Ini adalah sedikit cerita yang saya alami ketika main ke rumah teman saya. Nama teman saya Reza Adikhara Rozanie. Saya biasa panggil dia Eja supaya tidak kepanjangan saya memanggilnya. Sebelumnya saya boncengan naik motor ke rumah Eja.
Sebelumnya saya ada di kampus. Kuliah tentu saja. Mata kuliahnya kalo tidak salah Matematika Pensiun. Dosen yang tadi mengajar pun sepeertinya sudah mau pensiun. Namanya Pak Edi Johari. Seharusnya yang mengajar namanya Pak Endang. Tapi Pak Endang berhalangan, jadi untuk sementara Pak Edi menggantikannya.
Begitulah sekilas tentang kegiatan saya di kampus hari itu. Tidak perlu saya jelaskan secara mendetail kalau Pak Edi itu yang mukanya mirip onta, eh salah maksud saya mirip orang arab.
Tidak perlu jelaskan Pak Endang itu mirip Charlie Chaplin. Tidak akan saya bahas pula bagaimana pemahaman saya terhadap kuliah hari itu. Sebab kalo terlalu jauh saya takut tersesat. Saya malu kalau tersesat, saya malu untuk bertanya. Saya tahu kalau malu bertanya sesat di jalan kata guru Bahasa Indonesia saya waktu SMP.
Pastinya saya sudah berada di rumah Eja sekarang. Bukan sekarang tapi waktu itu. Rumah Eja yang berada di belakang Saung Udjo. Saung Udjo yang berada di Padasuka. Padasuka yang berada di dekat terminal Cicaheum. Terminal Cicaheum yang berada di Bandung, bukan yang di Etiopia. Bandung yang oleh-olehnya peuyeum bandung, bukan Etiopia yang oleh-olehnya Bakpia.
“Lihat itu ada perempuan cantik!”
Itu hati saya yang ngomong. Hati saya tidak pernah bohong. Hati saya baik hati tidak pernah membohongi majikannya. Perempuan cantik itu rambutnya sebahu. Warna rambutnya hitam sama seperti kamera yang sedang dibawanya. Kameranya bagus, sama bagusnya dengan rupa perempuan itu.
Pertanyaan hari itu. Siapa yang bahunya hitam?
a. Blangkon
b. Kamera
c. Kamera pake blangkon
Perempuan itu berlalu dari depan muka saya. Sesaat dia curi-curi pandang ke arah saya. Saya sudah sejak tadi curi-curi pandang ke arah dia. Dia curi hati saya. Saya balas curi hatinya. Kami sama-sama pencuri. Kami cocok saya rasa.
Eja sudah masuk ke dalam rumah. Saya ikut masuk. Di dalam rumah hati saya gundah gulana. Saya harus menangkap pencuri itu agar Si Gundah dan Si Gulana mau pergi.
“Ja, urang meuli roko heula ka hareup.”
Saya bilang saya mau beli rokok dulu ke depan. Padahal saya mau menangkap pencuri. Mau beli rokok juga. Saya orang baik. Saya tidak mau berbohong. Saya tidak mau teman saya cemas lantas ikut-ikutan tangkap pencuri.
Saya simpan tas saya di atas sofa. Tas punya Si Gema tepatnya. Saya berlari keci, takut pencurinya keburu kabur. Takut merasa bersalah karena gagal menangkap pencuri. Takut dianggap warga tidak bertanggung jawab. Takut Eja dicuri. Takut nanti Astri pacar Eja marah sama saya.
Wah, itu pencurinya masih terlihat. Rambutnya masih sebahu, masih bawa kamera. Pencurinya sedang jepret-sana-sini. Saya berjalan mendekat, lewat di belakangnya, beli rokok di warung yang sedang ia belakangi.
Saya beli rokok. Rokoknya sebungkus. Sebungkus ada 12 batang. Setiap satu batang mengandung 1,8 mili gram nikotin dan 32 mili gram TAR.
Pertanyaan nomor dua.
Rokok apa yang saya beli?
a. Malioboro
b. Kentucky Fried Chicken
c. Suntik Mati
Saya nyalakan rokok sebatang. Grogi saya sedikit hilang. Asal kamu tahu waktu itu saya sedikit grogi. Saya belum terbiasa berurusan dengan pencuri. Tapi setelah merokok grogi saya hilang. Saya sudah siap.
“Suka fotografi?”
Saya bertanya sambil merokok, sambil tersenyum, sambil deg degan. Sekali merengkuh dayung, rusak susu sebelanga. Begitu kata pepatah yang pernah saya dengar.
Pencuri itu mengangguk, tersenyum, tersipu, merah merona, tapi tetap diam. Diam adalah emas, emas adalah mahal. Begitu keadaan Si Pencuri jika saya analogikan. Singkatnya ia jual mahal.
“Saya juga suka,kok.”
Saya terpaksa saya berbohong demi menangkap pencuri. Padahal saya sama sekali gak ngerti fotografi, gak ngerti demografi, apalagi pornografi. Si Pencuri tetap saja diam, tetap mengabadikan lingkungan di sekitarnya, di sekitar saya, di sekitar rumah Eja. Mengabadikannya ke dalam gambar yang nantinya akan dinamakan foto.
Entah kenapa lingkungan rumah Eja tampak menarik bagi Si Pencuri. Padahal menurut saya sih standar-standar aja. Tapi kenapa Si Pencuri tampak begitu asing. Mungkin merasa asing karena tiba-tiba ada orang asing yang sudah tidak asing lagi ketampanannya.
Pertanyaan nomor 3.
Siapakah orang asing itu?
a. Saya
b. Saya sendiri
c. Saya yang sedang merokok
d. Semua jawaban benar
Wah , dia masih tetap diam. Tapi biar diam dia tetap seorang pencuri. Saya amati dia pelan-pelan dengan teliti. Saya terus siaga jangan-jangan di dalam kebisuannya, diam-diam dia baca mantra pelet. Untuk saya tentunya. Tapi saya tidak suka pelet, pelet itu untuk ikan. Saya lebih suka nasi pake ayam, pake telor juga, pake sayur saya juga suka, apalagi kalo ditambah sambel saya sangat suka.
“Tamu Udjo ya?!”
Udjo itu maksudnya bukan anggota salah satu vokal grup, tapi Saung Udjo.
“Kok tahu?” Sejenak ia berhenti jepret sana sininya. Bargaining power saya ternyata cukup kuat dia jadi turun harga sedikit.
Ah,akhirnya dia bicara. Suaranya terdengar enakeun.
“Ah, tahu aja. Itu, dari ID card di dada kamu.” Saya jawab sambil tersenyum, sambil mematikan rokok.
Biasanya saya tidak pernah pake istilah ‘kamu’ pada orang yang baru saya temui. Saya juga jarang pake istilah ‘dada’ pada perempuan, biasanya pake istilah apa ya? Oh iya pake istilah ‘itu’, kamu sendirin tahulah ‘itu’ itu apa.
“Oh…” mulut Si Pencuri membentuk huruf ‘O’ yang indah, tidak seperti huruf ‘O’ pada kata ‘TRIGONOMETRI’.
“Coba saya tahu kamu tamu Udjo, pasti saya jamu.”
“Wah, emang bisa?”
“Ya bisa atuh. Saya kan anak yang punya Saung Udjo.”
Aduh, saya bohong lagi. Tapi ini dalam rangka menjadi warga yang bertanggung jawab, ini dalam rangka menangkap pencuri. Si Pencuri tampak manggut-manggut, entah percaya atau tidak. Sampai sekarang saya tidak tahu.
Ada hape yang berbunyi. Hape itu singkatan dari handphone, asal kamu tahu itu. Lagu yang terdengar dari hape itu saya tidak suka, tapi saya sering dengar. Pasti bukan punya saya, punya saya hanya bisa berbunyi “kukuruyuk’ atau paling bagus “kekereyek”.
Si Pencuri mengangkat hapenya. Ia berbicang dengan Si Mahluk Gaib yang tidak kelihatan ada di sana.
“Iya sayang… aku balik bentar lagi.”
Itu adalah perkataan penutup Si Pencuri pada Si Mahluk gaib. Bukan kepada saya. Kalau kepada saya bunyinya seperti ini.
“Udah dulu ya, A. Saya ditunggu di saana. Nanti saya bilangin deh ke Pak Udjo saya ketemu sama anaknya di sini.”
“I guess her name is Tina because before I ever seen her I was lost dont know what your name…”
Saya bergumam melantunkan sebuah sair lagu. Kemudian saya mencoba menulis sebuah puisi(kalau memang bisa dsisebut puisi). Yang sampai sekarang tidak pernah saya kasih judul.
Siapakah namamu wahai pencuri?
Apakah benar namamu Tina?
Apakah namamu Chelsea?
Dian Sastro? Luna Maya? Monicca Belluci?
Lala? Lele?
Mira? Maya?
Atau Bambang?
Janganlah namamu Rina wahai pencuri
Nanti saya bingung mau traktir Rina yang mana
Janganlah kamu bilang-bilang juga sama orang-orang
Kalau sama monyet-monyet dan bekantan-bekantan boleh lah
Jangan kamu bilang saya ini anaknya Pak Udjo
Karena ayah saya namanya Nana
Bandung, awal tahun 2009


