Cinta datang secara tiba-tiba
Dan tiba-tiba saya mendatanginya
(Ansori Al Falseto)
Putra dan ketiga temannya berhasil kabur meninggalkan Unsil dengan susah payah lebih sulit daripada aksi Dominic Purcell dan Welthworth Miller dalam film Prison Break. Dengan aliran darah yang masih tinggi dan adrenalin yang masih melaju kencang keempatnya memarkirkan motor mereka di depan sebuah warung tenda. Perasaan lapar bercampur lelah membuat tenaga terkuras habis dan perut berteriak kencang, sementara mulut hanya bisa terdiam, ternganga saking lemasnya. Mereka mengambil tempat duduk di sebuah bangku panjang.
“Kamu sih, Pam?” ujar Arjuna akhirnya mulai bicara menyalahkan Pamri si biang kerok.
“Loh,kok saya?” Sanggah Pamari tampak tak mau disalahkan.
“Nya heeuh (Ya iyalah), siapa coba yang tadi mukanya gak kontrol pas di cafetaria?” Arjuna menyambit Pamri dengan tusuk gigi yang ada di atas meja, Pamri membalas. Putra yang secara tak kena sambit ikut meramaikan.
Kegiatan chaos tersebut, berlangsung sekitar lima menit, sebelum mereka sadar bahwa daritadi Ansori tidak terlihat bersuara (Ya iyalah gak keliatan suara kan didenger bukan dilihat). Ketiganya menoleh ke arah Ansori, mereka memperhatikannya tengah tertegun memandangi sesuatu. Diikuti arah pandangannya, ternyata tertuju tepat pada sosok cewek manis yang tengah membantu ayahnya melayani para pelanggan warung tenda tersebut.
“Woi, kanyahoan siah (ketauan ya)!” Putra menepuk pundak Ansori. Ansori mesem-mesem.
“Tanya dong!” Pamri menambahkan.
“Nanya apaan? Kenal aja enggak?”
“Apaan,kek! Terserah kamu, misalnya nomor celana dalam atau ‘hari ini pake kutang gak?’, atau to the point’69 atau mandi kucing?’ “ ujar Pamri mesum.
“Yang begituan mah gak usah ditanyain kali,Pam! Ntar yang ada kita dikejar-kejar security lagi,” Putra menimpali. Kini Putra mulai sadar alasan Pamri belum punya pacar hingga usianya yang nyaris dua puluh dua tahun ini, selain karena mukanya yang pas-pasan dan emang udah sulit dirubah, juga karena kecenderungannya berpikir tolol menjurus mesum yang sulit dihilangkan, mungkin akibat kebanyakan mengoleksi film bokep.
Cewek tersebut datang mendekati mereka, hendak menanyakan siapa tahu keempat cowok tolol tersebut sudah siap memesan. Dan kini dia berdiri tepat di depan Ansori.
”Punten, A…, mau pada pesen apa?” tanyanya sambil tersenyum menyerahkan daftar menu.
“Kamu…” jawab Ansori polos sambil terus memandangi cewek tersebut.
“Di sini gak ada makanan ‘kamu’, A…. Adanya nasi goreng special, terus dada ayam spesial, cah kangkung, dan lain-lain, tapi gak ada ‘kamu spesial’,A.” Ujarnya sambi masih berusaha tersenyum manis. Ansori makin terpesona,.
“Kalo dada ‘kamu’ spesial ada kan?!” Ansori makin ngelantur.
Wajah cewek itu memerah kayak saos tomat. Arjuna menyenggol lengan Ansori lalu merebut daftar pesanan dan daftar menu dari tangan Ansori.”Maaf, Teh temen saya emang rada autis, biar saya aja yang pesen.”
“Ya udah kalo udah siap buat pesen, panggil aja. Saya mau layanin yang lain dulu,” ujar cewek tersebut menuju pelanggan lain sambil tetap tersenyum.
“WOI, SOR! Kamu mau pesen apa?”
“Terserah kamu aja,” ujarnya kalem sambil terus melanjutkan terapi matanya.
“Sate aja ya, Sor?”
“Iyah!”
“Sate apaan,Sor?”
“Apa Ajah!” jawab Ansori sambil tidak melepaskan tatapannya pada cewek manis itu. Masih dengan pandangan penuh kebusukan bau lendir.
Arjuna menuliskan daftar pesanan mereka.
Ansori kembali ke dunia nyata. Berbarengan dengan itu mereka selesai dengan apa yang akan mereka pesan.
“Udah pesen nya,Jun?”
“Udah, nih!” Arjuna memberikan daftar pesanannya pada Ansori.
“Loh ini siapa yang pesen sate?” Dahi Ansori berkerut.
“Kan kamu tadi pesen sate.”
“Iya tapi bukan ‘sate bagong’,BAGONG!” Ansori ngamuk-ngamuk. Ketiga temannya terbahak-bahak sebahak-bahaknya.
”Terus kalo yang pesen ini siapa?”
”Kamu juga kamu kan biasanya minum jus.”
”Iya tapi masa iya jus jengkol?!” ujarnya jengkel.
Teman-temannya kembali terbahak-bahak sampai nyaris keluar dahak.
Ansori tengah duduk, menikmati angin sore yang bertiup sepoy-sepoy membuat suasana terasa sejuk, di samping kios rokok tepat yang bersebrangan dengan warung tenda, tempat dia dan tiga orang komplotan jomblonya makan semalam. Dia membeli sebungkus Djarum Super dan teh botol. Lima belas menit sudah dia terduduk di sana.
“Nuju ngantosan naon (Lagi nunggu apa), Cep?” tanya si pemilik kios.
“Ieu,nuju ngantosan (ini,lagi nunggu) warung itu buka.” Ansori menunjuk ke arah warung tenda di sebrangnya.
“Oh, warung Pak Asep Gumasep.”
“Jadi yang punya warung namanya Pak Asep Gumasep, Bu?”
“Muhun (iya),cep. Emang ada apah gitu?”
“Ah, henteu (enggak).” Ansori terdiam sejenak,”Kalo perempuan yang suka bantu-bantu di sana siapa ya, Bu?”
“Yang mana, yang tua apa yang muda?”
“Kalo yang tua namanya Mpok Darmi, kalo yang masih muda kira-kira seumuran dengan encep namanya Neng Ifah. Kalo dia mah anaknya Pak Asep, sekarang kuliah di Bandung.”
“Jadi namanya Ifah.” Ujar Ansori dalam hati.
“Kuliah di mana,Bu?” tanya Ansori pada sang pemilik kios.
“Katanya sih di Bandung di UPI sekarang tingkat dua.”
“Jadi dia mahasiswi UPI toh.” Ujar Ansori lagi dalam hati.
”Tos gaduheun kabogoh teu acan nya (udah punya pacar apa belum ya), Bu?”
“Siapa Mpok Darmi? Mpok Darmi mah putrana wae tos tilu atuh (anaknya aja udah tiga),Cep. Mending ama Ibu aja atuh baru cerei,” goda si pemilik kios sambil mengedipkan mata dengan genit. Ansori bergidik.
“Bukan Mpok Darmi, Neng Ifah?”
“Oh, Neng Ifah mah kayaknya belum.”
Ansori mengangguk, di seberangnya Pak Asep yang ditemani Ifah dan Mpok Darmi tengah bersiap-siap menyiapkan warung tenda tersebut. Ansori berpamitan dengan pemilik kios rokok. “Mangga (mari), Bu! Udah pada datang kayaknya mah.”
“Iyah,cep! Kalo ditolak ama Neng Ifah warumg ibu tetep di sini kok.”
Pemilik kios tersenyum genit. Ansori nyaris muntah.
“Hai,Ifah!” Ansori mecolek bahu Ifah sambil tesenyum. Ifah menoleh,”Eh, Si Aa yang semalem pesen ’kamu’ ama ‘sate bagong’ ya? Maaf,A…! Kalo mau pesen makan kita masih siap-siap, terus kalo ‘kamu’ ama ’sate bagong’ kayaknya masih belom ada,” lLedek Ifah
Ansori manyun, kemudian tersenyum lebar. Ifah balas tersenyum sambil membereskan tempat tersebut.
“Fah,boleh bantu gak?” tanya Ansori. Ifah mengangguk sebagai tanda setuju.
Kini keduanya hanya terpisahkan oleh meja yang sedang mereka bereskan. Namun baik Ansori maupun Ifah tampak belum mau membuka mulut. Keduanya sibuk memperhatikan satu sama lain, saling menunggu untuk bicara. Ifah memakai kemeja tangan pendek kotak-kotak gombrong yang ujungnya lengannya dilipat dan kaos garis-garis didalamnya, dipadukan gengan celana jeans yang warnanya agak belel. Nampak sangat serasi dengan rambut pendek dan wajahnya yang tanpa make-up. Ifah memang terlihat sangat manis sore itu. Berbeda tiga ratus enam puluh derajat dengan Ansori yang hanya memakai celana kolor seragam tim sepakbola jurusannya dan baju panitia tujuh belasan tiga tahun lalu yang sudah rada belel, plus topi bertuliskan ‘JAGALAH KEBERSIHAN KOTA BANDUNG ‘. Ansori memang tiba-tiba saja ingin bertemu dengan cewek yang semaleman tadi terus mondar-mandir di pikirannya, sehingga ia yang biasanya rapi namun sporty jadi demikian. Hanya kolor sepakbolanya saja yang mencerminkan ke-spoty-annya.
“Fah, di UPI ngambil jurusan apa?” Ansori mulai bicara kembali.
“Kok kamu tau aku kuliah di UPI, pasti kamu sewa detektif Sherlock Holmes ya?” ujar Ifah. Ansori menggeleng. “Ah, aku tau, kamu pasti minta bantuan Ki Joko Bodo pake ‘REG WETON’ ,iya kan?!”
Ifah terkakak begitu juga Ansori. Pak Asep menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. Diam-diam Pak Asep senang melihat tawa anaknya yang sangat jarang tertawa sejak istrinya meninggal.
“Fah, ternyata kamu cantik-cantik konslet juga ya?! Aku serius nih kamu ngambil jurusan apa?” tanya Ansori lagi masih dengan sisa-sisa tawanya.
“Aku juga serius. Kamu tau nama aku ama kampus aku dari mana? Jangan-jangan kamu dukun.”
Ifah gak kalah serius. Ansori mengalah, lalu menunjuk ke arah kios rokok di sebrang jalan.
“Oh.”
Ifah ber’oh’ pelan.”Aku ngambil akuntansi. Kalo kamu kuliah juga kan?”
Ansori mengangguk.
”Di Matematika Unpad sekarang mau masuk semester tujuh.”
“Siapa?”
“Aku.”
“Yang nanya.” Ifah terkikik. Jebakannya tepat sasaran. Ansori keki tapi senang.
“Tuh benerkan kamu tuh cantik-cantik konslet.” ujar Ansori sambil tersenyum.
Ifah masih terkikik.”Eh,kalo nama kamu siapa? Masa kamu doang yang tau nama aku, aku gak tau nama kamu.”
“Siapa?”
“Kamu”
“Yang nanya.” Kali ini giliran Ifah yang manyun, bibirnya terlihat makin seksi.
“Serius,ihhhh!” Ifah mencubit perut Ansori.
“Iya iya, nama aku Ansori Al-Falseto.” ujarnya sambil berusaha melepas cubitan Ifah.
“Kamu turunan Arab-Itali?” tanya Ifah penasaran
“Bukan.”
“Pantes.”
“Pantes kenapa?”
“Pantes jelek , orang Itali kan cakep-cakep.”
Kali ini Ansori manyun lagi. Ifah terkikik. Pak Asep dan Mpok Darmi yang tak sengaja ikut mendengar ikut-ikutan.
“Bercanda,Sor. Gitu ajah manyun. Udah jelek tambah jelek loh” ledeknya lagi.
“Tuh kan? Gitu lagi.” Ansori masih manyun.
“Maap deh maap, bercanda…” Ifah merajuk manja. Ansori luluh juga hatinya.
Akhirnya warung tenda itu siap untuk beraksi. Ansori enggan meninggalkan tempat tersebut. “Fah, aku bantu-bantu disini aja yah? Gak usah dibayar pake uang kok, pake senyum kamu juga udah cukup.” Ujarnya gombal.
Ifah tersipu malu bercampur senang. Ia melirik ke arah Pak Asep. Pak Asep mengaangguk. Ansori meloncat kegirangan sambil berjoget disko ala John Travolta. Ifah, Pak Asep, dan Mpok Darmi tertawa geli melihat tingkah Ansori yang norak itu.
Ansori pun mengakhiri hari itu dengan menjadi pelayan warung tenda dadakan dengan hepi. Kemudian di tengah perjalanan pulang tidak lupa ia bersyukur dengan sungguh-sungguh, maksudnya sungguh-sungguh norak sambil sedikit berpuisi dalam hati.
“Cinta itu datang tiba-tiba dan tiba-tiba saya datang mendatanginya.Thanks God! Akhirnya hambaMu yang tampan ini menemukan orang yang bisa menerima ketampanan hamba.”



Tah ieu carita saha cing…..
Thanks for the inspiration buat barudak sadayana
Wah asyik nih ketemu sesama orang Tasik di blog. Thanks ya udah baca TIKIL. mana dong reviewnya. hehehe
Di gagasmedia waktu tunggunya hampir sama dengan penerbit lain, yaitu 3 bulan. tapi untuk TIKIL, kebetulan agak lama nih, 6 bulan! Mudah-mudahan naskahnya lolos ya … (eh, saha nami teh? hehehe)
ketemu Adjie Massaid? waaaah .. beluuuuum … itu sih demi kepentingan cerita aja. Hahaha