Saya sedang duduk di atas koran sambil membaca kursi. Saya berada di dalam kontrakan. Lima menit yang lalu saya baru bangun tidur. Satu menit yang lalu saya baru cuci muka di kamar mandi.
The Beatles sedang menyanyikan obladi-oblada di kamar saya. Ini lagu bersejarah di keluarga saya. Dulu sekitar tahun 80an seorang mahasiswa gondrong bernama Nana Kurniadi bertemu pertama kalinya dengan mahasiswi berambut sebahu namanya Bella Yuniarsih di kampus IKIP yang sekarang namaya UPI backgroundnya lagu ini. Katanya waktu itu mereka bertemu hari Jumat.
Setelah lama pacaran keduanya menikah. Punya anak pertama, kelaminnya laki-laki. Ternyata anak pertama pasangan ini dikaruniai wajah ganteng tapi otak pas-pasan. Begitulah konsekuensinya mungkin. Mereka kasih nama anak itu Rizky Anindyajati, tadinya Nana Kurniadi yang dulunya masih gondrong mau memberi nama Biji Anindyajati, tapi Bella Yuniarsih yang dulu belum berjilbab gak tega kalo anaknya dikasih nama kaya nama bagian buah. Padahal anaknya belum tentu tidak mau, sayangnya waktu lahir anak ini tidak seperti Nabi Musa yabg bisa bicara di kala masih bayi. Anak ini cuman bisa nangis sama berak di popok doang, sama kencing di popok juga, sama minum ASI juga.
Di hari yang sedang Jumat itu Si Anak yang 22 tahun lalu hanya bisa nangis dan berak di popok ini sudah gak pake popok lagi, sudah bisa pake celana jins, sudah bisa lupa pake celana dalam, dan sudah bisa stres. Anak itu adalah saya yang sedang baca koran di hari Jumat itu.
Anak itu tahu hari ini hari Jumat, karena koran yang sedang dibacanya adalah koran hari Kami. Koran itu ia beli waktu pulang dari kampus naik Damri yang ada pengamennya, yang pengamennya dikasih uang seribu oleh anak itu. Anak itu anak yang baik lebih baik daripada monyet, lebih baik darpada kuda, lebih baik daripada kuntilanak, lebih baik daripada hantu.
Anak itu mencari tahu jam berapakah waktu itu, dia sepertinya takut kesiangan Jumatan. Di lihat ke arah jam dinding jam dindingnya mati. Dia baru ingat kalu dia punya hape, hape itu singkatan dari handphone. Di dalam hapenya ada penunjuk waktu. Waktunya lebih satu setengah jam dari waktu normal. Maksud anak itu adalah supaya ia bisa lebih modern setidaknya satu setengah jam dari orang lain. Benar-benar pikiran brilian untuk seorang anak yang otaknya pas-pasan.
Di kolong kasurlah tempat hape anak itu berada. Jamnya masih jam 11.30 artinya jam 10.00 waktu normal. Ada dua pesan masuk di hapenya.
Dua-duanya dari perempuan. Sepertinya dua-duanya sayang pada anak itu. Anak itu juga sayang pada dua-duanya. Dia baca SMS yang pertama. SMS dari orang yang sudah dengan rela mengandungnya dulu selama 9 bulan.
“Kang, kumaha kuliah lancar?”
Anak itu berbohong. Dia bilang kuliahnya lancar. Padahal yang ada malah sebaliknya. Kemarin dia baru diusir dosen dari ruang kuliah gara-gara ketahuan jarang masuk dan sering diabsenin sama temannya.
Anak itu bebohong untuk pertama kalinya pada hari itu. Dia merasa bersalah.
Setelah membalas SMS pertama ia baca SMS kedua.
“Sori Ke…smsnya baru dibaca,,,emang kamu kunaon?”
Anak itu (dia) ingat semalam dia kirim SMS, dia bermaksud curhat pada perempuan itu (ia) tapi ia tidak membalas semalam. Ternyata ia masih peduli, ia bukannya acuih tapi baru sempet baca SMS mungkin ia sedang sibuk ujian. Dia kemudian menekan tombol ‘options’ lalu ‘reply’.
Karena susunan tata bahasa anak itu di sms susah dimengerti orang normal saya terjemahkan saja kira-kira isinya seperti ini.
Anak itu bilang kalo dia baru bangun, baru sadar kalo dia semalam ngirim SMS, itu hanya basa-basi dari anak itu. Selanjutnya dia bilang kalo kemarin dia benar-benar kacau, di kampus diusir ama bapak dosen, terus warung tenda miliknya tergususur, terus pas mau futsal malah gak jadi. Dia juga tulis kalu tadinya dia mau curhat sama dua sahabatnya namanya Gema dan Blangkon. Tapi Si Gema sedang sibuk main game, Si Peri juga sibuk nonton Dragon Ball. Dia anak baik jadi dia gak mau ganggu temannya. Terus dia bilang malem sebelumnya dia tidur karena gak tahu mau curhat sama siapa. Pas awal-awal tidur dia bilang enak malah sampai ketemu sama Dian Sastro. Tapi Dian Sastronyan gak ngomong. Dia paksa Dian Sastronya biar ngomong, eh suara Dian Sastronya malah berubah jadi suara dosen yang siangnya ngusir dia. Tadinya dia mau pulang ke Tasikmalaya mau ke rumah ayah dan ibunya, tapi dia malu barusan dia berbohong sama ibunya, dia takut dikutuk jadi batu kaya Malin Kundang. Takut masuk pameran anak durhaka kayak malin Kundang.
Seperti itulah kira-kira informasi yang disampaikann anak itu dalam SMSnya. Beberapa saat kemudian hapenya bergetar. Dia pasang profil discreet jadi hanya bergetar tidak bersuara. Satu SMS lagi masuk. SMS dari ia. Ia menulis tiga buah sms yang berhubungan sepertinya hape ia berbeda dengan dia. Hape dia bisa nulis sms panjang sekali jalan hape ia tidak.
SMS dari ia tata bahasanya sama kacau dengan sms dari dia. Saya terpaksa permudah lagi supaya kamu enak membacanya. Begini isinya.
Perempuan itu alias ia menulis kalau cobaan itu ada supaya kita bisa jadi lebih kuat. Ia juga tulis kalau dia harus semangat. Ayo SEMANGAT!!! Mungkin ia sengaja kasih tanda seru tiga kali agar dia semangatnya berlipat ganda. Dia juga tulis kalau alasan bapak dosen mengkick dia dari kelas karena punya ketampanan melebihi bapak dosen. Ia juga menulis kalau dia itu sebenarnya pintar. Tak lupa ia juga minta timbal balik agar dia berdoa supaya ia dan dia sama-sama lancar kuliahnya, lancar rejekinya. Sepetinya ia belum lupa kalo dia mau traktir dia kalo ia udah selesai UTS. Ia juga tak lupa menyuruh dia untuk pergi jumatan.
Obladi-Oblada
Desmond has barrow in the market place
Molly is a singer in the band
Desmond says to Molly Girl I Like your face
And Mooly says as if she takes him by the hand
Obladi…oblada…life goes on bra….
Lalalala life goes on…..
Desmond takes a trolly to the jewelry stores
Buys a twenty carrats golden ring
Takes it back to Molly waiting at the door
And when he gives ito her she’s begin to sing
Obladi…oblada…life goes on bra….
Lalalala life goes on…..
In the couple of year they have build
A home sweet home
With the couple of kids running in the yard
Of Desmond and Molly Jones
Obladi…oblada…life goes on bra….
Lalalala life goes on…..
Happy ever after in the market place
Desmond let the children land the hand
Molly stays at home and does her pretty face
And in the evening she still singing inthe band
Obladi…oblada…life goes on bra….
Lalalala life goes on…..
The Beatles kembali menyanyikan Obladi Oblada, sebelumnya bernyanyi yellow Submarine sejenak. Dia tambah semangat dia masuk kamar mandi tidak hanya cuci muka kali ini dia mandi. Dia mau pergi ke masjid. Shalat Jumat lalu berdoa untuknya dan Ia.
Untuk ibu anak itu semoga ibu mau memaafkannya. Sekarang dia sedang berusaha berubah. Saya saksinya.
Untuk ia, dia jumat lalu berdoa supaya ujian kamu lancar. Dia juga mau tahu doanya manjur apa tidak. Saya saksinya.
Untuk kamu, tahukah kamu siapa dia?
Bandung, 21 Maret 2009


