Orang Bodoh di Bulan November

Hujan mengguyur deras kota Bandung pada awal desember itu, guyuran air dari langit bercampur dengan udara dingin siap menusuk ke setiap sendi-sendi tubuh membuat siapapun enggan untuk melaksanakan aktifitas di luar ruangan pada hari itu. Belum lagi jika ditambah dengan jalanan kota Bandung yang sudah pasti becek dan gak ada ojek (hehe…, Cinta Laura banget gak sih?) akibat buruknya sistem pembuangan air di kota itu sehingga membuat tukang ojek pun enggan beroperasi. Aku dan sahabat satu kontrakanku Jek alias Jake alias Jaya Kelana tengah duduk meringkuk di dalam kamar berukuran 4×4 sama dengan enam belas dengan ditemani sebungkus rokok dan dua cangkir kopi susu untuk kami berdua.

Hari itu kami berdua sama-sama enggan untuk meninggalkan kamar untuk melihat dunia luar, bahkan pintu dan jendela kamar kosan kami pun kami biarkan tertutup dari dunia luar. Mungkin jika dilihat dengan rada teliti kamar kami berdua ini memang tidak pantas untuk dilihat oleh dunia luar, bagaimana pantas, jika di dalam dua orang mahasiswa yang memasuki tahun keempat kuliahnya tidak ditemukan satu pun diktat kuliah, ataupun buku-buku lain yang layak dibaca oleh dunia ilmu pengetahuan. Alih-alih diktat kuliah, kamar kami malah banyak diisi oleh buku-buku komik, majalah-majalah musik dari mulai ‘Rolling Stones’ sampe ‘Chords’, ditambah lagi majalah-majalah seperti FHM, Playboy, juga Popular yang melengkapi koleksi bacaan kami berdua, selain tentunya buku-buku bacaan lain bergenre novel ataupun roman yang agak mendingan. Sementara itu seperangkat komputer yang semulanya berfungsi sebagai alat Bantu mengerjakan tugas kuliah telah beralih fungsi menjadi alat pemuas nafsu menonton fil biru, ataupun film kartun Naruto, dan juga dengan tambahan’ TV Tunner’ telah berubah fungsi menjadi layar televisi.

Kami berdua memang bukanlah mahasiswa-mahasiswa yang pintar dalam ilmu hitung dan sains meskipun anehnya justru kedua bidang itulah yang tengah kami geluti demi gelar sarjana. Aku mengambil Matematika, sementara Jek mengambil Tehnik Mesin sebagai pilihannya. Pilihan yang membuat kami berdua seolah menjadi kaum terbuang di kampus kami masing-masing, kami berdua sama sekali tidak pernah nyambung bial membicarakan urusan keilmuwan dengan para mahasiswa lain di kampus. Bahkan sampe semester tiga, kami tidak mengetahui bahwa Albert Einstein itu seorang ilmuwan jenius, kami mengira bahwa Albert Einstein itu adalah seorang musisi, lebih parahnya lagi kami sepakat mendaulat Albert Einstein itu mentornya Roberth Smith vokalis The Cure, dengan alasan model rambut keduanya yang sama dan sebangun.

Kami berdua memang lebih cocok bergelut di bidang seni, sementara aku tertari pada dunia kepenulisan, Jek sangat tertarik untuk menjadi musisi. Alasan kami berdua ingin bergelut di bidang seni sebenernya sangat sedehana, kami tertarik untuk menjadi pekerja seni karena kami beranggapan bahwa seni itu sesuatu yang mudah dipahami tanpa harus belajar apapun, kita tidak perlu sekolah seni untuk menjadi seniman, kita hanya perlu mencintai seni itu sendiri, dan manusia itu merupakan seni tersendiri yang Tuhan cipatakan sebagai pelengkap jagat raya, dan bukan merupakan seonggok daging dengan rumus Fx = Dx yang aku sendiri tidak pahami maknanya.

Selain karena kesamaan nasib sebagai mahasiswa salah jurusan, ada hal lain yang membuat aku dan Jek sngat kental bersahabat. Tentu saja bukan karena kita sama-sama jomblo, apalagi sama-sama homo, karena jelas-jelas kami lenih memilih indehoy bareng Sora Aoi atau Maria Ozawa ketimbang Takeshi Kaneshiro. Hal yang membuat kami bias bersahabat dengan kentalnya melebihi kekentalan susu kental manis Cap Enak adalah karena biarpun bodoh, kami berdua benci pembodohan. Tidak seperti orang-orang dengan tingkat intelejensia tinggi atau disingkat pintar yang masih suka pembodohan, atau lebih parahnya lagi sering melakukan tindakan pembodohan. Hal itulah yang membuat persahabatan kami sangat kental seperti Romeo dan Juliet, Samson dan Delilah, Romi dan Yuli, Galih dan Ratna.(Loh kok gak nyambung ya itu mah kan pasangan kekasih, tapi gak apa-apa maklum tingkat intelejensiaku rada goblok jadi mohon tafsirkan sendiri seperti apa kentalnya persahabatan kami)

“Bosen nih,Jek,” seruku kepada Jek yang sedang asik bermesraan dengan rokok dan kopi susunya.

“Bosen kenapa lo, Des?” Tanya Jek.

“Tuh!” Aku menunjuk ke arah layar komputer kami yang telah beralih fungsi menjadi layar televisi.

“Oh,” ujarnya pelan sambil tetap menghembuskan asap rokok ke udara,”ganti aja pake LCD.” Jek tampak cengegesan dengan muka bodohnya itu.

“Bukan itu, tolol!” Aku melemparkan bantal ke arah Jek. Jek menghindar dengan cekatan kemudian tertawa mengejek.

“Terus apaan?”

“Gua bosen ama acara yang ditayangin para tv-tv kdi negara kita ini, Jek.”

“Ya udah kalo gitu kita pasang tv kabel aja, biar bisa dapet chanel luar.” Jek masih saja terus menggodaku dengan candaan-candaan yang gak mutu.

Aku malas menanggapi candaan Jek Entah karena hujan atau karena kiamat sudah dekat, yang jelas pagi itu aku kehilangan selera humorku yang biasanya menggebu-gebu.

“Ah, lo Des, gitu aja pundung,” ujar Jek diiringi lemparam bantal ke mukaku.

“Lagian elo, Jek, diajak ngomong serius dikit malah bercanda mulu,” aku kesal dengan Jek yang selain tidak menanggapi kekesalanku, juga berhasil mendaratkan bantal ke mukaku. Jek tampak tertawa ngakak, heran dengan keanehan sobatnya.

“Desmon,Desmon, sejak kapan lo serius? Bisa kiamat nih entar siang kalo mahasiswa bego kayak lo serius,” candanya disela-sela tawa yang masih keluar dari mulutnya yang bau belum gosok gigi.

“Sejak lo mendaratkan bantal di muka gua yang ganteng maut ini,” ujarku galak sambil kemudian menyalakan rokok.

“HAHAHAHAHA!”

Tawa jek malah semakin menjadi-jadi. Aku jadi males ngomong serius dengan mahluk Tuhan yang satu ini.

“Udah deh,Des! Langsung pada pokok permasalahan aja, emang ada apa sih dengan acara tv kita?”

“Masa lo gak ngerasa sih, Jek?!”

“Ngerasa apa? Dingin?!” katanya.

“Itu mah gak usah dibilangin juga gua udah dingin, di luar ujan gede banget.”kataku dengan kesal,”maksud gue masa lo gak ngerasa dibodohin ama acara-acara yang ditampilin ama tuh stasiun tv,” tambahku dengan nada bicara sok intelek.

“Maksud lo apaan,Desmon?!”

Kali ini giliran Jek yang kesal dengan pembicaraanku yang rada berbelit-belit. Jek tampaknya belum mengerti dengan arah pembicaraanku, maklum meskipun Jek benci sama yang namanya pembodohan, tapi Jek terlalu bodoh untuk menyadarinya. Begitu juga denganku yang baru menyadarinya pagi ini setelah sekian lama dibodohi.

“Maksud gue, masa lo gak nyadar sih kalo selama ini acara tv yang ampir tiap hari kita lihat isinya cuman acara-acara yang buat orang bego makin bego dan orang pinter ikutan bego,” kataku lantang.

Jek tampak makin bingung, namun kali ini tampak ada sedikit usaha untuk mencerna ucapanku, buktinya jidat Jek tampak makin berkerut. Sebatang rokok sudah habis menunggu Jek berpikir, aku nyalakan batangan rokok berikutnya.

“Gimana, Jek? Paham maksud gue?”

Jek, tidak menjawab. Namun gelengan kepala dan raut mukanya yang bertambah bego sampe stadium tiga cukup untuk menjawab pertanyaanku.

“Maksud gue gini, Jek.” Kali ini aku memperlambat ucapanku.

“Coba lo liatin deh acara-acara yabg ditampilin di tv-tv! Semuanya sama ja isinya gak bermutu.” Kataku dengan semagat menggebu-gebu ala Bung Karno saat berorasi (Gila sok kenal banget gue, orang liat Bung karno orasi aja belom pernah).

“Gak bermutu gimana maksud lo?”

“Coba aja lo liat acara yang ada isinya palingan cuman gosip selebriti kalo enggak sinetron-sinetron gak jelas yang isinya cuman ngejual mimpi yang bisa bikin bangsa ini jadi bangsa pemimpi yang puas hidup dibuai oleh mimpi-mimpi seperti yang ditawarkan sinetron-sinetron itu,”tambahku lagi dilengkapi dengan gaya bahasa sok puitis dan rada norak.

“Kalo pun ada acara yang rada bagus dan berbobot, paling ditayanginnya di jam-jam yang gak banyak orang duduk bengong nonton tv,” tambahku lagi.

Kali ini nampaknya Jek mulai paham dengan arah pembicaraanku.

“Bener juga lo, Des,” responnya,”Masa Liga Champion ditayanginnya dini hari banget kan tiu jamnya orang tidur.”

Mau tidak mau aku tersenyum menanggapi ucapan tolol Jek yang ternyata belum paham juga kemana arah pembicaraanku.

“Maksud gue bukan itu, Jaya Kelana,” kali ini aku memanggil Jek dengan nama lahir pemberian orang tuanya,”kalo Liga Champion ditayangin dini hari sih emang udah seharusnya orang jam kita ama jam eropa beda, kok. Maksud gue sekarang ini stasiun-stasiun tv tuh pada belomba-lomba buat cari duit dengan cara membodohi kita-kita ini selaku konsumen dengan acara-acara infotainment yang sebagian besar beritanya isinya cuman masalah perceraian atau enggak Si Ini jadian ama Si Ini atau enggak Si A homo lah, atau Si B selingkuh ama pejabat, dan berita-berita lain yang kalo dipikir-pikir gak ada gunanya buat kita.”

Jek manggut-manggut.

“Iya yah, apa gunanya coba buat kita ngeliatin urusan-urusan kayak gitu.”

“Benerkan?! Gak ada gunanya sama sekali, belum lagi kalo ditambah sinetron-sinetron gak jelas yang temanya gak jauh-jauh dari mertua sadis atau ibu tiri yang galak, kalo gak itu paling temanya anak sekolah hamil di luar nikah, atau yang paling mending adaptasi dari drama Korea kalo enggak Jepang.”

“Bener banget tuh, Des. Pantes aja sekarang banyak anak-anak ingusan yang udah berani-berani cabul sampe nekat gituan, padahal jaman-jaman kita kecil dulu senakal-nakalnya paling cuman nyingkapin rok cewek atau ngintip pake kaca serutan,hehe..” kata Jek sambil terkikik.

“Bener tuh, Jek. Jaman dulu mana berani anak kecil gituan, soalnya jaman dulu tuh teknologi media gak secanggih sekarang, mana kenal kita dulu ama situs-situs porno yang ada diinternet, orang gua baru ngenal ama yang namanya komputer aja pas SMA, itu juga gak paham-paham amat.”kataku sambil mematikan rokokku yang tinggal puntung, kemudian menyalakan yang baru. Pembicaraan kami tampaknya makin seru dan mengalir.

“Jadi sebaiknya kita gimana ya,Des?” tanya Jek.

“Gak tau juga gua , Jek.” Jawabku singkat.

“Apa mungkin kita harus punya stasiun tv sendiri yang isinya Indonesia banget,”usul Jek.

“Maksud lo?”

“Maksud gue kita beli aja tuh semua stasiun tv di Indonesia, terus kita ganti acaranya pake yang Indonesia banget, yang sopan dan tau adat, kalo pun ada yang harus diambil dari luar kita ambil yang manfaat aja kayak siaran olahraga atau musik, soalnya jujur gua lebih seneng dengerin Nirvana daripada Trio Macan,” ujar jek dengan mata berbinar-binar, seolah bangga akan ide jeniusnya itu.

“Jenius banget ide lo, Jek. Cuman masih ada yang kuran, Jek,” kataku.

“Kurang apaan?”

“Kurang duit bego! Emang lo kira beli stasiun tv gak pake duit?”

Aku tertawa terbahak-bahak, Jek ikut-ikutan.

“Nyesel gua jadi orang bodoh, Des,”ujar Jek lirih setelah tawa kami reda.”Coba gua jadi orang pinter pasti gua bisa ngerobah keadaan, biar gak kaya sekarang ini.”

“Sama gua juga, Jek. Kenapa kita gak nyadar dari dulu-dulu ya.”

Hening.

“Ya udah deh, Jek! Daripada bengong ntar tambah bego mendingan kita matiin tvnya,terus…”ujarku tertahan.
“Terus apaan, Des? Terus kita ngerampok bank buat beli stasiun tv?” Otak kriminal Jek tiba-tiba muncul.

“Terus kita main PS2 goblok, daripada nonton gosip,” ujarku kemudian disambut hangat oleh Jek yang segera mengeluarkan mesin PS2 dari lemari.

“Terus masalah stasiun tv gimana, Des?” tanya Jek disela-sela serunya pertandingan Winning Eleven antara AC Milan melawan Manchester United.

“Yah itu mah kita serahi aja ama orang-orang ointer yang berkeliaran di luar sana, masa sih gak ada yang peduli. Kita yang goblok aja peduli, iya gak?!”

Jek kembali mengamini.

“GOL!!!’ teriakku girang ketika Kaka menjebol gawang Van de Sar.

Kami berdua pun semakin larut dengan keasyikan Winning Eleven yang sebenarnya sama dengan acara-acara tv yang hanya membuat kita jadi malas dan bodoh. Kami berdua memang hanya orang bodoh yang tidak ditakdirkan untuk merubah negri ini.Hujan pun semakin deras mengguyur seolah-olah menangisi kebodohan bangsa ini.

Published in: on December 18, 2008 at 4:30 am  Comments (3)  

The URI to TrackBack this entry is: http://roadtoruins.wordpress.com/2008/12/18/orang-bodoh-di-bulan-november/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 CommentsLeave a comment

  1. wew siah, Ke
    Kamu emang orang bodoh di bulan november ,komo pas tanggal 21

  2. Ck..ck..oh Temon sama Afdel tuh tadnya satu kostan…eh Desmon sam Jek ya ini mah…hihihi

  3. wah wah mnggih ngaran desmond jeung jek timana euy


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.