title>
		<link>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/18/orang-bodoh-di-bulan-november/</link>
		<comments>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/18/orang-bodoh-di-bulan-november/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 04:30:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>roadtoruins</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roadtoruins.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Hujan mengguyur deras kota Bandung pada awal desember itu, guyuran air dari langit bercampur dengan udara dingin siap menusuk ke setiap sendi-sendi tubuh membuat siapapun enggan untuk melaksanakan aktifitas di luar ruangan pada hari itu. Belum lagi jika ditambah dengan jalanan kota Bandung yang sudah pasti becek dan gak ada ojek (hehe…, Cinta Laura banget [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=3&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Hujan mengguyur deras kota Bandung pada awal desember itu, guyuran air dari langit bercampur dengan udara dingin siap menusuk ke setiap sendi-sendi tubuh membuat siapapun enggan untuk melaksanakan aktifitas di luar ruangan pada hari itu. Belum lagi jika ditambah dengan jalanan kota Bandung yang sudah pasti becek dan gak ada ojek (hehe…, Cinta Laura banget gak sih?) akibat buruknya sistem pembuangan air di kota itu sehingga membuat tukang ojek pun enggan beroperasi. Aku dan sahabat satu kontrakanku Jek alias Jake alias Jaya Kelana tengah duduk meringkuk di dalam kamar berukuran 4&#215;4 sama dengan enam belas dengan ditemani sebungkus rokok dan dua cangkir kopi susu untuk kami berdua.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">Hari itu kami berdua sama-sama enggan untuk meninggalkan kamar untuk melihat dunia luar, bahkan pintu dan jendela kamar kosan kami pun kami biarkan tertutup dari dunia luar. Mungkin jika dilihat dengan rada teliti kamar kami berdua ini memang tidak pantas untuk dilihat oleh dunia luar, bagaimana pantas, jika di dalam dua orang mahasiswa yang memasuki tahun keempat kuliahnya tidak ditemukan satu pun diktat kuliah, ataupun buku-buku lain yang layak dibaca oleh dunia ilmu pengetahuan. Alih-alih diktat kuliah, kamar kami malah banyak diisi oleh buku-buku komik, majalah-majalah musik dari mulai ‘Rolling Stones’ sampe ‘Chords’, ditambah lagi majalah-majalah seperti FHM, Playboy, juga Popular yang melengkapi koleksi bacaan kami berdua, selain tentunya buku-buku bacaan lain bergenre novel ataupun roman yang agak mendingan. Sementara itu seperangkat komputer yang semulanya berfungsi sebagai alat Bantu mengerjakan tugas kuliah telah beralih fungsi menjadi alat pemuas nafsu menonton fil biru, ataupun film kartun Naruto, dan juga dengan tambahan’ TV Tunner’ telah berubah fungsi menjadi layar televisi.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kami berdua memang bukanlah mahasiswa-mahasiswa yang pintar dalam ilmu hitung dan sains meskipun anehnya justru kedua bidang itulah yang tengah kami geluti demi gelar sarjana. Aku mengambil Matematika, sementara Jek mengambil Tehnik Mesin sebagai pilihannya. Pilihan yang membuat kami berdua seolah menjadi kaum terbuang di kampus kami masing-masing, kami berdua sama sekali tidak pernah nyambung bial membicarakan urusan keilmuwan dengan para mahasiswa lain di kampus. Bahkan sampe semester tiga, kami tidak mengetahui bahwa Albert Einstein itu seorang ilmuwan jenius, kami mengira bahwa Albert Einstein itu adalah seorang musisi, lebih parahnya lagi kami sepakat mendaulat Albert Einstein itu mentornya Roberth Smith vokalis The Cure, dengan alasan model rambut keduanya yang sama dan sebangun.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kami berdua memang lebih cocok bergelut di bidang seni, sementara aku tertari pada dunia kepenulisan, Jek sangat tertarik untuk menjadi musisi. Alasan kami berdua ingin bergelut di bidang seni sebenernya sangat sedehana, kami tertarik untuk menjadi pekerja seni karena kami beranggapan bahwa seni itu sesuatu yang mudah dipahami tanpa harus belajar apapun, kita tidak perlu sekolah seni untuk menjadi seniman, kita hanya perlu mencintai seni itu sendiri, dan manusia itu merupakan seni tersendiri yang Tuhan cipatakan sebagai pelengkap jagat raya, dan bukan merupakan seonggok daging dengan rumus Fx = Dx yang aku sendiri tidak pahami maknanya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Selain karena kesamaan nasib sebagai mahasiswa salah jurusan, ada hal lain yang membuat aku dan Jek sngat kental bersahabat. Tentu saja bukan karena kita sama-sama jomblo, apalagi sama-sama homo, karena jelas-jelas kami lenih memilih indehoy bareng Sora Aoi atau Maria Ozawa ketimbang Takeshi Kaneshiro. Hal yang membuat kami bias bersahabat dengan kentalnya melebihi kekentalan susu kental manis Cap Enak adalah karena biarpun bodoh, kami berdua benci pembodohan. Tidak seperti orang-orang dengan tingkat intelejensia tinggi atau disingkat pintar yang masih suka pembodohan, atau lebih parahnya lagi sering melakukan tindakan pembodohan. Hal itulah yang membuat persahabatan kami sangat kental seperti Romeo dan Juliet, Samson dan Delilah, Romi dan Yuli, Galih dan Ratna.(Loh kok gak nyambung ya itu mah kan pasangan kekasih, tapi gak apa-apa maklum tingkat intelejensiaku rada goblok jadi mohon tafsirkan sendiri seperti apa kentalnya persahabatan kami)</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Bosen nih,Jek,” seruku kepada Jek yang sedang asik bermesraan dengan rokok dan kopi susunya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Bosen kenapa lo, Des?” Tanya Jek.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Tuh!” Aku menunjuk ke arah layar komputer kami yang telah beralih fungsi menjadi <span>layar</span> televisi.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Oh,” ujarnya pelan sambil tetap menghembuskan asap rokok ke udara,”ganti aja pake LCD.” Jek tampak cengegesan dengan muka bodohnya itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Bukan itu, tolol!” Aku melemparkan bantal ke arah Jek. Jek menghindar dengan cekatan kemudian tertawa mengejek.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Terus apaan?”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span> “Gua bosen ama acara yang ditayangin para tv-tv kdi negara kita ini, Jek.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Ya udah kalo gitu kita pasang tv kabel aja, biar bisa dapet chanel luar.” Jek masih saja terus menggodaku dengan candaan-candaan yang gak mutu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Aku malas menanggapi candaan Jek Entah karena hujan atau karena kiamat sudah dekat, yang jelas pagi itu aku kehilangan selera humorku yang biasanya menggebu-gebu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Ah, lo Des, gitu aja pundung,” ujar Jek diiringi lemparam bantal ke mukaku.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Lagian elo, Jek, diajak ngomong serius dikit malah bercanda mulu,” aku kesal dengan Jek yang selain tidak menanggapi kekesalanku, juga berhasil mendaratkan bantal ke mukaku. Jek tampak tertawa ngakak, heran dengan keanehan sobatnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Desmon,Desmon, sejak kapan lo serius? Bisa kiamat nih entar siang kalo mahasiswa bego kayak lo serius,” candanya disela-sela tawa yang masih keluar dari mulutnya yang bau belum gosok gigi.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Sejak lo mendaratkan bantal di muka gua yang ganteng maut ini,” ujarku galak sambil kemudian menyalakan rokok.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“HAHAHAHAHA!”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Tawa jek malah semakin menjadi-jadi. Aku jadi males ngomong serius dengan mahluk Tuhan yang satu ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span> “Udah deh,Des! Langsung pada pokok permasalahan aja, emang ada apa sih dengan acara tv kita?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Masa lo gak ngerasa sih, Jek?!”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Ngerasa apa? Dingin?!” katanya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Itu mah gak usah dibilangin juga gua udah dingin, di luar ujan gede banget.”kataku dengan kesal,”maksud gue masa lo gak ngerasa dibodohin ama acara-acara yang ditampilin ama tuh stasiun tv,” tambahku dengan nada bicara sok intelek.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Maksud lo apaan,Desmon?!”</p>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">Kali ini giliran Jek yang kesal dengan pembicaraanku yang rada berbelit-belit. Jek tampaknya belum mengerti dengan arah pembicaraanku, maklum meskipun Jek benci sama yang namanya pembodohan, tapi Jek terlalu bodoh untuk menyadarinya. Begitu juga denganku yang baru menyadarinya pagi ini setelah sekian lama dibodohi.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Maksud gue, masa lo gak nyadar sih kalo selama ini acara tv yang ampir tiap hari kita lihat isinya cuman acara-acara yang buat orang bego makin bego dan orang pinter ikutan bego,” kataku lantang.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span> Jek tampak makin bingung, namun kali ini tampak ada sedikit usaha untuk mencerna ucapanku, buktinya jidat Jek tampak makin berkerut. Sebatang rokok sudah habis menunggu Jek berpikir, aku nyalakan batangan rokok berikutnya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Gimana, Jek? Paham maksud gue?”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Jek, tidak menjawab. Namun gelengan kepala dan raut mukanya yang bertambah bego sampe stadium tiga cukup untuk menjawab pertanyaanku.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Maksud gue gini, Jek.” Kali ini aku memperlambat ucapanku.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Coba lo liatin deh acara-acara yabg ditampilin di tv-tv! Semuanya sama ja isinya gak bermutu.” Kataku dengan semagat menggebu-gebu ala Bung Karno saat berorasi (Gila sok kenal banget gue, orang liat Bung karno orasi aja belom pernah).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Gak bermutu gimana maksud lo?”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Coba aja lo liat acara yang ada isinya palingan cuman gosip selebriti kalo enggak sinetron-sinetron gak jelas yang isinya cuman ngejual mimpi yang bisa bikin bangsa ini jadi bangsa pemimpi yang puas hidup dibuai oleh mimpi-mimpi seperti yang ditawarkan sinetron-sinetron itu,”tambahku lagi dilengkapi dengan gaya bahasa sok puitis dan rada norak.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span> “Kalo pun ada acara yang rada bagus dan berbobot, paling ditayanginnya di jam-jam yang gak banyak orang duduk bengong nonton tv,” tambahku lagi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kali ini nampaknya Jek mulai paham dengan arah pembicaraanku.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Bener juga lo, Des,” responnya,”Masa Liga Champion ditayanginnya dini hari banget kan tiu jamnya orang tidur.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Mau tidak mau aku tersenyum menanggapi ucapan tolol Jek yang ternyata belum paham juga kemana arah pembicaraanku.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span> “Maksud gue bukan itu, Jaya Kelana,” kali ini aku memanggil Jek dengan nama lahir pemberian orang tuanya,”kalo Liga Champion ditayangin dini hari sih emang udah seharusnya orang jam kita ama jam eropa beda, kok. Maksud gue sekarang ini stasiun-stasiun tv tuh pada belomba-lomba buat cari duit dengan cara membodohi kita-kita ini selaku konsumen dengan acara-acara infotainment yang sebagian besar beritanya isinya cuman masalah perceraian atau enggak Si Ini jadian ama Si Ini atau enggak Si A homo lah, atau Si B selingkuh ama pejabat, dan berita-berita lain yang kalo dipikir-pikir gak ada gunanya buat kita.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Jek manggut-manggut.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Iya yah, apa gunanya coba buat kita ngeliatin urusan-urusan kayak gitu.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Benerkan?! Gak ada gunanya sama sekali, belum lagi kalo ditambah sinetron-sinetron gak jelas yang temanya gak jauh-jauh dari mertua sadis atau ibu tiri yang galak, kalo gak itu paling temanya anak sekolah hamil di luar nikah, atau yang paling mending adaptasi dari drama Korea kalo enggak Jepang.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Bener banget tuh, Des. Pantes aja sekarang banyak anak-anak ingusan yang udah berani-berani cabul sampe nekat gituan, padahal jaman-jaman kita kecil dulu senakal-nakalnya paling cuman nyingkapin rok cewek atau ngintip pake kaca serutan,hehe..” kata Jek sambil terkikik.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span> “Bener tuh, Jek. Jaman dulu mana berani anak kecil gituan, soalnya jaman dulu tuh teknologi media gak secanggih sekarang, mana kenal kita dulu ama situs-situs porno yang ada diinternet, orang gua baru ngenal ama yang namanya komputer aja pas SMA, itu juga gak paham-paham amat.”kataku sambil mematikan rokokku yang tinggal puntung, kemudian menyalakan yang baru. Pembicaraan kami tampaknya makin seru dan mengalir.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Jadi sebaiknya kita gimana ya,Des?” tanya Jek.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Gak tau juga gua , Jek.” Jawabku singkat.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Apa mungkin kita harus punya stasiun tv sendiri yang isinya Indonesia banget,”usul Jek.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Maksud lo?”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Maksud gue kita beli aja tuh semua stasiun tv di Indonesia, terus kita ganti acaranya pake yang Indonesia banget, yang sopan dan tau adat, kalo pun ada yang harus diambil dari luar kita ambil yang manfaat aja kayak siaran olahraga atau musik, soalnya jujur gua lebih seneng dengerin Nirvana daripada Trio Macan,” ujar jek dengan mata berbinar-binar, seolah bangga akan ide jeniusnya itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Jenius banget ide lo, Jek. Cuman masih ada yang kuran, Jek,” kataku.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Kurang apaan?”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Kurang duit bego! Emang lo kira beli stasiun tv gak pake duit?”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Aku tertawa terbahak-bahak, Jek ikut-ikutan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span> “Nyesel gua jadi orang bodoh, Des,”ujar Jek lirih setelah tawa kami reda.”Coba gua jadi orang pinter pasti gua bisa ngerobah keadaan, biar gak kaya sekarang ini.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Sama gua juga, Jek. Kenapa kita gak nyadar dari dulu-dulu ya.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Hening.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Ya udah deh, Jek! Daripada bengong ntar tambah bego mendingan kita matiin tvnya,terus…”ujarku tertahan.<br />
“Terus apaan, Des? Terus kita ngerampok bank buat beli stasiun tv?” Otak kriminal Jek tiba-tiba muncul.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Terus kita main PS2 goblok, daripada nonton gosip,” ujarku kemudian disambut hangat oleh Jek yang segera mengeluarkan mesin PS2 dari lemari.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Terus masalah stasiun tv gimana, Des?” tanya Jek disela-sela serunya pertandingan Winning Eleven antara AC Milan melawan Manchester United.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Yah itu mah kita serahi aja ama orang-orang ointer yang berkeliaran di luar sana, masa sih gak ada yang peduli. Kita yang goblok aja peduli, iya gak?!”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Jek kembali mengamini.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“GOL!!!’ teriakku girang ketika Kaka menjebol gawang Van de Sar.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span> Kami berdua pun semakin larut dengan keasyikan Winning Eleven yang sebenarnya sama dengan acara-acara tv yang hanya membuat kita jadi malas dan bodoh. Kami berdua memang hanya orang bodoh yang tidak ditakdirkan untuk merubah negri ini.Hujan pun semakin deras mengguyur seolah-olah menangisi kebodohan bangsa ini.</span></p>
<p style="margin-left:3.5in;text-indent:.5in;margin-bottom:0;" align="justify">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roadtoruins.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roadtoruins.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roadtoruins.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roadtoruins.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roadtoruins.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roadtoruins.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roadtoruins.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roadtoruins.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roadtoruins.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roadtoruins.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roadtoruins.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roadtoruins.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roadtoruins.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roadtoruins.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=3&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/18/orang-bodoh-di-bulan-november/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e967a1f9ce8c023c4683996f389f3802?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">roadtoruins</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/18/hello-world/</link>
		<comments>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/18/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 04:16:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>roadtoruins</dc:creator>
				<category><![CDATA[waras cing]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=1&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roadtoruins.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roadtoruins.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roadtoruins.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roadtoruins.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roadtoruins.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roadtoruins.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roadtoruins.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roadtoruins.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roadtoruins.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roadtoruins.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roadtoruins.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roadtoruins.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roadtoruins.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roadtoruins.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=1&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/18/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e967a1f9ce8c023c4683996f389f3802?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">roadtoruins</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JOMBLO ITU PERIH, DULUR!!!!!!!!</title>
		<link>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/12/jomblo-itu-perih-dulur/</link>
		<comments>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/12/jomblo-itu-perih-dulur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 13:15:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>roadtoruins</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/12/jomblo-itu-perih-dulur/</guid>
		<description><![CDATA[Malam minggu, malam yang banyak dinantikan pasangan muda-mudi jaman sekarang, malam yang dijadikan simbol sebagai malam wajib bagi para pasangan yang tengah ditembaki panah Cupid yang kurang kerjaan menembaki berbagi macam orang dari berbagi srata dan kasta, meskipun kadang-kadang Cupid kurang kerjaan juga dengan nembak panah ngasal sehingga ada juga pasangan sesame jenis. (Amit-amit………….) Tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=15&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;     Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE                                                     MicrosoftInternetExplorer4                                                   &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;  st1\:*{behavior:url(#ieooui) }  &lt;![endif]--> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> <!--[if gte mso 10]&gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;       &lt;![endif]-->
<p class="MsoNormal">Malam minggu, malam yang banyak dinantikan pasangan muda-mudi jaman sekarang, malam yang dijadikan simbol sebagai malam wajib bagi para pasangan yang tengah ditembaki panah Cupid yang kurang kerjaan menembaki berbagi macam orang dari berbagi srata dan kasta, meskipun kadang-kadang Cupid kurang kerjaan juga dengan nembak panah ngasal sehingga ada juga pasangan sesame jenis. (Amit-amit………….)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Tapi bagi saya pribadi gak pernah ada sesuatu yang spesial dengan malam minggu, tidak ada bedanya dengan malamm-malam lainnya yang terkadang disepelekan oleh para kawula muda zaman sekarang. Nggak ada rumah atau kosan cewek yang bisa disamperin, gak ada cewek yang bisa dijakin buat sekedar ngafe abis itu cari tukang kacang rebus kayak adegan Rangga ama Cinta dalam film AADC. Semua itu nggak ada.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Hidup menjomblo selama bertahun-tahun emang bukan sesuatu yang bisa membuat kita bangga, ya iyalah jadi jomblo kok bangga gimana punya pacaran, hehe…. Dan yang lebih parahnya lagi dengan semakin bebasnya orientasi seks di negara kita akhir-akhir ini, membuat banyak anggapan-anggapan atau lebih tepatnya dugaan-dugaan aneh tentang masalah cowok ganteng yang masih jomblo dan saya termasuk cowok ganteng yang masih jomblo itu(tetep narsis, hehehe….). Terkadang muncul anggapan bahwa cowok-cowok ganteng seperti saya ini jika masih menjomblo pilihannya cuman ada dua, yang pertama dia adalah orang alim yang gak mau mengenal istilah pacaran dan langsung nikah aja, pilihan pertama ini langsung saya coret karena jelas-jelas dengan koleksi <i>film biru</i> yang menjejali harddisk computer saya, saya tidak dapat dikategorikan sebagai orang alim tersebut apalagi jika dilihat dari kandungan alcohol dan zat-zat lain di dalam darah saya jelas sudah bahwa saya bukan orang alim. Lalu pilihan kedua, apabila ada cowok ganteng belum punya cewek alias jomblo, maka cowok tersebut adalah HOMO. Alasan yang mungkin berlaku bagi sebagian orang, tapi tidak dengan saya, karena jelas-jelas saya lebih suka memandangi bodi Nadine Candrawinata pake bikini daripada memandangi tubuh kekar Ade Rai yang hanya berbalut cangcut,hehe….</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Inilah fenomena yang aneh yang terjadi pada diri saya jika saya merenungi masalah kejombloan saya ini, karena jelas-jelas dua alasan di atas tidak terjadi pada diri saya, dan secara fisik setelah berkali-kali melihat wajah, dan segenap badan saya dari balik cdermin, saya tidak menemukan satu alasan pun yang bisa merajuk pada kejombloan saya, sekedar untuk mengingatkan saya ini GANTENG, tapi saya ini TUKANG BOHONG, hehehe….</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Bertahun-tahun hidup menjadi jomblo akut memang merupakan masalah bagi siapapun, gak percaya??? Oke kalo gak percaya akan saya paparkan beberapa alasan mengapa menjadi jomblo itu merupakan masalah yang cukup akut alias menghawatirkan, sampai terkadang meresahkan juga. Menjadi jomblo itu bisa menyebabkan perasaan kita jadi amat sensitif, bahkan ada kalanya menimbulkan iri<span>  </span>dengki. Menjadi jomblo itu terkadang mendatangkan sebuah pikiran picik, jahat, iri dengki, dan kawan-kawannya yang lain, seperti yang pernah terjadi kepada diri saya sendiri, jadi jangan heran kalo kalian menyaksikan kejadian seperti ini di kehidupan nyata.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Seperti sudah saya paparkan sebelumnya bahwa menjadi jomblo itu bisa mendatangkan perasaan yang amat sensitif bagi para penderitanya. Kalo ngeliat orang-orang lagi pada pacaran di kampus, di kantin, di wc, di bus kota, dan di area-area publik lainnya bakal membuat sebuah sensasi aneh ke dalam otak kita. Jadi jangan heran jika suatu hari saya membayangkan menjadi Terminator membawa sebuah senapan laras panjang, dengan wajah garang bersiap buat menunaikan tugas memberantas orang-orang yang pacaran di depan publik, atau lebih tepatya di depan saya hingga mati dalam keadaan tertawa sambil nungging, hehehe…</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>            </span><i>“Hei, kalian semua!” Aku berteriak sambil mengeluarkan cengiran keras yang menyeramkan, ke arah pasangan-pasangan yang siap menjadi korban keganasanku.”Apa yang sedang kalian lakukan?”</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>“Pacaran,” seorang cewek manis ketakutan dari balik pelukan cowoknya.</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>“Kenapa kalian pacaran?” aku bertanya dengan nada membentak.</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>‘Kok aneh banget sih pertanyaannya?” kali ini cowoknya yang buka mulut sambil garuk-garuk kepala gak gatel,”suka-suka kita dong mau pacran, mau<span>  </span>nungging mau jungkir balik.”</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>“MAKSUD SAYA KENAPA KALIAN PACARAN DI DEPAN SAYA?” bentakku dengan semakin ganas.</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>“Ya udah kalo gak boleh kita pindah aja di belakang situh.”<span>  </span></i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span><span>  </span></i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>Kemudian pasangan yang terkena virus amor tersebut mengambil tempat di belakang punggungku diikuti pasangan-pasangan lainnya. Aku berbalik kemudian.</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>“BUKAN ITU MAKSUDNYA GOBLOK!!!!!!”</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>“Terus apaan katanya di depan gak boleh, ya kita pindah ke belakang,” ujar salah seorang dari mereka dengan wajah tanpa dosa.</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>“Kalian tahu kalo sekarang saya jomblo,” kali ini aku sedikit melunak. </i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>“Lah, terus kenapa?”</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>“Saya ngiri sama kalian,” ujarku lirih.</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>Hening.</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>Seluruh orang mentap iba ke arahku.</i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>“Apa kalian tau kalo kebahagiaan itu milik semua mahluk di dunia ini, tapi mengapa kebahagiaan tu tidak pernah mau menghampiriku.” </i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>Akupun terisak bersamaan dengan tenggelamnya ucapan tadi, kemudian<span>  </span>kuarahkan senapan laras panjang yang dari tadi aku tenteng menembaki mereka semua. </i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span>            </span>MANIAKKKKKKKKKKKKKKKKK</i></p>
<p class="MsoNormal"><i> </i></p>
<p class="MsoNormal"><span>            </span>Jadi jomblo emang pedih, semoga aja kejadian di atas cuman ada di pikiran saya dan tidak menginspirasi siapapun tuk berbuat demikian.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roadtoruins.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roadtoruins.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roadtoruins.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roadtoruins.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roadtoruins.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roadtoruins.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roadtoruins.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roadtoruins.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roadtoruins.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roadtoruins.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roadtoruins.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roadtoruins.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roadtoruins.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roadtoruins.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roadtoruins.wordpress.com&amp;blog=5888406&amp;post=15&amp;subd=roadtoruins&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/12/jomblo-itu-perih-dulur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e967a1f9ce8c023c4683996f389f3802?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">roadtoruins</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
